Butterfly


Di satu masa, tersebutlah suatu negeri yang seluruh penduduknya tidak pernah tumbuh dewasa dan bisa menyihir. Mayora namanya. Seabad lalu, waktu masih ada orang dewasa di situ, pemimpin Negeri Mayora yang bernama Raja Momo didatangi puluhan penyihir dari negeri seberang. Para penyihir tersebut melaksanakan titah pangerannya yang dendam terhadap Raja Momo. Betapa tidak, beberapa saat sebelumnya, Raja Momo telah menculik permaisuri negeri seberang yang luar biasa cantik dan pandai membuat kerajinan tangan. Raja Momo mempergunakannya sebagai alat untuk melatih para wanita di Negeri Mayora untuk membuat kerajinan tangan yang akhirnya dijual ke seluruh penjuru dunia. Para penyihir dari negeri seberang lalu mengumpulkan kekuatan mereka untuk membuat seluruh penduduk Negeri Mayora tidak pernah beranjak dewasa. Para anak-anak dibiarkan tidak tumbuh sedetik pun, begitu juga dengan penduduk yang sudah dewasa dan tua. Mereka dikembalikan lagi ke masa muda mereka, saat mereka masih berumur sepuluh tahun. Tapi ternyata, kekuatan yang disatukan para penyihir berefek positif! Seluruh penduduk Negeri Mayora jadi memiliki ilmu sihir. Apa jadinya ya, jika anak-anak berumur sepuluh tahun memiliki kekuatan sihir?

Kupu, seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun sedang berdiri mematung di depan pintu rumah salah seorang sahabatnya. Dia sedang memikirkan sesuatu. Besok akan diadakan pertandingan berenang di danau pinggir kota. Kupu berniat untuk mendaftar dan mengajak sahabat yang akan didatanginya itu. Tapi Kupu khawatir karena temannya yang bernama Bubu adalah anak yang pandai berenang sekaligus licik. Kupu takut dia akan dikalahkan. Belum sempat Kupu selesai berpikir, pintu rumah Bubu terbuka,
“Kupu! Kamukah itu? Ada apa datang sesore ini?”
“Ehmmm… Begini, Bu. Besok, akan ada pertandingan berenang di…” Belum selesai Kupu menjelaskan, Bubu sudah terlonjak dan setengah berteriak,
“Oh ya! Aku sudah mendengarnya. Kamu mau ikut?”
“Oh kamu sudah tau. Tadinya aku mau mengajakmu. Iya, aku akan mencoba ikut.” Ujar Kupu. Seketika wajah Bubu berubah. Ternyata Bubu juga khawatir. Dia menganggap Kupu sangat pandai berenang. Bubu diam sejenak. Wajahnya tampak berpikir.
“Oh, Kupu. Aku sangat bersemangat! Mari masuk. Kue mentega buatanku baru saja diangkat dari oven. Mau mencicipi?”
“Sebenarnya sudah sangat sore, Bu…”
“Ayolaaah…” Kata Bubu memaksa. Akhirnya Kupu masuk ke rumah Bubu. Dia duduk di meja makan persegi yang penuh dengan loyang kue mentega. Wanginya membuat Kupu lapar.
“Silahkan dimakan, Kupu. Itu bukan hanya untuk dipandangi.”
“Eh, boleh ya… Aku lapar sekali.” Bubu hanya mengangguk. Dia memperhatikan Kupu yang mengambil satu demi satu kue mentega dan melahapnya. Bubu tiba-tiba punya ide. Sifat liciknya kambuh.
“Ambil saja yang banyak, Kupu. Aku bisa membuatnya lagi lain waktu.” Kata Bubu. Kupu hanya membalas dengan anggukan. Mulutnya sibuk mengunyah kue. Kelezatan kue mentega buatan Bubu belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Diam-diam, Bubu membisikkan mantera sihirnya. Sangat pelan. Kupu tidak menyadari sama sekali. Sementara Kupu menikmati kue, bibir Bubu terus bergerak mengucap mantera, yang ternyata belum pernah dia pakai sebelumnya. Belakangan diketahui, Bubu ingin membuat seluruh kue yang dimakan Kupu berubah menjadi binatang bersayap. Bubu yang licik ingin membuat binatang-binatang itu mengocok dan menggelitik perut Kupu sehingga dia tidak dapat mengikuti perlombaan berenang esok hari. Tepat setelah Bubu selesai membacakan mantera, Kupu tiba-tiba terdiam. Ia memuntahkan sebagian kue mentega dari mulutnya. Kedua tangan Kupu menekan keras perutnya.
“Kamu kenapa, Kupu?”
“Perutku… perutku rasanya aneh.”
“Mungkin kamu terlalu banyak makan kue. Kamu terlalu kenyang.”
“Tidak, Bubu. Ini berbeda, sepertinya ada yang terbang kesana kemari di dalam perutku.”
“Ah mana mungkin!” Bubu menahan tawa.
“Aku serius! Kue mentega yang tadi kumakan seolah beterbangan…” Kupu ketakutan. Sementara itu Bubu berusaha menyembunyikan rasa girangnya. Tiba-tiba, tak sampai sedetik, dari punggung Kupu muncul dua buah sayap berwarna kuning keemasan. Kupu berdiri dan menjerit kaget. Bubu pun terlonjak dari kursinya. Dia pun sangat terkejut. Dengan segera, tubuh Kupu mengecil. Kakinya menghilang. Rambut hitamnya hilang dan berganti bulu-bulu halus yang sangat tipis. Di sela-selanya ada dua antena berwarna hitam yang tidak dimiliki manusia manapun. Semuanya berlangsung cepat tanpa bisa dicegah. Bubu menyesal. Manteranya salah. Bubu telah mengubah sahabatnya menjadi makhluk bersayap yang indah.

Kupu tidak lagi bisa bicara, apalagi makan kue mentega. Dia terbang melalui jendela rumah Bubu. Sementara itu, Bubu terus menangis terisak.

Setelah kejadian itu, Kupu yang telah berubah jadi binatang bersayap yang belakangan biasa disebut butterfly atau kupu-kupu, suka diam di tepi danau pinggir kota. Setiap tahun, saat pertandingan berenang berlangsung, Kupu akan hadir. Dia akan menyaksikan pertandingan dari sela-sela ilalang.

Advertisements

2 thoughts on “Butterfly

  1. aduhh horor ini ahahhhaa …
    doh kok jadi jalan2 di blog lu ya?
    pagi2 gaje nih

  2. Gue lomba bikin cerita tentang “Kenapa kupu-kupu disebut butter-fly” sama Wawan. Ehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s