Bahasa Indonesia oh Bahasa Indonesia


Selama perjalanan berangkat atau pulang sekolah dulu, saya suka memperhatikan jalanan, pertokoan di sisi jalan, dan tulisan-tulisan yang tersebar di banyak tempat. Karena saya (katanya) tipe orang yang cenderung lebih mudah belajar lewat visual, kesemuanya itu jadi melekat di benak saya. Saya bisa tahu hal-hal yang hadir dan hilang. Belum jauh dari rumah saya di Cileunyi, ada warnet yang mungkin bangkrut lalu berubah jadi toko mainan. Di Cinunuk, ada penjual durian yang makin banyak dan berdekatan tempatnya. Di Cilengkrang ada rolling door toko yang tadinya bersih menjadi banyak tulisan. Di Cinambo, ada nenek yang setiap pagi menyapu halaman lalu membakar sampahnya ditemani cucu perempuan kecilnya yang berambut keriting kecokelatan. Dan ada banyak hal lain lagi yang saya suka perhatikan.

Saya juga suka memperhatikan tulisan-tulisan yang tertangkap oleh mata saya. Seringkali tulisannya membuat saya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Di sebuah perempatan di Cinambo, dekat kantor Penerbit Mizan, ada sebuah gerobak terbuat dari seng yang menyediakan jasa tambal ban. Ada tulisan yang ditulis menggunakan cat putih di gerobak tersebut, begini,

“TAMBAL BAN. Buka. Ketok, panggil saja Ucok.”

Saya terkikik saat pertama kali membacanya. Kalimat itu saya agak lupa tepatnya. Tapi begitulah intinya. Itu hanya semacam hiburan, tapi tidak jauh dari situ, ada semacam pabrik berpintu lumayan lebar bertuliskan,

“DILARANG PALKIR” (¬_¬’)

Melihat itu, saya kok agak sedih ya? Juga dengan gerobak penjual mi ayam dan es kelapa muda di Cileunyi, yang tak jauh dari rumah saya, yang punya spanduk seperti berikut,

“MIE AYAM FAPORIT”

Yaah, terlepas dari kesalahan penulisan itu, rasa mi ayamnya enak. Juga es kelapa mudanya.

Sudah beberapa minggu ini saya menghentikan kebiasaan memperhatikan tulisan-tulisan macam itu lagi, atau “Tambal ban cubles”, “Potokopi sedia matrei”, “Taylor”, atau “Terima elas”. Atau juga presenter, aktor, dan aktris yang dengan percaya diri mengucapkan kata “merubah”.

Satu pertanyaan saya, what’s wrong with us? Saya rasa (lagi-lagi) ini masalah kebiasaan membaca kita, bangsa Indonesia. Yang saya mau sih, semua orang dekat dengan literatur. Menulis. Atau Membaca. Atau bahkan, Setiap orang menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tesaurus Bahasa Indonesia sebagai alat bantu komunikasi, atau minimal tahu deh, apa fungsi keduanya.

Tapi ya saya bukan orang besar pengubah dunia. Yang hanya bisa saya lakukan adalah mendekatkan Bahasa Indonesia dengan orang-orang di sekitar saya. Saya harap, pembaca juga mau begitu. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Bahasa Indonesia oh Bahasa Indonesia

  1. ia ra. bnyak yang salah. Tambal Tubles, harunya Tambal Tubeless. saran ra. utk blog sdian shoutbox lmyan buat tukeran link.

  2. Simpulannya ok banget dan realistis, Ra. “Mendekatkan bahasa Indonesia dengan orang2 di sekitar saya” =)

  3. Saya rasa (lagi-lagi) ini masalah kebiasaan membaca kita, bangsa Indonesia. = em sih ini akar dr banyak masalah, lagi2 larinya ke literasi,,
    tulisannya bagus 🙂

  4. Aura Asmaradana

    ya, itu dia, membaca. terima kasih 😀

  5. Hatur nuhun..Tulisannya bagus dan terjemahnya lumayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s