Negara


Negara kabarnya punya dua tugas. Yang pertama, mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang asosial atau bertentangan satu sama lain, agar tidak menjadi antagonisme yang membahayakan. Yang kedua, mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan-golongan ke arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat seluruhnya. Negara juga menentukan bagaimana kegiatan asosiasi-asosiasi kemasyarakatan disesuaikan satu sama lain dan diarahkan kepada tujuan nasional.

Dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan, bagaimana jika tujuan, kebutuhan, dan kepentingan masing-masing masyarakat berbeda? Kepentingan manusia di satu bangsa pastilah tidak sama. Harold Lasswell memperinci delapan hal yang menjadi keinginan masyarakat. Kekuasaan, pendidikan, kekayaan, kesehatan. keterampilan, kasih sayang, kejujuran dan keadilan, dan keseganan. Sejauh mata memandang, memang benar, delapan hal itu menjadi yang banyak dicari manusia. Tapi cara berpikir dan sudut pandang tiap orang berbeda. Dan otomatis, cara mencapai kepentingan-kepentingan itu pun tak sama di setiap individu masyarakat. Tak aneh berarti, ada kepentingan dan cara yang saling berseberangan atau tak saling mendukung.

Bagi saya, negara bagaikan sebuah bola karet yang terbentuk dari batang lidi-lidi. Lidi-lidi yang terdapat di dalamnya adalah kepentingan-kepentingan masyarakatnya. Semakin hari, lidi-lidi itu akan semakin banyak dan padat. Panjangnya pun akan berbeda dan semakin panjang. Karena saat satu kepentingan sudah terpenuhi, akan hadir kepentingan lainnya. Semakin lama, saat standar kepentingan semakin tinggi, lidi-lidi itu akan semakin panjang. Bola karet akan mencapai batas maksimum dan meledak. Saat itulah negara hancur.

Hidup saya dan manusia lain di negara dikendalikan oleh kepentingan politik. Kebutuhan orang-orang untuk mengaktifkan diri sebagai warga negara semakin banyak. Yang saya maksud mengaktifkan di sini berarti berusaha untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Banyak yang berpikir bahwa kesuksesan memang seharusnya dilakukan bersama negara. Saat manusia mencapai delapan kepentingan utama, maka ia akan lebih leluasa bergerak di mana pun yang diinginkannya. Itulah yang membuat negara istimewa.

Di Indonesia, segala cara mulai dihalalkan demi memenuhi kepentingan pribadi. Dari cara yang benar-benar halal, sampai yang tidak seharusnya menjadi halal. Semua berlomba meraih kepentingannya masing-masing. Keadaan menjadi bergerak naik turun mengikuti pasang surut kepentingan manusia-manusia. Manusia yang tak punya banyak daya hanya pasrah terombang-ambing dipermainkan kepentingan. Protes-protes sering dilakukan, tapi dengan cara yang tak begitu cerdas. Di saat-saat seperti itulah negara perlahan-lahan mulai hancur. Meledak seperti bola karet yang tertusuk batang-batang lidi yang terlalu panjang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s