FPI: Lagi-Lagi…


Saya yang sedang berusaha mengakses internet di ruang tengah tempat kost teralihkan perhatiannya. Suara televisi yang diletakkan di lantai satu dan sedang ditonton keluarga pemilik kost, menyiarkan berita. Saya, yang berada di lantai dua bisa dengan jelas mendengar karena volume televisi diputar sangat keras. Yang saya dengar, Forum Pembela Islam (FPI) melakukan sweeping terhadap satu (atau lebih) rumah makan di Kota Makassar. Alasannya karena warung makan tersebut tetap buka di siang hari, saat bulan Ramadhan. FPI melakukan pengrusakan terhadap warung makan setelah berdebat panas dengan pemiliknya. Selain dari penyiar berita, hal itu juga saya tangkap dari suara tumbukan benda berat, kaca pecah, dan teriakan banyak orang. Seluruh siaran berita saya dengar dengan jelas. Pun begitu dengan suara anak pemilik kost yang masih berusia tiga tahun.

“Papi, itu kenapa?”

“Papi, itu diapain? Kok begitu?”

Sang papi tidak menjawab, atau mungkin menjawab dengan suara pelan. Kalau saya yang ditanya, saya juga sepertinya akan bingung menjawab dengan kalimat yang baik kepada anak usia tiga tahun. Saat itu juga, ibu anak itu mengatakan beberapa kalimat yang kurang jelas. Ngomel.

Jadi untuk apa tindakan itu? Hampir setiap tahun di bulan ramadhan ormas-ormas keagamaan melakukan sweeping. Apakah itu sebuah teguran untuk kita sebagai umat yang beragam, agar menghargai orang yang sedang berpuasa? Kalau iya, jelas itu salah. Arogan sekali. Orang-orang yang tidak berpuasa pun patut dihargai. Mereka punya hak.

Keluarga pemilik tempat saya kost adalah katolik yang taat. Mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Saya muslim dan berpuasa. Kami saling menghargai. Ibu kost menunjukkan tempat-tempat penjual takjil terdekat untuk saya. Ia berusaha mencari kiblat saat pertama kali saya, ibu, dan nenek datang berkunjung ke rumahnya. Ia juga menanyakan kapan biasanya saya memasak nasi untuk sahur dan apakah saya butuh dibantu. Kami berbeda dan akur. Saya rasa keakuran itu ada karena kami sadar bahwa Indonesia bukan negara yang diatur oleh hukum agama tertentu. Indonesia, bagi saya malah istimewa karena multikulturalismenya. Lagipula, manusia itu makhluk sosial. Saling menghargai itu wajib, karena kita saling membutuhkan.

FPI merusak karena tidak berpikir seperti apa yang kami pikir.

Seusai mendengar siaran berita dan respon terhadapnya tadi, saya merasa malu. Ada juga rasa berdosa. Tapi bagaimana mungkin saya merasa berdosa atas hal yang tidak saya lakukan?

Advertisements

One thought on “FPI: Lagi-Lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s