Multikulturalisme dalam Film Layar Lebar Nasional


Indonesia sebagai salah satu negara pemilik masyarakat multikultural memiliki banyak keuntungan. Salah satunya keuntungannya yaitu dalam hal kreativitas. Perfilman Indonesia menjadi topik yang sedang hangat diperbincangkan. Film di Indonesia belakangan ini meningkat jumlah peminatnya. Diluar selera pasar yang menurut saya semakin menurun, ada banyak ide-ide cemerlang untuk membangun film-film Indonesia jadi lebih baik. Hal ini membuat kancah perfilman semakin ramai oleh macam-macam genre, jalan cerita, dan tokoh. Tanpa disadari, keberagaman tersebut dipengaruhi juga oleh masyarakat multikultural yang ada di Indonesia. Banyak film-film yang mengangkat cerita orang-orang berlatar belakang berbagai ras, suku, maupun agama.

Nagabonar Jadi Dua, misalnya. Film yang merupakan sekuel dari film Nagabonar ini mengedepankan dua orang tokoh, yaitu Nagabonar dan Bonaga. Mereka adalah ayah dan anak yang bersuku Batak dan tinggal di Ibukota Jakarta. Jakarta, sebagai ibukota Indonesia yang sering disebut sebagai kota metropolitan, memiliki banyak jenis manusia di dalamnya. Dalam film Nagabonar Jadi Dua, diceritakan terdapat tokoh Ronny, Pomo, dan Jaki, teman Bonaga yang berbeda-beda suku. Ketiga dari mereka ada yang asli dari Betawi, Sunda, dan Jawa.

Multikulturalisme diperlihatkan tidak hanya pada tokoh-tokoh utama dalam film. Dalam film Nagabonar Jadi Dua, ada seorang tokoh bernama Babah Liem. Babah Liem, yang merupakan seorang pemilik restoran makanan Cina, adalah seorang keturunan Cina yang menetap di Jakarta. Bukan hanya Babah Liem, tokoh bernama Olin dalam 30 Hari Mencari Cinta pun merupakan keturunan Tionghoa. Ia berperawakan tinggi, berkulit putih, dan berwajah oriental.

Kejar Jakarta adalah sebuah film komedi Indonesia yang termasuk sering mengumbar orang-orang dengan suku-suku di Indonesia. Meskipun digambarkan dengan sangat stereotipe, hal ini menunjukkan ada kebanggaan tertentu yang ingin diperlihatkan terkait keberagaman suku di Indonesia. Tokoh utama film ini adalah Ujang dan Dadang, yang berasal dari suku Sunda. Kota tempat mereka tinggal, Sumedang menjadi semakin membuat rindu saat mereka memutuskan untuk mencari keuntungan di Jakarta. Lagi-lagi, Jakarta digambarkan sebagai kota metropolitan yang berisi banyak orang dari berbagai ras dan suku. Beberapa diantaranya adalah sang penagih hutang yang berasal dari suku Ambon dan Mak Tiur, sang pemilik warung makan yang asli Betawi.

Dalam film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja garapan Garin Nugroho, ada seorang tokoh bernama Arnold. Ia adalah seorang anak laki-laki asli Papua berusia lima belas tahun yang jatuh cinta pada Kasih, seorang wanita berusia dua puluh lima tahun. Mereka berdua sama-sama merupakan Kristen yang taat. Tapi mereka berdua berbeda ras. Arnold memiliki ciri-ciri fisik layaknya anak Papua lainnya, berkulit hitam dan berambut ikal. Berbeda dengan Kasih yang bukan asli Papua. Warna kulit Kasih putih, rambutnya lurus dan hitam legam. Dalam film ini, masalah multikultural menjadi salah satu permasalahan yang diangkat. Di satu adegan, Kasih melakukan pengakuan dosa kepada pastor. Sebagai seorang kulit putih yang merupakan minoritas di tanah Papua, ia bercerita mengenai perasaan bersalahnya saat melihat ulah keserakahan orang-orang yang kebetulan berkulit putih di Papua. Perbedaan telah menjadi sesuatu yang meresahkan dan memicu banyak krisis. Termasuk krisis dalam kehidupan pribadi seseorang. Dalam hal ini, telah timbul satu dampak atau akibat dari multikulturalisme.

Tapi dampak atau akibat dari multikulturalisme tidak melulu merupakan hal yang negatif. Para penikmat film Indonesia sudah bisa membuktikan bahwa masyarakat multikultural yang dimiliki Indonesia bisa mengembangkan kreativitas dalam berkarya, khususnya membuat film. Beragam karakteristik dan latar belakang tokoh dalam film memperlihatkan betapa Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang dapat dieksplor.

Dengan memperdalam tentang wacana multikulturalisme di Indonesia, siapapun dapat membuatnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati orang banyak, seperti halnya film. Berarti semakin kita menghargai multikulturalisme yang dimiliki Indonesia, semakin banyak buah kretivitas yang bisa dihasilkan.

Advertisements

One thought on “Multikulturalisme dalam Film Layar Lebar Nasional

  1. halaman yang menarik sekali,saya suka sekali dengan paparannya.
    bergabung bersama kami IMPULSE (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies)
    visit our pages ;
    Facebook : http://www.facebook.com/home.php?sk=lf#!/profile.php?id=1547503615
    twitter : http://twitter.com/IMPULSE_jogja
    dan website kami impulse.or.id
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s