Mengerti “Tuhan Sudah Mati”


“Katanya, kalau Tuhan sudah mati, para pemuka agama nggak ada kerjaan. Tapi gimana kalau matinya nggak ketahuan?”

Kalimat tersebut dipasang di dua akun jejaring sosial milik saya kemarin. Membicarakan tentang Tuhan di forum tertentu kadang memang merupakan sesuatu yang terlalu ekstrim dan menimbulkan banyak protes. Hemat saya, sebabnya adalah karena setiap orang yang membaca memiliki pemahaman berbeda terhadap kalimat tersebut. Dan yang harus dilakukan adalah penyeragaman paham. Mari kita bahas…

Kata pertama, “Katanya”, dalam kalimat tersebut merupakan orientasi pada sesuatu yang pernah dikatakan orang lain. Kata “Katanya” sama penggunaannya seperti dalam kalimat, “ Katanya, buku itu harganya mahal.” Kalimat contoh itu berarti bahwa ada yang pernah mengatakan bahwa buku yang dimaksud mahal harganya. Begitu juga dengan kalimat yang saya buat. “Tuhan sudah mati” atau dalam bahasa Jerman “Gott ist tot” adalah kalimat yang pernah ditulis Friedrich Nietzsche melalui mulut seorang gila dalam bukunya, Die fröhliche Wissenschaft. Berikut kutipannya:
“ Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?”
Jika sudah membaca satu paragraf, atau bahkan satu buku secara lengkap, saya yakin banyak orang akan memperbaiki anggapannya tentang kematian Tuhan secara harfiah. Jika dibutuhkan, silahkan baca di website Wikipedia mengenai kalimat tersebut. Bahkan di website semacam Wikipedia pun, kalimat tersebut diulas dengan cukup lengkap dan objektif. Saya menganggap penulisnya cukup mengerti dan mau bekerja keras untuk mencari.

Yang ingin saya katakan adalah, bagian pertama dari kalimat yang saya buat itu merupakan pengulangan terhadap kalimat yang pernah ditulis Nietzsche. Saya kira itu bukan suatu masalah.

Kata “Kalau” yang terdapat di kalimat itu bisa bermakna dua hal, atau bahkan lebih. Yang saya maksud dalam kalimat di akun jejaring sosial milik saya adalah kata “Kalau” sebagai penyangkalan sekaligus penegasan. Itu sama seperti kalimat “Kalau kucing bertelur, berarti kucing itu unggas dong.” Nyatanya, kucing adalah mamalia. Kucing tidak bertelur, tapi melahirkan. Kata “Kalau” dalam kalimat contoh seolah-olah menanggapi pernyataan “Kucing itu bertelur.” Bagi saya, kata tersebut fungsinya adalah penyangkalan pernyataan yang pernah diucapkan sebelumnya. Penegasan yang saya maksud adalah dalam kalimat tersebut, terdapat usaha-usaha menegaskan argumen yang menyangkal.

Kembali ke kalimat utama. Saat menulis kalimat tersebut, saya memposisikan diri sebagai individu yang mengartikan kalimat “Tuhan sudah mati” secara harfiah. Jadi, logikanya, Kematian Tuhan, yang lalu menimbulkan kematian pada agama, akan membuat para pemuka agama tidak lagi memiliki pegangan. Jadi, sebetulnya kata-kata “…para pemuka agama nggak ada kerjaan…” itu tidak salah. Hanya, kurang tepat, karena memang saya sengaja membuatnya menjadi sangat verbal.

“Tapi gimana kalau matinya nggak ketahuan?” Saya tidak menyanggah jika dikatakan memanusiakan Tuhan. Karena memang itu yang terjadi pada keseluruhan kalimat tersebut. Sekali lagi, saya memposisikan diri sebagai individu yang punya pengertian harfiah dan verbal tentang “Tuhan sudah mati.”

(take a breath deeply) Jadi intinya, kalimat tersebut saya buat sebagai sindiran.
(scream) Oooyy, that was a joke!
(-_-)”

Advertisements

2 thoughts on “Mengerti “Tuhan Sudah Mati”

  1. Ra, anjing peliharaan kalo mati juga suka nggak ketauan, lho. Mereka selalu sembunyi di satu tempat terus mati aja.

    Nggak tau komentar ini nyambung apa enggak. Tapi pas baca posting kamu, Tante Dea keingetnya itu. Anyway, dogs are people’s best friend.

  2. hmm … km gak bermaksud untuk mengatakan kalimat yang kau cetak tebal itu, kan? hanya ingin mengurai bagaimana cara menyikapi kalimat itu secara logis kan? (setidaknya itu yg kutangkep)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s