Globalisasi dalam Dua Sisi


Pengertian globalisasi

Globalisasi bagi Cochrane dan Pain adalah kemunculan suatu sistem ekonomi dan budaya global yang membuat masyarakat manusia yang terkumpul dalam masyarakat menjadi masyarakat tunggal dan global, sedangkan R. Robertson mengatakan bahwa globalisasi merupakan pemadatan dunia dan intensifikasi kesadaran dunia sebagai suatu keseluruhan.

Adapun Anthony Giddens melihat globalisasi sebagai intensifikasi relasi-relasi sosial seluas dunia yang menghubungkan lokalitas-lokalitas berjauhan sedemikian rupa. Pendapat Anthony Giddens mengenai pengertian globalisasi secara tidak langsung mengatakan bahwa peristiwa di suatu tempat ditentukan oleh peristiwa lain yang terjadi jauh dari situ dan juga sebaliknya.

Globalisasi mendorong saya untuk melakukan semacam telaah kritis terhadap globalisasi dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Kedua bidang tersebut merupakan kaki-kaki yang menopang kehidupan bermasyarakat. Dan apakah globalisasi mempengaruhinya? Serta bagaimana efek globalisasi bagi keduanya di peristiwa-peristiwa yang berlangsung di kehidupan sehari-hari? Saya mencoba menelaahnya.

Globalisasi dan pendidikan

Menurut saya, jika ketiga pengertian globalisasi menurut ketiga ahli yang sudah disebutkan di atas adalah tepat adanya, maka masyarakat awam dapat banyak menemukan yang disebut dengan globalisasi tersebut di kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultur. Globalisasi di Indonesia telah sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat, misalnya, pasar bebas yang penuh persaingan menjadi salah satu ciri bahwa kita kini sedang menjalani hidup di zaman globalisasi. Pasar bebas yang saya maksud dapat dimisalkan seperti sebuah sistem kontroversial dalam bidang pendidikan, yaitu Ujian Nasional(UN). UN dibuat seolah-olah merupakan satu-satunya penentu masa depan hidup seorang anak. Segala hal yang halal maupun tidak, dilakukan untuk mengejar target: lulus UN. Mungkin itu jugalah yang disebut dengan persaingan bebas. Banyak pihak yang berusaha memenangkan persaingan mondial dengan menekan semangat anak didik agar dapat mengejar keunggulan dan profesionalisme dengan memperjuangkan prestasi dalam kompetisinya dengan lembaga-lembaga pendidikan dunia.

Dilihat dari satu contoh sistem pendidikan Indonesia tersebut, jelas bahwa masyarakat berkembang ke arah globalisasi. Manusia semakin dihubungkan dalam keprihatinan yang sama menyangkut dunia ini, sebagaimana dirumuskan oleh Jacques Delors dkk[1] dalam laporannya ke UNESCO, kepentingan dunia pendidikan tampaknya menjadi semakin kompleks. Misal, semenjak sistem ekonomi berubah menjadi kapitalistik, sekolah-sekolah vokasional mulai ditumbuhkembangkan untuk memenuhi kebutuhan akan pekerjaan-pekerjaan di pabrik dan industri. Tapi, masyarakat multikultural seperti di Indonesia tampaknya belum siap untuk mengenal pendidikan macam apa yang diperlukan masyarakat global di era ini. Di satu pihak, kecenderungan global menuntut pola pendidikan yang kurang lebih searah, tetapi di lain pihak banyak masyarakat lokal yang awam menjadi khawatir. Jangan-jangan kecenderungan global akan melucuti kekayaan tradisi dan kebudayaan lokal mereka. Masyarakat Indonesia pun seharusnya merasa khawatir.

Meski begitu, melalui globalisasi, Indonesia pun lalu mendapat keuntungan melalui kualitas intelektual yang dihasilkan oleh sistem bernama UN. Ada yang perlu diingat bahwa kualitas yang ada terlepas dari pemerataan fasilitas pendidikan yang belum bersifat global dan muatan kebangsaan yang tidak lagi dianggap menarik. Di sisi lain, tekanan pasar kerja di luar negeri semakin menguat, sehingga lembaga pendidikan yang tidak merespons kepentingan global akan mati begitu saja. Oleh globalisasi, anak bangsa semakin dikuasai oleh kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja yang didominasi oleh entrepreneur. Globalisasi ternyata juga bisa menghasilkan krisis dalam dunia pendidikan.

Tanpa sistem yang berjalan baik, sistem pendidikan tidak dapat berjalan dengan lancer. Ekonomi adalah unsur vital.

Globalisasi dan ekonomi

Tanpa sistem pendidikan yang berjalan baik, sistem ekonomi tidak akan mengalami perkembangan pesat seperti yang diharapkan setiap orang. Pendidikan adalah sebuah alat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi melalui para pemikir cerdas yang dapat mengusahakan satu hal besar: perdamaian dunia.

Thomas Friedman, wartawan pemenang hadiah Pullitzer, dalam The Lexus and The Olive Tree (2000) mengatakan bahwa seluruh dunia ini akan makmur jika semua negara di dunia ini mau saling membuka perbatasannya. Akibat dari itu, barang-barang dapat keluar masuk dengan bebas, begitu juga dengan investasi. Selain membawa keuntungan ekonomi, sikap saling keterbukaan itu juga menurutnya akan membawa perdamaian dunia. Negara-negara tidak berperang karena ekonomi mereka saling terkait satu sama lain. Saya menyimpulkan bahwa yang dicontohkan Friedman tersebut adalah globalisasi atau liberalisasi. Logikanya mengenai mengglobalkan dunia ekonomi memang masuk akal, meski terlihat terlalu optimistis. Tapi pun banyak yang mendukung perkataan Friedman yang lazim disebut dengan Teori Liberal itu. Di koran terbesar Amerika, New York Times, dimuat wawancara dengan tiga ekonom terkenal: Paul Krugman dari MIT, Sherman Robinson dari Universitas California Berkeley, dan Gary Hufbauer dari Institute for International Economics. Dengan uraian yang padat dan memikat, mereka bertiga menerangkan keunggulan perdagangan bebas atau yang secara tidak langsung merupakan dukungan terhadap dianutnya ekonomi global. Atau simak tulisan bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Cordell Hull di dalam riwayat hidupnya,

 

Saya melihat bahwa kita tidak bisa memisahkan ide mengenai perdagangan dari ide mengenai perang dan perdamaian. Kita tidak bisa mengharapkan perdagangan akan berjalan seperti sebelumnya apabila terjadi peperangan besar. …Dan, (saya melihat bahwa) perang seringkali disebabkan oleh persaingan ekonomi…. Saya karenanya meyakini bahwa … apabila kita bisa meningkatkan perdagangan antar negara-negara dengan mengurangi hambatan perdagangan dan tarif dan menyingkirkan penghalang internasional atas perdagangan, kita telah mengambil langkah besar dalam menyingkirkan perang itu sendiri.[2]

 

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang sangat liberalis dalam perdagangan. Tapi sebagian orang, yang juga berkebangsaan Amerika bukannya tak boleh kontra terhadap Teori Liberal. Orang-orang Marxis dan Strukturalis, misalnya. Mereka itulah yang melakukan unjuk rasa bersamaan dengan konferensi WTO di Seattle pada bulan Desember 1999. Para pengunjuk rasa menyerukan pendapat mereka tentang WTO yang liberalis dianggap sebagai biang kerok yang membuat orang miskin semakin miskin, pendidikan semakin mahal, lingkungan rusak, buruh kehilangan pekerjaan, kaum perempuan kian tertindas, anak-anak dipaksa bekerja, dan efek negatif perdagangan bebas lainnya.

Unjuk rasa di Seattle itu menunjukkan bahwa globalisasi tidak hanya berpengaruh positif bagi kekayaan ekonomi dan perdamaian dunia, tapi malah secara tidak langsung menghancurkan ekonomi lokal dan perdamaiannya. Terang saja, masyarakat awam mencap orang-orang anti ekonomi global sebagai kaum anarkis yang suka berunjuk rasa atau para demonstran antiglobalisasi.

Ekonomi global di Indonesia

Di Indonesia, protes dan demonstrasi seperti yang terjadi di Seattle telah terjadi di banyak kota dan desa, tetapi kabarnya, para anti ekonomi global itu menuduh mereka komunis, sebuah tuuduhan yang meleset karena basis sosial gerakan protes tersebut bukan kelas dalam arti Marxis.

Simpulan dan Saran

Menjadi jelas kini, bahwa efek globalisasi terhadap dua hal utama dalam peradaban dunia, yaitu pendidikan dan ekonomi, dapat menimbulkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana globalisasi bekerja serta apa keuntungan dan kerugian yang terjadi karena globalisasi.

Tak dapat disangkal, ekonomi memiliki pengaruh yang kuat dalam perubahan pola pendidikan. Sejak sistem ekonomi dunia beranjak menjadi kapitalistik, Indonesia memulai sekolah-sekolah vokasional yang bermunculan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan pabrik dan industri baik di dalam maupun luar negeri.

Yang jelas, Indonesia masih memiliki banyak kebutuhan dan potensi lokal dalam hal pendidikan yang perlu diperhatikan. Globalisasi dalam bidang pendidikan tampaknya belum seharusnya terjadi di Indonesia mengingat belum adanya pemerataan fasilitas pendidikan. Sedangkan dalam bidang ekonomi, cocok maupun tidak adanya, nyatanya Indonesia sudah “terlanjur” membangun ikatan-ikatan ekonomi yang secara perlahan membuat Indonesia membuka dirinya dan niscaya akan membuatnya menganut satu sistem dan kaidah yang sama dengan dunia. Secara tak ternyana, proses penyatuan seluruh dunia menjadi satu sistem dan kaidah itu sedang berlangsung.

 

Daftar pustaka

Rivoli, Pietra. 2007. The Travels of A T-Shirt in the Global Economy. Jakarta: TransMedia

Suparno, Paul. 2009. Pendidikan Global vs Pendidikan Lokal dalam Majalah Basis Nomor 07-08 Bulan Juli-Agustus. Yogyakarta: Yayasan BP Basis

Sudiarja, A. 2009. Dari Pembinaan Watak ke Globalisasi Pendidikan dalam Majalah Basis Nomor 07-08 Bulan Juli-Agustus. Yogyakarta: Yayasan BP Basis

Wibowo, I. 2004. Pertarungan Wacana Globalisasi Ekonomi (World Economic Forum vs World Social Forum dalam Esei-Esei Bentara. Jakarta: Kompas

Pudjiastuti, Puline. 2007. Sosiologi Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Grasindo


[1] Learning the Treasure Within, Report to UNESCO of the International Commision on Education for the Twenty-first Century, 1996

[2] Dikutip dalam Rothgeb, US. Trade Policy, 17

 

Advertisements