Semua Tentang Tanda Baca


Beberapa saat yang lalu, akun twitter saya yang terbilang baru, menjelajah ke seantero dunia. Search ini itu, buka si ini dan si itu. Beginilah jika media elektronik tanpa disadari telah merampas waktu sebagian besar orang. Kadang orang-orang bepergian tidak tahu harus ke mana, tapi yaa… entah mengapa pergi ke situs mana pun, klik di bagian mana pun, internet tetap menyenangkan. Dan beberapa saat yang lalu juga saya menemukan beberapa blog milik temannya teman saya yang belum pernah saya temui. Membacanya agak membuat saya kadang mengerutkan kening, kadang tersenyum geleng-geleng kepala.

Siapapun dia, dia punya ide yang menarik hampir di setiap tulisannya. Sepertinya anaknya agak idealis dan cukup rajin. Dia sedikit menulis tentang negaranya, dan banyak tentang musik dan pikirannya. Jujur saja, saya agak iri. Dia bisa banyak menuangkan tulisan dengan konsep seadanya. Ini yang saya tidak biasa. Saya masih sok perfeksionis dalam menulis. Mungkin lebih tepatnya pemalas. Jika belum rampung, saya tidak mau mempublish seadanya.

Tapi ya, seperti yang saya tulis tadi, agak membingungkan membaca tulisan-tulisannya. Tanda baca berantakan. Agak miris. Konon, dia sudah kuliah, bahkan kini menjelang pembuatan skripsi. How then? Ini masalah besar: pengabaian terhadap tanda baca. Dan ini bukan masalah yang harus diakhiri dengan kata: ya sudahlah. Ini masalah penting milik kita semua, seluruh Indonesia, seluruh dunia, dengan tulisan. Bagaimana masyarakat dibiasakan memahami bacaan sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, maka akan timbul rasa menghargai dan kepekaan terhadap bacaan. Intinya pendidikan. Dan emmm, ya, KURIKULUM pendidikan!

Jika membicarakan masalah kurikulum pendidikan di Indonesia, saya seolah pesimistis. Sudah beratus forum membicarakan mengenai ini. Mengenai ketidakpastian, labilnya kurikulum, dan yang sedikit dibicarakan adalah filosofinya. Bagi saya, yang terakhir ini yang nantinya akan membantu kita menghargai tulisan.

“Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.” Saya menemukannya di Wikipedia. Di rintisan mengenai kurikulum. Tidak, tidak. Kalimat itu kurang tepat bagi bahasan saya. Secara universal pun kurang tepat. Memangnya ada penyesuaian? Jika ada dan sudah berlaku, siapa pun di Indonesia tidak akan buta huruf, buta tanda baca, atau minimal kurang menghargainya. Yang tepat bagi saya, rasa yakin akan pemenuhan kebutuhan dan kepentingan kehidupan kami. Ya itu tadi, kenali filosofinya. Sulit memang, karena kini, masyarakat pesimis melihat arogansi petinggi negara. Masyarakat tidak lagi berpikir bagaimana memajukan negara ini. Jadi, sebelum para petinggi siap serius mengerjakan ini itu, kita akan seolah berpikir abaikan saja tanda baca, toh bukan apa-apa dan siapa-siapa kok. Rumit deh ah jadinya.

Tiba-tiba saya jadi rindu Soe Hok Gie. Meski belum pernah merasakan kehadirannya, tapi saya yakin, jika ada kini, dia pencerah. Paling tidak bagi saya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s