Agama=Candu


Ucap Karl Marx, “Agama adalah sisi dari makhluk yang tertekan, sentimen dari dunia yang tidak berhati… Agama, candunya manusia”. Saya baca kalimat itu di buku teks sosiologi yang menurut saya memiliki cara bertutur yang baik karena tidak hanya mengandalkan teori, tapi juga contoh kasus. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan penulis, yang membuat si pembaca berpikir tentangnya. Tapi saya bukan mau berpendapat tentang buku teks itu maupun penulisnya. Saya tertarik dengan ucapan Karl Marx di atas.

Jujur, untuk beberapa tahun di masa lalu, saya sempat menjadi seseorang yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Bagi saya, saat saya berpikir mengenai Tuhan, yang ada hanya ketiadaan. Tapi saya bukan Atheis, tak ada seorang pun yang Atheis. Dan mempercayai Tuhan berbeda dengan keyakinan terhadap agama. Menurut Nurcholish Madjid, agama adalah simbol. Saya setuju terhadap hal itu. Saat saya mencoba memahami agama-agama yang ada di lingkungan saya, saya menemukan banyak persamaan di dalamnya. Dan akhirnya, Tuhan itu ada, tapi agama bagi saya adalah sama saja, kendati setiap agama memiliki keunikan tersendiri. Itu pendapat saya, yang (sesungguhnya) terlahir sebagai seorang muslim.

Saya tidak menganggap agama sebagai sesuatu yang mudah saja untuk diyakini. Pernah, saya berhenti melakukan hal-hal yang dikenal sebagai kesalehan-kesalehan simbolik karena menganggap hal-hal itu sebagai simbol dari Agama. Ada sesuatu yang membuat kesalehan simbolik menghalangi manusia melakukan transendensi, maka seharusnya saya memahami dan berpegang kepada esensialisme simbol-simbol seperti yang saya bilang tadi.

Itu yang seharusnya. Dan saya tidak tahu apakah saya sudah berada pada jalan yang seharusnya.

Advertisements

7 thoughts on “Agama=Candu

  1. Like This Ra..
    Uing reuseup tah istilah : “Kesalehan Simbolik”.

  2. Aura Asmaradana

    nuhun.
    btw, reuseup atau resep sih? hehe

    • Jigana “resep”..eh ta “reuseup” kitu… ah teuing ah,pokona Like This (Meski tanpa jempol)..hehe..

  3. saya suka agama. agama yang tidak menyesatkan orang selain sayah:)

  4. ijinkan komentar ttg kta2 marx…hati2..marx tdk prnh ingin merusak agma tp dia menggunakan analogi agama adl candu utk titik pijak mengritik situasi sosial zmn itu yg d mana org yang tertekan oleh keadaan sosio-politik akn mdh lari ke agama yg mnwrkn ‘hiburan’ shg lupa pd realita..

  5. Aura Asmaradana

    Ya, memang Marx, bersama dengan Weber dan Durkheim saat itu sama-sama menaruh perhatian pada pengaruh proses industrialisasi karena industrialisasi itu berpengaruh terhadap bentuk-bentuk kelembagaan agama di Eropa. Tapi yang saya baca, Marx malah secara aktif mengharapkan penyingkiran agama. Ia melihat agama sebagai simbol dari kegagalan pemakaian [yah bahasa gayanya malfunction] dalam masyarakat yang sepenuhnya sosialis yang tidak akan memerlukan pemecahan-pemecahan masalah yang ditawarkan kekuatan gaib.

    • ijinkan aku bnyk brkicau (mgkn sgt teoritis) krn pkok marx sgt mnrik bgku slm smstr 3 kmrn. ad prbdaan mndsr antra ajaran marx dgn marxisme (yg diradikalkan leninisme) ataupun antara marx muda dan marx tua. tp ak g akn msk k stu. hny ign mnunjukkan kdg kla bnyk org slh tafsir mgnai ajaran marx yg diambil dr marxisme-leninisme. slh stuny kritik agmany. ak hny ingn mndsrkn dr ajrn marx dr introduction to the critique of hegel’s philosophy of right, karl marx/friedrich engels, werke. utk mbrkn titik seimbang. kritik agma (agma adl cndu) hrs diphmi prtama-tama dr pmknaan fils. negara Hegel yg kmdian dikritik oleh feuerbach. inti kritik feuerbach=wrga ngralah yg mrpkn knytaan dsr ngr bkn roh. nmn dlm kritikny thd agama, feuerbach brhnti pd pmhaman bhw agama=tnd kterasingan mns dr dirinya. bg marx, dia tdk konsekuen. marx mlnjtkn pnlisikanny dg brtanya, “mgpa mns smp mngsingkn dri pd agma?”. bg marx “agma adl realisasi hkikat mns dlm angan2 krn hkikat mns tdk pny realitas yg sggh2” (ichr, mew 1, 378). agma skligus ungkpn pndrtaan yg sggh2 dn protes thd pndritaan yg snggh2. agma adl klihan mkhluk yg terteka, prasaan dnia tnp hati, sbgaimana ia adl roh jaman yg tnp roh. ia adl cndu rakyat (ichr, mew 1, 378). tp dr stu, ia mmhmi agma hnylah gjala skunder keterasingan mns shg krtik tdk blh brhnti pd agma spt feuerbach krn (istilahku: krtk pd agma hny akn mrsk bunga dan bkn mrsk blenggu pd bunga itu, pdhl yg jd sbb adl belenggu bkn bunganya). mka mnrt marx, kritik agma hrs brubah jd kritik masy. (bhs rm magnis: kritik agma feuerbach bg marx hnylah titik pijaknya pada kritik masyarakat scr real). “kritik surga brubah jd kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hkm, kritik teologi jd kritik politik” (ICHR, MEW 1, 379). jd d sni marx ingn mbdkn mana yg jadi faktor sekunder (agama) dna fktor primer (keadaan masy, ekonomi). stl hal ini, ia tdk bnyk mnyinggung mngenai agama scr teoritis. sygnya, hal ini krp disalhphami olh bnyk pgnut marxisme ortodoks yg berciri bahwa agama adl tnd masyarakat berkelas shg dianggap sbg cacat (menjdi unsur determinisme, padahal marx tdk 100% merangkut determinisme spt itu).

      yg bisa disarikan adalah marx mengritik agma bila agma itu menjadi batu sandungan bagi rkyt utk menghadapi realitasnya dalam masyarakat (tetapi ia tidak pernah melihat bahwa agama yg bs membawa pd perubahan pd realitas masyarakat harus disingkirkan). hal ini yg krp kali tdk terbedakan dlm buku2 ttg marxisme (karena dasarnya bkn pd ajaran marx tp pd marxisme ortodoks atau leninisme yg mmg radikal – di indonesia nampak dlm komunisme yg ditolak drijarkara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s