Etimologi dan Terminologi 2: Neo Problem Maker yang “Menghasilkan”


Dalam tulisan saya yang berjudul “Etimologi dan Terminologi” beberapa waktu lalu, saya melontarkan ketidaksetujuan terhadap sebuah tulisan seorang kawan yang menolak melakukan identifikasi menggunakan apa yang disebutnya sebagai etimologi dan terminologi dalam pemecahan suatu masalah. Dalam pengamatan dan pengalaman yang (berusaha) semakin melangit, ternyata saya menemukan kebenaran dalam pernyataan yang menolak etimologi dan terminologi sebagai problem solver itu. Lebih tepatnya, penulis menggolongkannya sebagai neo problem maker. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya tidak setuju terhadap argumen tersebut. Fokus saya pada waktu itu adalah kemungkinan hilangnya satu atau banyak hal yang substansial tentang kata atau frase tertentu. Tapi kemudian saya menyadari hal lain, yang akhirnya membuat saya setuju bahwa mempermasalahkan etimologi dan terminologi juga dapat membuat masalah-masalah baru.

Dalam kuliah logika saya hari ini, salah seorang kawan bertanya mengenai apa yang menyebabkan debat kusir terjadi. Debat kusir dalam hal ini dapat saya artikan sebagai pelontaran dan penyanggahan argumen berkelanjutan mengenai suatu masalah dalam suatu forum. Romo Widyarsono, dosen logika saya berpendapat bahwa alasan terjadinya “debat kusir” adalah belum ditemukannya satu kesepakatan mengenai pengertian dari subjek masalah tersebut. Misal, saat membicarakan masalah kediktatoran, individu-individu yang berdebat mungkin saja memahami kediktatoran sebagai sesuatu yang berbeda. Saya setuju dengan Romo Widy. Alasan tersebut, mungkin terlihat sederhana. Tapi, juga sangat mendasar karena hubungannya yang erat dengan etimologi dan terminologi.

Dalam debat kusir, perbedaan paham mengenai subjek atau yang saya sebut sebagai perdebatan etimologis, menghasilkan banyak masalah baru. Peran sebagai neo problem maker terbukti. Tapi lagi-lagi terdapat masalah tentang pengertian suatu kata yang meluas. Problem, atau dalam bahasa Indonesia berarti masalah, dapat berarti positif, juga negatif. Neo problem atau masalah baru yang saya maksud adalah masalah-masalah yang menimbulkan efek positif. Berbeda dengan artikel mengenai subjektivitas milik kawan saya itu.

Anggapan tentang masalah positif datang dari kemungkinan masalah-masalah tersebut menghasilkan sesuatu yang baru (selanjutnya saya sebut new comer). Mungkin saja new comer itu akan berbentuk sesuatu yang positif, tapi segala macam masalah, bagi saya, akan mendewasakan. Kedewasaan tersebut saya terjemahkan ke dalam sebuah kata dalam bahasa Inggris yaitu Maturity. Maturity secara psikologis berarti “The state existing when somatic, psychic and mental differentiation and integration are complete and consolidated, and when there is readiness to fulfill tasks facing the individual at any given time and to cope with the demands made by life…” Dalam sumber lain yang berbahasa Indonesia, pengertian Maturity adalah:
“Kematangan pribadi, sering disebut emotional maturity, atau kedewasaan dengan ciri-ciri pokok, menurut J.E. Anderson: pertama, berorientasi pada tugas, tidak condong pada perasaan diri sendiri; kedua, tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan kerja efisien, tahu yang pantas yang tidak, bekerja secara terbimbing; ketiga, pengendalian perasaan pribadi, tidak mementingkan perasaan sendiri, mempertimbangkan pula perasaan orang lain; keempat, memiliki keobjektifan, bersesuaian dengan kenyataan; kelima, menerima kritik dan saran; keenam, bertanggung jawab terhadap usaha pribadi; dan penyesuaian yang realistis terhadap situasi baru.”

Masalah membuat berbagai macam efek muncul, salahsatunya adalah kedewasaan. Merujuk pengertian dari sumber yang saya cantumkan di atas, saya simpulkan bahwa kedewasaan merupakan new comer yang positif.

Kesimpulan
Kesetujuan saya terhadap pernyataan bahwa etimologi dan terminologi merupakan neo problem maker terjawab sudah. Dari pernyataan mengenai neo problem maker telah timbul masalah lain. Problem atau masalah tersebut masih mengandung makna yang sangat luas. Saya mengidentifikasi masalah tersebut sebagai sesuatu yang positif. Masalah dalam pandangan saya bisa menghasilkan kedewasaan. Nah, kedewasaan inilah yang akhirnya saya sebut sebagai new comer positif.

Menghasilkan atau tidak, tetap saja, pengabaian bagi saya adalah hal yang negatif dan sangat pesimistik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s