Perbedaan dan Cinta


Beberapa minggu belakangan ini saya sedang suka mengajak dan diajak berbincang. Tentang apa saja. Perbincangan itu diantaranya berlangsung dengan beberapa orang yang berbeda dengan saya. Beda ide, argumen, bahasa, suku, dan agama. Berulang kali, kami berbicara dengan bahasa yang sama, Indonesia, atau juga bahasa Jawa dan Sunda semampu kami. Kami berulang kali juga membicarakan seluk-beluk suku serta kebudayaan dari daerah kami masing-masing. Kadang kala, kami memperdebatkan ide dan argumen yang tak jarang sangat bertentangan. Kami juga berbicara tentang do’a dan Tuhan yang tidak kami ciptakan berbeda.

Segala perbedaan antara saya dan teman-teman ternyata malah menciptakan kenyamanan. Ada banyak hal yang bisa saya bagi. Saya selalu suka berbagi. Ada begitu banyak kepuasan. Maka dari itu saya yakin, perbedaan tidak selamanya membuahkan rasa sakit, cemoohan, dan kerusuhan. Perbedaan itu bagi saya enigmatis. Saya tidak pernah tahu untuk tujuan apa perbedaan [di][ter]cipta. Tapi di sisi lain, perbedaan tanpa disadari telah menciptakan banyak cinta.

Meskipun pemahaman saya sedikit tentang sejarah penyaliban Yesus Kristus, tapi peristiwa itu adalah salah satu yang semakin menguatkan pandangan saya tentang perbedaan yang menghasilkan cinta.

Berdasarkan sejarah, ada dua hal yang menyebabkan Yesus Kristus disalib. Tuduhan pelanggaran agama oleh Yahudi [Yohanes 18:12-14], dan tuduhan pelanggaran politik [pemberontakan] di hadapan Gubernur Roma, Pontius Pilatus. Kesemuanya murni karena perbedaan. Perbedaan pandangan, berpendapat, dan keyakinan. Perbedaanlah yang telah menyebabkan terjadinya penyaliban terhadap tubuh Sang Isa Almasih. Tapi pada akhirnya, perbedaan-perbedaan yang “membunuh” itu tidak hanya menghasilkan siksa dan tubuh yang menderita, tapi pun kini menciptakan keyakinan dan cinta kasih yang kuat di banyak jiwa manusia.

Advertisements

2 thoughts on “Perbedaan dan Cinta

  1. Perbedaan itu bagus, tapi yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang tidak mau menerima perbedaan itu. Dan sayangnya, orang seperti itu cukup banyak.

  2. Ra, Tante Dea dulu pernah ngobrol sama Oom Gani ttg ajakan “jadikan semua orang Islam” dan “jadikan semua orang Kristen”. Ternyata intinya sama. Muaranya sama2 kasih. Cinta. Gimana berbagi kebaikan sama orang lain.

    Tiap orang milih bahasanya untuk bicara dan berkomunikasi, tapi bahasa itu cuma sarana, bukan makna itu sendiri =)

    Selamat Idul Fitri, ya, maafin kalo Tante Dea pernah salah2 dan suka garing2 nggak penting … hehehe ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s