Saya, Jakarta, dan Tempat Kost Baru


Saya kembali ke Jakarta untuk kesekian ribu kalinya. Kali itu adalah yang terakhir sebelum saya benar-benar harus menetap di sana. Jakarta banyak memberikan saya kenangan untuk diperbincangkan, jalanan yang melingkar seperti ular, kemacetan, banyaknya kendaraan bermotor, serta gas yang dihasilkannya. Jakarta kadang menjadi Hawa bagi Adam. Indah. Meski hanya pada saat-saat tertentu. Malam milik Jakarta menyuguhkan lampu-lampu kota yang membuat orang-orang menyukai perjalanan malam.

Seperti Jakarta yang biasa, ia menyambut saya. Kali itu siang. Saya turun dari bus antarkota di kawasan Pasar Rebo. Sebetulnya saya agak malas menghadapi Jakarta siang itu, tapi saya harus tahu diri. Saya membutuhkannya. Saya harus sampai di calon kampus saya di daerah Rawasari, Jakarta Pusat. Banyak hal yang harus saya urus.

Pasar Rebo itu tempat menarik. Ada banyak kios yang menjual buah-buahan. Penjual memajangnya dengan warna yang beragam. Mereka menggantung anggur-anggur merah dan hijau yang segar di kios. Segar. Kontras dengan debu knalpot dan bau pesing di semak-semak yang menyesakkan pernafasan. Menggunakan mikrolet, saya menuju ke arah Cililitan. Ada banyak asap rokok membumbung di dalam mikrolet. Salah satunya milik seorang kakek tua yang duduk di ujung bagian dalam. Punggungnya tidak lagi lurus, karenanya, kepalanya hampir menyentuh paha. Dia memakai kemeja putih bergaris vertikal dan celana pendek. Kulit paha dan bawah lengannya yang keriput jadi kelihatan sekali. Rambutnya putih, tidak ada lagi sehelai pun yang berwarna hitam. Sepertinya mata kakek itu sudah tidak awas lagi. Dia tidak memperhatikan apapun yang dilalui mikrolet. Di dalam tubuh yang renta dan rapuh itu, nyatanya hasratnya masih membutuhkan rokok.

Persis di depan Pusat Grosir Cililitan atau PGC, saya turun dari mikrolet. Saya membayar, sambil memperhatikan uang kembalian. Ini kali pertama saya naik mikrolet itu. Biasanya saya memilih jalur yang lain untuk sampai di tujuan yang sama seperti kali ini. Ternyata ongkosnya tiga ribu rupiah.

“Tanjung Priok, Rawasari kosong!” Beberapa kondektur berteriak melambaikan tangan pada saya dan banyak orang lalu lalang lainnya. Mereka sudah dibasuh peluh. Meski baru pukul setengah sepuluh, cuaca memang sudah sangat menguras keringat. Mungkin itu juga yang dirasakan orang-orang yang berdiri di depan pintu masuk PGC, menanti pusat perbelanjaan itu buka. Antusias sekali mereka. Beberapa orang memang berpakaian seperti pegawai, tapi yang lainnya adalah keluarga-keluarga kecil yang mencari hiburan di keramaian pusat perbelanjaan.

Saya segera masuk ke salah satu bus yang diam berhenti. Penumpangnya masih sedikit. Hanya tiga atau empat orang. Tapi segera, setelah saya masuk, orang-orang mulai berhamburan memenuhi kursi. Mereka yang tidak dapat duduk pun segera berdiri bergelayutan di bagian tengah bus. Bus berhenti tidak lama. Dua orang pengamen sempat bernyanyi untuk kami, para penumpang yang diombang-ambingkan bus buatan Negara Jepang itu. Saya tahu dari beberapa tulisan di dalam bus yang berhuruf kanji. Kadang saya tersenyum saat membayangkan betapa mulusnya fisik dan mesin bus ini saat masih berada di Negara asalnya dulu. Dan tanpa disadari, saya sudah harus turun di kawasan Rawasari.

Perjalanan saya belum harus berakhir. Saya harus naik mikrolet berwarna biru terang agak keabu-abuan untuk sampai di kampus. Warnanya mengingatkan saya kepada kulit telur asin yang biasanya membuat lahap makan siang keluarga saya. Beberapa supir bajaj dan bemo menawarkan jasanya, tapi saya menolak karena ongkos mikrolet lebih murah. Saya bosan berada di perjalanan. Saya ingin segera sampai dan menyelesaikan segala sesuatunya. Untungnya jalanan bersahabat. Tidak macet. Saat hendak sampai, saya, yang duduk di belakang supir mikrolet menepuk punggungnya,

“Sekolah Melania ya, Bang.” Sang supir mengangguk. Saya segera turun dan membayar ongkos. Sudah pukul sebelas lewat lima menit. Sudah terlalu siang meski matahari belum tepat di ubun-ubun kepala. Rambut saya yang tergerai menempel di leher. Saya mengikat rambut agar keringat tidak semakin melekatkannya ke leher. Topi cokelat merek Converse pemberian dari ayah saya segera dipakai untuk menghalangi sinar matahari dari mata saya. Paling tidak, kening tidak akan berkerut terus-menerus karena silau.

Segala urusan administrasi selesai lumayan cepat. Tidak lama setelah saya datang, saya sudah bisa langsung menjelajah pelosok daerah untuk mencari kostan bakal tempat saya tinggal nanti. Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Saya harus menemukan yang benar-benar nyaman untuk belajar dan bersantai. Saya mungkin tidak akan menemukan kamar yang senyaman kamar saya di rumah. Meskipun bentuknya tidak presisi, tapi bau kamar saya di rumah sudah begitu melekat di hidung, sehingga saya selalu merindukannya. Awalnya, saya bertanya pada satpam kampus mengenai tempat kost terdekat,

“Lurus, belok kanan, mentok, belok kiri. Di  sebelah kanannya ada gang ke kampung. Nah, di situ banyak.” Jawabnya. Saya bergegas. Karena saat itu tepat pukul dua belas siang. Matahari akan sangat menyengat. Dan, itu dia. Sisi lain dari Kota Jakarta. Kini Jakarta bukan hanya kemacetan, gedung tinggi, dan lampu kota. Jakarta yang saya lihat siang tadi adalah Jakarta yang sesak dan bersahabat. Rumah berjejal-jejal di gang. Pintunya dibuka lebar. Menawarkan keterbukaan dan kekeluargaan. Beberapa pandangan milik beberapa pasang mata mengikuti saya, yang mungkin terlihat seperti perantau. Tatapan itu bukan benci, tapi tatapan menawarkan. Beberapa kali saya bertanya, beberapa kali juga saya diantarkan menuju tempat kostan. Salah satunya kostan Ibu Haji Effendi. Beberapa ibu paruh baya sedang mempreteli daun singkong dari tangkainya di tepian gang. Saya bertanya, dan dengan sigap, seorang ibu yang ternyata penjual mi ayam menawarkan mengantar saya. Saya bersedia.

“Sebentar ya, matiin kompor dulu. Saya sedang jualan nih.” Ujarnya seraya mematikan kompor di gerobak mi ayam yang terparkir tidak jauh dari situ. Rumah Ibu Haji, begitu biasa ia disebut, lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya. Cat temboknya abu-abu. Tebakan saya, rumahnya dirancang minimalis, dengan desain kotak-kotak. Bu Haji sedang memasak dengan seorang nenek tua saat kita datang. Dari rona wajahnya, saya terka ia senang akan kedatangan saya. Ia segera membawa saya berkeliling rumah kost sempit yang terpisah dari rumah utama.

“Ini yang kosong.” Katanya sambil membuka pintu salah satu kamar. Ukuran kamar itu tiga kali tiga meter. Dengan spring bed dan lemari di dalamnya.

“Di atas juga ada.” Ibu Haji menunjuk ke arah sebuah tangga besi melingkar yang sempit. Saya naik. Ternyata di atas ada tiga kamar. Yang satu berukuran jumbo dan terletak di balkon. Riangnya gelak tawa anak-anak terdengar jelas dari situ. Saya memutuskan untuk terlebih dulu melihat kostan lainnya. Ibu Haji mengantar saya ke pintu depan dan member nomor telepon genggamnya.

Saya membuang banyak keringat setelahnya. Ada berpuluh-puluh gang kecil yang saya masuki. Salah satunya  ternyata tembus di Jalan Percetakan Negara, jalan besar yang cukup jauh dari komplek kampus. Ada banyak menara sutet yang saya lewati. Menara-menara itu begitu dekat dengan rumah-rumah. Dengan gang yang ramai oleh celoteh ibu-ibu dengan anak-anak yang riang kesana-kemari.

Sampai akhirnya saya dilabuhkan di sebuah rumah sederhana di komplek yang sama dengan kampus saya. TERIMA KOST. Tulis papan di depannya.

“Permisi…” Beberapa kali saya menyahut dan mengetukkan ujung jemari ke pagar. Bunyinya cukup nyaring. Seorang wanita tionghoa paruh baya muncul di lantai dua,

“Sebentar ya.” Saya menunggu. Sang wanita yang ternyata bernama Mbak Happy itu segera membukakan saya pintu setelah saya menyebut keperluan saya.

“Kamarnya di atas. Silahkan naik aja.” Saya mengikuti langkah Mbak Happy ke lantai dua.

“Siapa, mami?” Terdengar suara anak laki-laki dari lantai atas. Saya melongokkan kepala. Umur anak itu sekitar tiga tahun. Dia berdiri di teralis tangga. Menggunakan kaos yang panjangnya selutut. Mungkin itu juga yang membuat dia tidak usah lagi memakai celana.

“Ini ada tante.” Mbak Happy tersenyum

“Halo…” Saya melambaikan tangan ke arahnya. Mbak Happy mengantar saya ke depan pintu kamar.

“Eh, mau yang pakai AC atau nggak?”

“Nggak usah deh.”

“Kalau yang non AC yang itu.” Ujar Mbak Happy. Tangannya menunjuk ke sebuah ruangan berisi lemari. Setengah kali lebih lebar dari kamar milik Bu Haji tadi.

“Kalau sudah pasti, baru saya pesan spring bednya, biar masih baru. Saya pinjamkan kipas angin kok. Jemur pakaian pun nggak gabung dengan punya saya.” Ia menunjuk ke arah balkon. “Satu pintu masuk dengan saya, tapi nanti saya kasih kunci ganda, jadi keluar-masuk bebas mau jam berapa aja. Saya, suami, dan anak tinggal di bawah. Nggak akan sering-sering ke sini, paling nyapu atau pel.”

Saya dan Koko, nama panggilan anak Mbak Happy berbincang sesekali. Dengan Mbak Happy saya berbicara mengenai harga. Saya sedikit menawar. Ia bilang, mengenai harga, ia harus membicarakannya dengan suaminya. Malamnya ia akan hubungi saya. Tapi sepertinya, kamar milik Mbak Happy itu yang akhirnya akan menampung saya dan barang-barang milik saya. Selain sudah lelah mencari, ada kenyamanan di situ.

Sekali lagi saya menapaki ubin tiga puluh kali tiga puluh sentimeter, berjalan menuju balkon. Terlihat hamparan lapangan sepakbola. Sedikit memalingkan wajah ke kanan, ada jalanan yang tidak terlalu besar dan tidak sebising di pusat kota. Semoga dari situ, dari balkon calon kostan baru, saya bisa menikmati Jakarta yang indah. Yang seperti Hawa bagi Adam.

Advertisements

3 thoughts on “Saya, Jakarta, dan Tempat Kost Baru

  1. Indria Pratiwi

    Selamat bersekolah, Aura. Dan nanti kamu sadar bahwa 4 tahun bukan waktu yang lama. 🙂

  2. semoga sukses di kampus barunya ya ka 🙂 ehehehe

  3. Woah, Ra, nyerita nyari kosan aja bahasanya sastrawi gini … hehehe … kamu kuat banget tulisannya. Deskripsinya rapi, logikanya runut, dan bikin orang terus ngikutin sampe kelar.

    Tante Dea suka istilah “Hawa bagi Adam” buat ngedeskripsiin Jakarta dan “tau diri” pada Jakarta karena kamu butuh Jakarta. Orisinil banget dan tepat sasaran.

    Ngomong2, yang namanya Tante Happy orangnya Happy beneran, nggak? Ato dia namanya Happy karena tiap hari ulangtaun dan dinyanyiin “Happy Birthday to You” ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s