Pemilihan Jurusan dan Penciptaan Gengsi


Dari kecil, kedua orang tua saya sudah membebaskan jalan kehidupan saya, sesederhana apapun itu. Jadi, saat saya dan mereka sempat berbincang tentang pemilihan jurusan di SMA, saya tidak merasa ragu-ragu untuk memilih sosial. Program sosial membuat saya bisa melanjutkan belajar tentang apa yang selama ini memang sudah jadi ketertarikan saya yang pada awalnya hanya mata pelajaran sejarah. Bagi saya, sosial menyenangkan, tapi bukan berarti sains tidak menyenangkan. Yang bagi saya tidak menyenangkan hanyalah gengsi yang terdapat pada keduanya. Masyarakat Indonesia, bahkan kalangan pelajar sendirilah yang membangunnya.

Saat naik ke kelas dua, seluruh SMA akan menyarankan anak didiknya masuk ke jurusan tertentu. Setahu saya, itu ditentukan berdasarkan diskusi guru-guru mata pelajaran dan pertimbangan nilai-nilai. Menyarankan memang bukan bahasa yang tepat. Kata yang tepat menurut saya adalah mengharuskan. Sudah menjadi suatu ketetapan, jika seorang anak diarahkan pada program sains, maka jika kurang berkenan, dirinya bisa pindah jurusan ke sosial. Tentu saja banyak yang harus dilakukan untuk hal itu. Dua pendapat saya untuk segala tetek bengek nan prosedural itu, buang waktu dan merepotkan. Tapi bagi anak yang diarahkan ke program sosial, anak itu tidak dapat memaksakan dirinya untuk masuk ke jurusan sains. Itu semua memang masalah konsep diri anak dan penyesuaiannya dengan pembelajaran jurusan sains dan sosial yang berbeda dan tidak dapat dipaksakan satu sama lain.

Guru memang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam menentukan jurusan di SMA. Kiprahnya di hampir tiap kegiatan anak didik membuat guru jadi lebih jauh dan baik dalam mengenalnya. Anak didik pun begitu. Tapi terkadang, pandangan lawas mengenai guru sebagai dewa membuat anak didik mengikuti apapun keputusannya, meski kadang tidak menyenangkan bagi diri anak didik sendiri. Termasuk mengenai pemilihan jurusan ini. Untuk kasus seperti ini, saya membagi dua jenis anak dari segi penyikapan. Pertama, mengikuti apa kata guru, dengan terpaksa maupun tidak, kedua, menolak dan berusaha menjelaskan ketertarikannya pada guru. Bagi saya, poin kedua bisa sangat menjebak. Karena jujur saja, saya belum yakin penjelasan anak mengenai opininya dan pilihan dalam hidupnya sudah dipikirkan secara masak. Di era yang segalanya serba kusut ini, anak tidak pernah dibiarkan mencari tahu, berpikir, dan memilih jalannya sendiri. Anak dianggap bodoh dan dipandang belum mampu untuk melangkah sendiri. Bullshit. Itu semua hanya akan merugikan anak. Otak dan kegunaannya sebagai alat berpikir tidak digunakan jika anak terus menerus diarahkan. Pemberontakan secara represif bahkan bisa terjadi jika pembelokan dilakukan untuk menjauhkan anak dari apa yang diingiinkannya.

Sekolah yang saya huni sekarang sangat membantu membuat indera-indera saya terbuka. Bagi saya, sebesar apapun pengaruh guru, tetap saja tidak ada yang dapat menghalangi ketertarikan dan minat anak didik untuk mempelajari suatu bidang ilmu. Itu menurut saya. Demokrasi, hemat saya, sangat dibutuhkan dalam pemilihan jurusan yang seringkali dianggap remeh. Pemilihan jurusan memang bukan mainan. Masa depan ditentukan melaluinya. Maka dari itu, gengsi dan pandangan subjektif mayoritas orang, banyak menggagalkan potensi manusia. Banyak orang yang menjadi munafik karena itu, ketertarikan yang sesungguhnya bisa berkembang menjadi keistimewaan di diri anak didik bisa diabaikan begitu saja hanya gara-gara gengsi.

“Nak, apa dirimu siap dengan pandangan orang banyak mengenai jurusan sosial? Saya tidak mau kamu menyesal karena tidak mengambil kesempatan untuk belajar sains.” Itulah. Kalimat bodoh yang sering terlontar dari mulut orang tua. Kenapa orang tua tidak memberikan kesempatan anak-anaknya untuk membenahi pandangan orang yang dalam konteks ini adalah negatif? Dan lagi, orang tua berpendapat seolah bidang yang bukan pilihannya akan membuat si anak menyesal. Usaha orang tua, dalam hal ini juga termasuk guru, untuk mempengaruhi anak itu mengandung unsur-unsur kekerasan terhadap kebebasan anak. Jurusnya ya melalui penciptaan gengsi di diri anak. Pandangan subjektif mayoritas orang digunakan sebagai alat pemuas pribadi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s