Kedatangan Rona


Awalnya saya tidak mendengar suara ketukan di pintu depan. Suaranya hanya terdengar sayup, lagipula waktu itu saya sedang menggosok gigi di kamar mandi. Suara ketukan kalah oleh suara sikat gigi dan gemericik air di bak. Saya menggesekkan kaki seperlunya di atas keset kuning yang mulai kusam, lalu bergegas menghampiri pintu depan. Jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tak ada janji.

“Siapa?” Hening. Ketukan berlanjut. Saya memutar kunci pintu dan membukanya. Seorang perempuan muda seumuran saya berdiri sambil tersenyum. Saat tersenyum, dagunya memanjang sedikit, membuat bentuk wajahnya semakin terlihat proporsional. Hanya saja, kantung mata perempuan muda itu tebal dan berwarna gelap. Rambutnya diikat, tapi ada sisa-sisa rambut pendek menutupi kedua daun telinganya. Di malam yang sudah cukup larut, tubuhnya masih dibalut seragam SMA.

“Siapa?”

“Rona.” Perempuan itu menjulurkan tangannya, mungkin mengharap saya akan menggenggamnya. Tapi saya diam. Bagai disepak kaki kuda, perut saya sakit dan mulas tiba-tiba. Wajah dan nama perempuan di hadapan saya itu begitu familiar.

“Betul, yakinlah. Saya Rona.” Tangan saya yang masih menggenggam gagang pintu mulai gemetar. Saya tak tahu harus mengatakan dan melakukan apa.

“Rona. Siswi kelas dua SMA yang terbunuh karena kecelakaan di dalam cerita pendekmu. Saya ingin berbincang. Boleh saya masuk?” Wajah Rona terlihat riang, tepat seperti yang saya bayangkan tentang sosoknya. Rona tampak sempurna sebagai manusia yang hanya diciptakan oleh imajinasi. Saya membuka pintu agar lebih lebar sedikit dan menggeser tubuh agar Rona bisa masuk.

“Masuk saja.” Rona masuk. Angin yang lumayan kencang membuat saya menutup pintu dan hanya menyisakan sedikit celah untuk angin segar. Sebelum dipersilahkan, Rona sudah duduk di kursi. Saya tak merasa keberatan. Seperti itulah memang Rona yang saya inginkan. Saya merebahkan tubuh di kursi yang berlawanan arah dengannya. Sejak dua menit sebelumnya, saya sudah mencuri-curi waktu untuk mengucek mata. Tak ayal lagi, ia memang nyata.

“Ehm… Ada apa?”

“Laki-laki itu… Laki-laki yang kamu ciptakan bersama-sama dengan saya. Mengapa dia tidak menolong saya?”

“Bukan tidak, Rona, tapi tidak sempat. Maaf. Tapi saya benar-benar tidak menyangka kamu akan datang dan…”

“Tidak usah minta maaf. Saya tidak keberatan untuk mati. Saya tahu perasaanmu benar-benar kesal waktu menulis cerita pendek itu. Siapa laki-laki yang memancing imajinasimu itu? Apa sosoknya sama persis seperti yang di dalam cerita?”

“Saya membayangkan, laki-laki di dalam cerita benar-benar mirip dengan laki-laki yang sesungguhnya. Pertemuan saya dengannya sangat inspiratif. Ehm… Tapi, apa si laki-laki dalam cerita itu bisa tampak nyata seperti kamu? Maksud saya, apa suatu waktu dia bisa saja datang ke sini?” Mendengar pertanyaan itu, Rona menahan gelak tawa. Wajahnya manis saat tertawa.

“Kalau saya bisa, kenapa dia tidak?” Betul juga. Saya malu. Wajah saya pasti tampak sangat bodoh waktu itu. Wajar, saya benar-benar bingung dengan keadaan yang irasional itu.

“Ah ya, tentu saja. Tapi, dari mana kamu tahu tentang perasaan saya?”

“Hei. Belum sadar ya? Saya dan kamu adalah dua perempuan yang hampir sama. Laki-lakiku dan laki-lakimu berasal dari latar belakang yang sama-sama sulit diharapkan. Meski kamu pasti tahu rasanya bertahan di posisi tengkurap, setengah sadar, dan melihat laki-laki itu menghampiri saya dengan tatapan cemas. Waktu itu dia seperti melupakan segala. Dia meninggalkan motornya di tengah jalan, membuat beberapa kendaraan terganggu. Tapi dia tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya keadaan saya yang malang.”

“Ya ya ya. Saya tahu semuanya. Saya yang menyusun cerita.”

“Ya begitulah. Sudah seharusnya kita bisa saling mengerti.” Rona diam.

“Jika kamu tidak bertemu dengan laki-lakimu, pasti saya tidak akan kamu ciptakan. Beruntunglah saya diciptakan oleh orang sepertimu.” Lanjutnya. Untuk yang kesekian kalinya, saat menyebut kata ‘laki-lakimu’, Rona memberi penekanan. Mungkin ia ingin membuat saya bangga.

“Yang pasti, sebelum bertemu dengannya, belum pernah kutemui laki-laki yang meneteskan air mata saat guru wali kelasnya pensiun. Gengsi membuat orang-orang piawai menyembunyikan rasa sedih. Apalagi menangis. Dia tidak begitu. Dan lagi, saya suka dengan keaktifannya di kelas. Seolah tak peduli apapun. Dia akan terus bersikeras agar idenya diterima teman-temannya yang pasif.”

 “Dia sama menyenangkannya. Juga tulus. Entah bagaimana dengan laki-laki dalam cerita.” Terdengar suara desah pelan. Rona menelan ludah.

“Tapi apa yang saya dengar itu benar kan?” Lanjutnya.

“Yang mana?”

“Kamu sekarang bersama dengan dia kan?”

“Bersama?”

“Ya, bersama. Saya tahu kamu semakin akrab dengannya. Mungkin jika kamu membuat saya hidup hingga akhir cerita, saya dan laki-laki dalam cerita juga akan seperti kamu dan laki-laki itu.”

“Ya, begitulah. Kamu dan segala unsur dalam ceritalah yang membuat kami akrab. Terima kasih. Dan, ehm… begini, saya dan kamu punya sifat yang berbeda, begitu juga dengan keputusan-keputusan yang bakal kita ambil. Saya sudah memperkirakan kemungkinan terburuk jika kamu tetap hidup di akhir cerita.”

“Oh ya? Apa ending cerita itu sudah yang terbaik buat saya?”

“Terbaik? Entah. Tapi saya suka dengan imajinasi di akhir cerita itu.” Suasana hening. Saya menggesek-gesekkan kedua telapak tangan. Saya tidak berani untuk terus menerus memandang wajah Rona. Akan sangat aneh rasanya. Helaan nafas panjang terdengar darinya.

 “Senang mendengar kabarmu dengan laki-laki itu. Selamat.” Rona bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana?” Sungguh, saya sangat tidak ingin melepasnya saat itu.

“Pulang.” Rona menghampiri pintu.

Entah kenapa saya tidak ingin ia pergi. Rona terus melangkah.

“Hei, sebentar! Pulang ke mana?”

“Itulah. Imajinasimu terbatas. Tempat tinggal saya belum diciptakan. Tapi tenang, setiap jengkal tanah di bumi adalah rumah saya.” Rona menyeringai. Saat melihat wajahnya, perut saya tiba-tiba mulas lagi. Ada sesuatu yang janggal yang membuat saya ingin segera memalingkan pandangan dari seringainya. Saya menunduk menatap punggung telapak kaki. Timbul perasaan berharap Rona tidak akan pergi secepat itu. Ia menyenangkan. Sebelum benar-benar pergi, ia tersenyum lagi dan berkata,

“Terima kasih. Saya memang mati dalam cerita, tapi saya dibuat berguna karena telah membuat kamu dan laki-laki itu bersama kini.” Saat itu saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya mengangguk, itu pun setelah Rona hilang di balik pintu.

Kedua bola mata saya menyisir hampir seluruh ruang tamu, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian saya dari kedatangan seorang gadis dalam cerita pendek. Lalu pintu ruang tamu yang hanya terbuka sekitar dua puluh senti membuat hati saya menjerit. Tidak mungkin Rona keluar tanpa membukanya lebih lebar. Tapi saya sadar bahwa tak ada banyak gerakan dan derit pintu saat ia keluar. Saya melipat kaki. Bersila di atas kursi. Angin masih berhembus kencang dari luar. Satu menit. Dua menit. Denting selot pintu pagar yang saya tunggu tak juga terdengar. Saya gelisah.

Saya tak tahu, ke bagian jengkal tanah yang mana Rona pulang sehingga tak perlu lagi membuka pintu pagar.

 

Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s