Dunia Kertas


Zelda mulai sadar. Rasa sakit di keningnya semakin menjadi. Ia membuka mata cepat-cepat. Ada punggung lemari buku di hadapannya. Tak salah lagi, ia mengigau dan tak sengaja membenturkan keningnya ke punggung lemari buku di ruang tengah rumahnya. Ia memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak terdengar aktivitas apa pun. Zelda segera berlari kecil ke kamar. Lampunya menyala, pintunya terbuka lebar.

Zelda duduk di tepian kasur sambil mengusap kening yang masih sakit. Ia mengusapkan telapak tangannya. Ke kanan dan ke kiri. Benjol. Dan karenanya, Zelda semakin membenci tidur. Ia menyayangkan dirinya tak punya penyakit insomnia. Ia benar-benar benci tidur. Sudah tiga bulan, Zelda mengigau di setiap tidurnya. Ia berbicara, berjalan, melakukan hal-hal seperti saat ia sadar. Tak jarang ia seperti hari itu, saat salah satu bagian tubuhnya terbentur sesuatu. Zelda merebahkan dirinya di kasur. Matanya melirik jam dinding. Sudah pukul setengah dua belas malam. Ia sebetulnya tak kuasa lagi menahan kantuk, tapi ia begitu benci pada tidur. Pada ketidaksadaran. Ia lalu meraih buku di meja belajarnya dengan asal. Ternyata yang diraihnya adalah sebuah novel grafis yang baru dibelinya dua hari lalu. Tentang sejarah Operation Overload, usaha sekutu untuk merebut pantai Normandia, Perancis dari tangan Nazi Jerman. Zelda belum membacanya selembar pun. Ia mulai membukanya dan membaca. Seterusnya, Zelda tertidur tanpa mimpi dan igauan. Ia terbangun setengah jam kemudian, tepat saat tengah malam. Ia sadar dan tersenyum lebar saat mengetahui dirinya masih berada di atas kasur, dengan posisi yang hampir sama, dan buku yang tadi dibacanya masih berada di atas dadanya. Itu hal yang sangat membahagiakan bagi Zelda. Ia melanjutkan tidurnya. Senyum masih sedikit mengembang di bibir tipisnya.

Zelda terbangun lagi. Bukan di kamarnya. Ada aroma laut di situ. Saat ia benar-benar membuka matanya, ia bangkit dari posisi telentang. Ia duduk dan berdiri dengan hitungan tak sampai sedetik. Ia terlonjak kaget melihat pemandangan sekelilingnya. Hari sudah mulai gelap. Ada sebersit warna oranye di kaki langit. Itu pun sangat sedikit. Warna itu seolah segera akan tertelan kabut hitam pekat yang turun dari langit. Itu bukan halaman rumah Zelda atau tempat mana pun yang pernah Zelda kunjungi. Zelda agak takut pada gelap. Hanya ada cahaya yang tidak begitu terang dari bukit di hadapannya. Ada kastil tua di puncak bukit itu. Zelda tahu kastil itu sudah tua karena penerangannya yang sudah semakin temaram, beberapa bagian tiang-tiangnya yang berlumut, dan atapnya yang sudah ditambal sana-sini. Zelda benar-benar ketakutan. Di sekitarnya ada suara mendesir yang tidak pernah didengar seumur hidupnya. Dan itu benar-benar menakutkan. Ia mencoba berjalan. Tapi tanah cokelat di bawahnya seperti tidak diam. Zelda berhenti melangkah, mencoba menelisik tekstur tanah yang aneh di bawah sepatunya. Ia berjongkok perlahan dan menyentuh permukaan tanah. Dan, hei… itu sama sekali bukan tanah, tapi kertas. Zelda tak mengalihkan pendangannya dari tanah yang terbuat dari kertas itu. Ia mulai berpikir. Mata dan pikirannya menangkap sesuatu. Saat itu juga bulu kuduknya seketika berdiri. Ia mengangkat kepala perlahan, menatap kastil tua di ujung bukit. Ia menyisir dunia tempat ia berpijak yang mulai gelap. Kepada pepohonan yang tanpa disadari sebelumnya selalu bergerak perlahan, kepada batu-batu besar di pesisir. Pesisir? Ya, Zelda pikir mungkin ia berada di daerah pesisir pantai. Banyak suara debur ombak meski di kejauhan, dan suara berdesir. Zelda  pikir itu suara pasir yang bergesekkan dengan kertas. Tak salah lagi, semuanya benda di tempat aneh itu terbuat dari kertas. Beberapa kali Zelda berusaha mencubit pipinya untuk membangunkannya dari mimpi. Juga berusaha memastikan dirinya tidak berubah menjadi kertas. Zelda masih seperti yang sebelumnya. Gaun tidurnya masih berupa kain putih bersih. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berubah menjadi kertas. Ia suka origami, seni melipat kertas, dan Zelda tahu bahwa kertas origami sangat rentan. Kertas-kertas itu bisa sobek kapan saja.

Zelda benar-benar ketakutan. Warna oranye di kaki langit sudah hilang. Kini gelap. Tapi di sebelah timur, ada banyak cahaya yang terkadang redup di balik batu-batu besar. Zelda tidak tahu harus pergi ke mana. Ada dua pilihan, pergi mencari cahaya dan sedikit kehangatan ke kastil tua, atau ke sumber cahaya di dekat bebatuan. Zelda memilih kastil. Ia suka berada di dalam ruangan. Ia berjalan perlahan menuju ke atas bukit. Kini ia benar-benar menangis. Tapi setiap air mata hinggap di ujung hidung mancungnya, ia akan mengusapnya dengan gaun. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh ke tanah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tanah kertas di bawah kakinya sobek karena air matanya. Zelda tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang ada di bawah sana.

Lalu Zelda semakin keras terisak saat menyadari bahwa semakin dekat ia dengan kastil, maka semakin rusak kastil tersebut. Kastil itu koyak, penuh lipatan, dan siap runtuh bagaikan origami yang diremas kuat-kuat saat Zelda mendekatinya. Zelda kesal dan ketakutan. Ia membalikkan badannya dan berlari menuju pantai. Isaknya terhenti saat mengetahui ada begitu banyak pasir yang bercahaya di sana. Di tepian pantai. Zelda sedikit lega. Paling tidak ia dekat dengan cahaya. Ia mendekati pasir bercahaya yang terhampar luas di hadapannya. Zelda duduk. Dengan agak ragu, ia meraih segenggam pasir. Halus seperti debu. Itu tidak seperti pasir di pantai-pantai yang pernah ia kunjungi. Itu pasti bukan pasir yang terbuat dari kikisan kerang dan karang. Zelda mulai nyaman bermain dengan pasir di hadapannya. Sementara itu, kastil di puncak bukit sudah pulih seperti semula. Zelda tahu, ada yang tidak memperbolehkannya mendekati kastil itu.

Zelda melamun. Mulai menelusuri kejadian tidak rasional itu. Tapi ia tidak juga menemukan alasan mengapa ia bisa berada di tempat menakutkan itu. Tempat itu begitu kelam, mengingatkan Zelda pada dunia ciptaan Neil Gaiman. Dunia tempat Coraline bergelut dengan makhluk-makhluk bermata kancing yang mengaku sebagai orangtuanya. Sekali lagi, itu menakutkan. Pikiran Zelda melayang. Ia ingat keluarganya, teman-teman dekatnya, anjing, dan ikan peliharaannya. Tangannya terus menerus memainkan pasir. Sesekali ia menghambur-hamburkannya. Sekali waktu, ia menghamburkannya tinggi ke udara sambil membayangkan keluarganya yang mungkin sedang bingung mencarinya. Tiba-tiba pasir yang dihamburkannya bercahaya jauh lebih terang. Zelda terkejut saat kemudian muncul gambar bergerak. Ada keluarganya. Mereka terlihat tertawa keras mendengar lelucon yang dilontarkan kakek tiri Zelda. Mereka terlihat bahagia tanpa keberadaan Zelda. Anjing peliharaannya yang baru berusia tiga bulan duduk manis di pangkuan kakak laki-lakinya. Tak ada kecemasan, tak ada ekspresi kehilangan. Itu membuat Zelda sangat tidak ingin pulang.

Hari-hari berlalu, matahari kertas oranye sudah beberapa kali timbul tenggelam. Zelda tinggal di tempat itu. Berkawan dengan binatang-binatang kertas dengan lubang di matanya. Ia selalu hangat diselimuti kesendirian. Ia selalu riang dihibur pasir ajaib yang menyediakan segala yang ingin dilihatnya. Ia tak pernah merasa mengantuk, haus, atau lapar…

Dan Zelda tidak pernah kembali ke rumahnya. Ke dunianya. Merasakan hangatnya kasur dan selimut kesayangannya meski ia selalu merindukannya. Ia tetap betah duduk bersandar di sebuah batu besar dari kertas, ditemani jutaan butir pasir ajaib yang dapat menghiburnya meski hanya beberapa detik.

“On this land, covered my self with a slowly wind

Midday as a sunshine, turns to dark, see how spooky out of here

Talk to myself, all alone, all day long

A pearl sand, magic dust makes its alive

… Coldy leaf, brush my feet , and all my fears

Friendly wave accompany me tonight

As a blanket and, how i miss my bed…”

*Gregory’s Raincoat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s