Politik Serius (?)


Beberapa orang pernah menghampiri saya. Banyak di antara mereka yang sebetulnya tidak memiliki hubungan yang begitu dekat dengan saya. Melalui pertanyaan, pernyataan, atau diskusi panjang, mereka ternyata memiliki pokok persoalan yang sama. Saya ditawari bergabung dengan komunitas mereka yang beragam. Terlihat dari cerita-cerita mereka, kebanyakan komunitas adalah ajang untuk berdiskusi tentang macam-macam hal yang banyak dipertanyakan anak muda. Beberapa bahkan sepertinya memiliki hubungan dengan hal-hal berbau politis. Memang berat menjadi “anak baru gede” yang ingin banyak tahu seperti saya. Saya mesti pandai memilih. Dalam keadaan seperti ini, saya hanya butuh sebanyak mungkin informasi yang membuat saya puas, dengan catatan: informasi yang murni dan netral. Bukan informasi yang berusaha membawa pikiran saya ke dalam aliran pemikiran tertentu. Apalagi politik yang biasa saya sebut dengan politik serius. Nah, kini perkenalkan sang politik serius itu. Di mata saya, dia itu punya banyak sifat: memaksa mengenal, mencekoki, dan jika berhasil, menggunakan siapapun dan apapun dengan caranya sendiri. Benar atau salah cara itu? Jarang orang yang tahu cara dan tujuannya, jadi hanya sedikit orang yang bisa menilai. Dan lagi, jangan harap penilaian itu seluruhnya objektif.

Kenapa politik di kepala saya begitu? Pengaruh berbagai kasus politik di mediakah? Begini, suatu hari, saat kelas saya, yang hanya berisi anak-anak sosial sedang belajar tentang perkembangan dunia islam modern dari sekitar tahun 1800 hingga kini. Saat sampai di bagian perkembangan politik islam, guru saya bertanya, “Sebetulnya apa sih itu politik?” katanya. Hening. Saya pun mengunci bibir saya rapat-rapat, bukan untuk berpikir, tapi saat itu saya tak ada gairah untuk mengenalnya lebih jauh. Pak Hegar, salah satu guru bahasa dan sastra Indonesia yang kebetulan ada di dalam kelas mengatakan bahwa politik menurut bahasa itu adalah sebuah proses. Proses apa? Entahlah. Di tengah cuaca mendung tapi menguras banyak keringat itu, saya tak menyimak. Dan ternyata, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik punya tiga arti yang semuanya memiliki hubungan dengan urusan kenegaraan. Lalu? Tak ada lalu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa betapa pandai dan cepat politik membuka genggaman, mengeluarkan cakar, dan menggenggam siapapun dan apapun yang dia butuhkan! Termasuk orang-orang yang sedang ingin mencicipi segala seperti saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s