Sebuah Percakapan Fiktif


Lagi apa? Ada tugas buat besok?

Tugas nggak ada, tapi ada ujian agama. Kenapa juga sih kita harus punya agama?

Soalnya kalau nggak punya agama dunia bakalan kacau. Semua orang seenaknya. Nggak ada akan takut dosa. Banyak juga orang yang stress gara-gara terlalu mengejar hal-hal duniawi. Orang-orang nggak akan punya harapan dan tempat untuk berlindung ketika udah nggak ada lagi yang peduli dengan dirinya.

Tapi begini lho, agama itu buat saya hanya simbol, perantara untuk mereka yang mempercayai Tuhan. Sepertinya nggak harus keduanya diyakini bersamaan, Tuhan dan agama.

Ya haruslah. Soalnya Tuhan itu pencipta kita. Lihat barang-barang di sekitar kamu, pasti mereka ada penciptanya. Sama, kita juga ada penciptanya. Agama itu peraturan dari pencipta kita sayaaang. Jadi harus diyakini juga.

Kalo soal eksistensi Tuhan, biarlah, saya percaya, meskipun… ya, percaya pokoknya. Dan apa orang-orang tidak pernah bertanya sebetulnya siapa Tuhannya? Begini, umat manusia melakukan kegiatan yang hanya simbol sedangkan tujuannya untuk siapa, mereka pun jarang memikirkan. Jadi sebetulnya, dengan percaya Tuhan dan tidak meyakini agama pun kehidupan bisa berjalan.

Sudah ada bukti-bukti kebesaran Tuhan. Ada juga Al-Qur’an. Sering bertanya orang itu. Apalagi orang jaman nabi. Sekarang manusia hanya bisa meyakini aja. Soalnya mana ada nabi di jaman sekarang? Ustadz atau haji nggak mungkin bisa menggambarkan Tuhan. Sekarang tanya aja pribadi masing-masing. Adanya kita karena ada pencipta atau hasil evolusi monyet.

Masalah Tuhan dan penciptaannya, sudahlah. Skip aja. Banyak hal yang bakal muncul terus untuk dibahas kalau masalah itu. Sekarang gini, umat manusia meyakini agamanya masing-masing, tanpa tahu dan mengenal agama lainnya. Bagaimana bisa manusia menerima sejak lahir agama orangtuanya dan melakukan hal-hal simbolik yang mengatakan bahwa mereka percaya Tuhan. Sedangkan kamu tahu sendiri kan bahwa semua agama pun menjunjung tinggi kebaikan.

Tapi agama yang paling baik itu Islam menurut saya. Soalnya semuanya diatur sampai hal yang paling kecil. Kenapa sih? Apa kamu ingin jadi komunis?

Memangnya kenapa kalau saya ternyata komunis?

Kita jadi nggak bisa nikah! Haha.

Hei, tidak semua komunis itu tidak berTuhan! Dan kayak yang saya bilang tadi, manusia menerima agama orangtuanya sejak lahir. Kenapa tidak ada kebiasaan memilih? Itu jadi tradisi, padahal kan setiap orang berbeda pemahaman dan pendapat tentang agama tertentu.

Tapi komunis selalu bikin saya berpikir tentang anak buahnya Lenin yang ingin membuat orang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Makanya itu, pemahaman tentang agama harus diseragamkan.

Hah? Nggak salah? Kayak robot? Penyeragaman bahwa Islam teroris? Bahwa Konghucu itu agama dengan simbol-simbol aneh? Atau alkitab sesungguhnya hanyalah sebuah buku buatan manusia?

Bukan penyeragaman kayak gitu. Tapi lebih ke pemahaman mendalam mengenai agama orangtuanya.

Yaa, bolehlah. Berarti kamu setuju bahwa setiap orang ada hak memilih agamanya masing-masing?

Berarti mereka terlahir tanpa agama?

Tanpa agama bukan berarti tidak berTuhan.

Kamu selalu memisahkan keduanya. Mana sebetulnya yang kamu yakini?

Tuhan.

Siapa memang Tuhanmu? Tidak dengan agama?

Ya, tidak dengan agama. Saya nggak tahu. Tuhan itu beragam. Yaah, Dia hanya buatan manusia. Ide manusia untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang keberadaan mitos-mitos tua.

Mengapa kamu nggak pernah ada usaha untuk melakukan sesuatu yang bersifat ketuhanan?

Untuk apa? Kan saya tadi sudah menyatakan pendapat saya bahwa setiap agama menjunjung kebaikan dan melarang keburukan. Lagipula manusia tidak bodoh.

Dan, eh, sebentar, katamu tadi, Tuhan=mitos? Apa motif kamu mengatakan itu?

Motif? Tidak ada.

Oh, mengerti. Kamu adalah tipikal orang yang percaya akan takdir. Takdir adalah pengatur. Bukan begitu?

Takdir tidak mengatur. Tapi saya percaya.

Siapa kamu sebetulnya? Alien darimana yang menyabot messanger sahabat saya? Hehe. Diskusi kita tidak biasanya kayak gini.

Haha.

Jawab!

Saya agnostik.

???

Eh, tidak, atheis.

Entahlah, saya sedang belajar mengenai keduanya. Apa perbedaannya dan hal lain tentangnya.

[Offline]

Offline karena saya seorang penentang orang kebanyakan?

Offline karena kamu anggap saya tidak berTuhan?

SH*T! MARRY YR A**HOLE, BUDDY!

[Offline]

Percakapan di atas sepenuhnya fiktif. Saya hanya terinspirasi oleh percakapan dengan sahabat saya di suatu malam. Saya pun tidak peduli mengenai isinya.

Advertisements

7 thoughts on “Sebuah Percakapan Fiktif

  1. Ah…uing jadi ragu euy naha uing teh islam ta bertuhan?
    Keren euy Ra. Meskipun uing teu pati ngarti(karena kebodohan uing)…hehe…
    Like This.

  2. Aura Asmaradana

    Itu juga pertanyaan yang sering saya ajukan kok. Dalam hal itu saya masih gamang. Ciyee, haha.
    Mana atuh jempolnya?

  3. haha bagus-bagus. tapi kasar banget terahirnya. kemana tuh offline? udh tidur ya? hehe.

  4. Boleh jadi bagi Aura percakapan tadi itu fiktif, kemudian tidak dipedulikan. Boleh jadi juga, yang fiktif itu, nyata bagi orang lain: sebagai dialog batin dan proses pencarian..

    Hmm.. Dalam sejarah Islam, ada seorang nabi yang dijuluki “bapak tauhid”, yakni Ibrahim. Mengapa? Karena dialah yang telah menjalani proses pencarian (pembenaran dan pembuktian) Tuhan, dan kemudian menemu Tuhan yang Esa, yang melingkupi jagat raya –sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran. Ibrahim “berdarah-darah” bahkan sampai dibakar hidup-hidup.

    Bagi “para pencari Tuhan” pada generasi berikutnya ada dua pilihan. Pertama, bersikap instan: menerima sepenuhnya hasil pencarian Ibrahim melalui “pewarisan” ajaran, dan tanpa resiko. Atau, kedua, menempuh proses pencarian sebagaimana Ibrahim, dan tentu saja (mungkin) beresiko..

    Btw, saya curiga, diujung pencariannya, Ibrahim betul-betul bertemu Tuhan dan mendapat garansi keselamatan, sehingga bersiteguh pada keyakinan atas pengalamannya itu. Nah, saya punya kecurigaan lain. Jika saya menempuh rute pencarian Tuhan yang benar, saya yakin bisa bertemu dengan-Nya. Masa sih, Tuhan maen kucing-kucingan..?

  5. Ra, udah baca “Conversation with God” -nya Neale Donald Walsch kalo nggak salah? Dia juga ngobrol2 gini sama Tuhan.

    Fikit enggaknya relatif =)

  6. Eh, salah, ding Ra, kalo Si Neale itu ceritanya dianya ngobrol sama Tuhan. Tante Dea tadi komentar dulu baru baca bener2. Maab, maab…. =D

    Tapi ini top banget. Salam buat temennya yang mungkin mimpi diculik E.T abis YM-an sama kamu … ehehehehe …

  7. Aura Asmaradana

    nanti aku coba cari dan baca. terima kasih ya tante deaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s