Lesbianisme: Apa Lagi yang Perlu Dipertanyakan?


Beberapa saat yang lalu, teman dekat saya bertanya, “Kamu pernah berpikir untuk jadi seorang lesbian?” Saya berpikir cepat dan segera menjawab, “Pernah.” Bagi sebagian orang, pernyataan saya tadi itu mungkin agak memalukan bahkan kurang ajar. Tapi ternyata untuk saya, dan teman saya, pertama lesbianisme bukanlah hal tabu untuk dibicarakan, yang kedua, bahkan juga untuk dirasakan.

Kenapa saya menjawab “pernah” saat diajukan pertanyaan seperti di atas? Begini, saya sempat mengenal lesbianisme dari dua sisi. Sebagai sebuah pilihan hidup, dan sebagai gaya hidup. Keduanya bukan hal yang nista bagi saya. Saya tidak melihat dari sudut pandang agama, karena toh saya tidak begitu paham. Tapi saya yakin Tuhan tidak menginginkan kita mencerca mereka. Tuhan pula yang membuat mereka ada.

Sekedar cerita, saat saya browsing mengenai lesbian, saya diantarkan menuju forum online lesbian. Forum itu memuat surat dari seorang ibu yang berteriak menuntut komunitas-komunitas lesbian. Dianggapnya, komunitas-komunitas itu telah mencuci otak keponakannya. Keponakannya, seorang lesbian mengakui keadaannya di usia 17 tahun. Ia kabur bersama pacarnya karena (mungkin) merasa orang tuanya tidak berusaha mengerti atau mencari tahu mengenai dirinya dan komunitasnya. Mereka mencaci-maki bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap pacar sang anak.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjalani hidup “seperti anak lain”. Menikah. Menimang cucu. Tapi toh menjadi lesbian bukan sepenuhnya kesalahan anak. Mengapa tidak mau mencoba menerima?

Kini, informasi sudah berputar begitu cepat, bahkan sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Bisa dibilang media adalah asupan kehidupan bagi masyarakat. Sedangkan mengenai lesbianisme, yang selalu menjadi masalah adalah pandangan negatif. Sebetulnya tidak ada yang patut dipertanyakan lagi. Lesbian adalah manusia. Tidak ada alasan untuk saling membunuh sesama manusia. Apalagi membunuh secara perlahan melalui cercaan dan rasa tidak mengerti. Kini sudah ada media. Informasi mengenai lesbian dapat diperoleh dari mana saja dan kapan saja.

Saya pikir, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Lesbian tetap perempuan. Dan perempuan adalah bagian penting dari peradaban.

Advertisements

4 thoughts on “Lesbianisme: Apa Lagi yang Perlu Dipertanyakan?

  1. imas mustaqimah

    Kalau Aura tidak begitu paham agama memang sangat disayangkan, tapi tidak masalah karena semuanya harus melalui tahap belajar . Agama adalah merupakan penuntun hidup yang absolut dan kita harus bersyukur bahwa Al-Quran itu tidak sulit untuk dipahami, silahkan kaji uraian berikut ini.

    Ada beberapa cuplikan surat dalam Al-Quran yang memberikan keterangan tentang orientasi seksual yang sejenis dan akibatnya karena itu termasuk perbuatan yang keji. Hukum Allah ini bersifat absolut dalam artian berlaku sepanjang dunia ini berputar sampai dengan hari kiamat nanti.

    Dalam Al-Quran
    Kaum Nabi Luth merupakan contoh yang paling aktual dalam menyikapi masalah orientasi sejenis ini. Setidaknya dalam Al-Quran terdapat pada 85 ayat dalam 12 surah diantaranya :

    Surah “Al-Anbiyaa” ayat 74 dan 75
    “…dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,” . “dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh”.
    Jadi kaum yang melakukan perbuatan keji itu termasuk golongan yang jahat dan fasik. Pengertian jahat disini bukan hanya copet, rampok atau koruptor saja….

    Surah “Asy-Syu’ara” ayat 160 sehingga ayat 175
    “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.
    Mereka (kaum Luth) menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir”.
    Luth berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu”.
    (Luth berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan”.
    Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (isterinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.
    Kemudian Kami binasakan yang lain. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.
    Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
    Jadi Allah melabeli orang yang melakukan itu sebagai orang yang melampaui batas, dan Allah tidak suka dengan orang2 yang melampaui batas.

    Surah “Hud” ayat 77 sehingga ayat 83
    Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”.
    Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”.
    Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”.
    Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”.
    Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”.
    Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,
    Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.
    Jadi disini Allah menyindir bahwa kaum yang berbuat seperti itu adalah sebagai kaum yang tidak berakal (mungkin akal punya, tapi tidak dipergunakan sebagaimana mestinya) juga termasuk orang2 zalim.

    Surah “Al-Qamar” ayat 33 sehingga 39
    Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya).
    Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
    Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.
    Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
    Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.
    Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
    Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
    Jadi kaum yang seperti itu tidak bisa mengambil pelajaran dari Al-Quran, padahal Allah telah memudahkan berbagai jalan untuk mempelajari Al-Quran.

    Surah “At-Tahrim” ayat 10.
    Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.
    Jadi sudah jelas ancaman bagi kaum yang melakukan itu adalah masuk ke jahannam.

    Saya setuju bahwa perempuan adalah bagian dari peradaban, dan bahkan mungkin peradaban tidak akan ada bila tidak ada perempuan. Hubungan sejenis juga memang bagian dari peradaban masa lalu, tapi peradaban itu dihancurkan telah Allah jauh sebelum Al-Quran yang mulia diwahyukan kepada Muhammad SAW. Apakah kita sebagai orang yang berakal masih akan terus melakukannya saat Al-Quran sudah berada ditengah-tengah kita?

    Carilah karunia Allah dengan jalan melakukan hubungan dengan sesuai syariat, apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya tidak perlu lagi kita cari-cari dalih untuk menolaknya. Tidak perlu mengajukan barbagai alasan dengan memainkan logika dan kata-kata, termasuk alasan HAM dalam memilih orientasi seksual. Tidak cukupkah peringatan yang Allah berikan lewat banyaknya penyakit kelamin, HIV/AIDS dsb?. Apakah harus menunggu Allah menghancurkan negeri kita dahulu seperti Dia menghancurkan umat nabi Luth AS?

  2. Aura Asmaradana

    Danke. Sebetulnya saya sepenuhnya paham bahwa Al-Qur’an adalah pedoman bagi muslim. Tulisan saya di atas adalah mengenai perlakuan orang-orang yang paham agama (baca: bukan hanya islam) terhadap homoseksual atau lesbian. Seperti cuplikan-cuplikan ayat Al-Quran di atas, Allah memberi azab terhadap orang-orang yang melanggar. Allah dengan segala kuasanya dipastikan sanggup memberi azab bagi mereka, dan (hampir) semua dari kita tau itu. Saya rasa tidak perlu terlebih dulu kita memberi cemoohan, cercaan, siksa fisik bagi homoseksual atau lesbian. Mereka punya Tuhannya masing-masing. Biar kuasaNya yang membalas.
    Bagi saya ini semua tentang berperilaku kasar yang bisa dilihat oleh siapa saja dan dicontoh siapa saja.

  3. Hi… 😀
    Ijinkan saya mengutip Karen Armstrong ;
    “If your understanding of the divine made you kinder, more empathetic, and impelled you to express sympathy in concrete acts of loving-kindness, this was good theology. But if your notion of God made you unkind, belligerent, cruel, of self-righteous, or if it led you to kill in God’s name, it was bad theology. ”
    — Karen Armstrong (The Spiral Staircase: My Climb Out of Darkness)

    Mudah2an agama, atau paham apapun yg kita anut bisa membuat kita tetap santun terhadap perbedaan2, dan tidak serta merta hanya menjadikan mereka sebagai subjek sinetron religi semata, tanpa berusaha benar2 memberi perhatian yg nyata.

    • Aura Asmaradana

      Diizinkan… 🙂
      Saya suka kalimat itu. Mudah-mudahan.
      Terima kasih ya. Silahkan lanjut baca dan komentar di lain tulisan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s