Lintah


Seekor lintah telah berminggu-minggu berada di toples plastik. Berkali-kali ia dikeluarkan untuk menyedot darah di berbagai bagian tubuh manusia. Tapi tujuh manusia yang disodorkan darahnya tidak cukup menarik baginya. Tidak terlihat, tercium, dan terasa nikmat. Sang lintah punya kemampuan mengobati. Tak hanya dirinya, lintah lain di toples lain juga punya kemampuan itu. Aktivitas menyedot darah membuat manusia menjadi sehat.

Suatu hari, setelah sang lintah telah menolak beberapa manusia yang berbondong-bondong datang, ia mulai merasa bosan. Tak ada pekerjaan lain selain menggeliat di dalam toples. Tak berapa lama, datang seorang perempuan yang katanya sering merasakan sakit di kepala sebelah kiri. Sang lintah tidak peduli akan sakitnya. Ia hanya peduli pada darah yang disodorkan padanya. Meski hanya lintah,  ia punya prinsip. Memilih yang terbaik, sedot sedikit, lalu lepaskan, sehingga ia tidak kekenyangan dan bisa menyedot yang terbaik lainnya. Tapi hingga perempuan itu datang, ia belum menemukan yang terbaik.

Perempuan itu bersedia saat rambut di bagian kepala sedikit diambil. Itu untuk tidak menyulitkan sang lintah. Si pemilik kembali merogoh toples plastik tempat tinggal sang lintah. Ia sedikit menggeliat tanda malas. Tapi toh cengkraman tubuhnya pada toples dapat dengan mudah dilepaskan. Insting sang lintah sudah merasakan adanya darah. Dan yang ini berbeda. Sentuhan tubuhnya terhadap darah di kepala itu begitu berbeda dari biasanya. Sangat menggoda. Tanpa ba bi bu lagi, ia langsung menempelkan kepalanya ke titik darah berasal. Ia menggigit dengan gigi kecilnya. Menggigit lagi. Lagi dan lagi, lalu menyesap darah dengan nikmat.

Gluk gluk gluk, mulutnya tak bisa berhenti. Yang ini baginya begitu nikmat. Entah terkandung apa di dalamnya. Sang lintah mau berhenti, berharap ia akan dipakai lagi di bagian tubuh manusia yang jauh lebih nikmat. Tapi ia tidak bisa berhenti. Ia terus menghisap, membuat tubuh berlendirnya semakin gemuk. Semakin gemuk dan panjang.

Sang lintah sebetulnya merasa punya tugas mulia. Mengobati. Di sisi lain ia mau memenuhi kebutuhan dirinya. Menghisap. Mengambil sedikit darah saja dari banyak tubuh manusia, tentu saja yang merupakan pilihannya, lalu membuat tubuhnya gemuk.

Tapi manusia yang ia hisap kini punya keistimewaan. Darah di tubuhnya membuat sang lintah tidak bisa berhenti menghisap dan tidak bergerak karena nikmat. Ia tidak peduli tubuhnya semakin tambun. Ia terus menghisap. Tubuhnya gemuk. Gemuk. Semakin gemuk. Sangat gemuk. Merekah. Dan akhirnya Pecah. Darah yang sudah dihisapnya muncrat. Melumuri rambut perempuan yang malah lari terbirit-birit mencari sesuatu untuk membersihkan darah.

Sang lintah mati. Ia tidak acuh pada prinsipnya. Ia terlalu terlena, terlalu nikmat menghadapi darah yang nikmat dan istimewa. Angkuh bukan?

Advertisements

One thought on “Lintah

  1. Biarpun saya bukan seorang penulis, saya ingin memberikan komentar untuk tulisanmu. Yah memang, jika kamu menyuruh saya membuat cerpen semacam ini pasti saya akan sangat kesulitan. Tapi, jika didasarkan pada kesan saya sebagai seorang pembaca, maka tindakan berkomentar akan menjadi sesuatu yang sah-sah saja.

    Oke, sekarang masuk ke dalam komentarnya…

    Cerpen ini mengingatkan saya akan cerpen berjudul sama karangan mbak Djenar Maesa Ayu. Hanya saja sudut pandang cerita ini sangat berbeda. Dengan pembahasaan secara lugas, cerita ini ditulis tanpa mau banyak berpanjang-panjang kata. Hanya saja pesan dari cerita ini agak terlalu mudah ditebak. Apalagi refleksi akhirnya juga ditampilkan secara gamblang dalam bentuk pertanyaan “Angkuh, bukan?” Namun terlepas dari semua komentar itu, ini adalah salah satu cerpen paling saya suka dalam blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s