Saya dan saya


Buat saya, sosok yang paling banyak mengetahui tentang diri saya, ya saya sendiri. Itulah alasan saya selama ini seolah terlihat meremehkan orang-orang yang mengelilingi saya, yang senantiasa mempengaruhi dan mendorong saya melakukan ini itu. Saya tahu betul mau ke mana saya memandang, menghadap, melangkah, menoleh, dan lain-lain. Dan lagi, saya adalah tipe orang yang selalu cermat terhadap apa yang akan dilakukan oleh diri saya selanjutnya. Segala konsekuensi, untung maupun rugi, sudah saya perkirakan betul-betul. Mengenai orang-orang yang ada di sekeliling saya, banyak dari mereka yang sudah mencicipi asam garam kehidupan, dengan kata lain, mereka memiliki jauh lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan saya. Itu bisa saja jadi alasan untuk memberikan saya arahan, bahkan mempengaruhi, tapi prinsip saya ya itu, saya yang paling tahu diri saya.

Saya mengerti bahwa zaman semakin crowded. Banyak hal yang malang melintang di hadapan mata, menimbulkan kegelisahan dan pengaruh yang kadang butuh sikap kritis dan tegas dalam menghadapinya. Bersamanya, juga banyak hal yang bagi saya semakin aneh. Lewat tulisan tangan, ada orang yang bisa tahu karakter orang lain. Lewat tes-tes dengan beragam jenis, orang-orang tertentu yang bisa membaca kecenderungan dan ketertarikan orang lain. Lalu, ada orang yang bisa tahu itu semua hanya dengan berbincang-bincang dengan orang yang dituju. Itu semua buat saya aneh. Ada orang lain yang lebih tahu diri kita dibandingkan dengan diri kita sendiri! Menakutkan. Orang-orang seperti itu memang terkadang bermanfaat, tapi jika kita harus terus menerus “menggunakan” mereka dan mengikuti apa kata mereka, kapan kita bisa punya waktu untuk mengenal diri kita sendiri? Tak bisakah kita melakukan sedikit banyak kompromi dengan diri sendiri? Kalau saya, saya tidak pernah mau menghabiskan waktu hidup saya dengan menanyakan atau berkutat dengan hal-hal yang sebetulnya sudah saya tahu betul. Sekali lagi, bukan saya bersikap meremehkan, hanya terlihat.

Dan, bukan hanya saya yang kadang terlihat bersikap meremehkan. Orang-orang di sekeliling saya pun begitu. Saya sering diperlakukan layaknya orang bodoh yang tidak tahu mau ke mana melangkah. Begini masalahnya, meskipun mereka sudah basah kuyup pengalaman, tetap saja, saya yang tahu mau ke mana, naik apa, dan ada berapa alternatif untuk menujunya. Sering, orang-orang bersikap layaknya saya anak pandir yang tidak tahu bagaimana caranya mencari tahu tentang tujuan saya sendiri. Untuk masalah-masalah seperti ini, jujur saja saya pasti akan berbicara panjang lebar dengan segala kata dan susunan kalimat yang saya tahu dan kuasai. Masalah ini adalah sebuah pembuktian berharga, seberapa jauh saya mengenal saya dan kehidupan saya. Di lingkungan keluarga, bersyukur tak satu pun yang pernah menggiring saya ke dalam dialog searah yang panjang serta menjemukan tentang saya, pilihan, dan masa depan saya. Itu pasti, karena keluarga percaya saya dan tidak pernah menganggap bodoh.

Advertisements

One thought on “Saya dan saya

  1. Like this….^_^”v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s