Kebonwaru: Sebuah Kenangan


Saat seorang manusia menderita karena suatu masalah, seringkali ia berpikir tentang kehidupan yang tidak adil dan memuakkan, tentang bagaimana Tuhan bertindak tidak adil dengan hanya memilih orang-orang tertentu untuk menjadi sempurna, dan tentang orang-orang di sekitar yang sering tidak mendukung pemikiran atau pendapat. Saya pun terkadang begitu. Lalu dihadapkanlah saya pada orang-orang yang membuat saya menyadari betapa problematika hidup memang dialami oleh setiap insan di muka bumi.

Sekolah saya, Mutiara Bunda memberi saya dan teman-teman waktu, juga memfasilitasi kami untuk mengunjungi teman-teman di Rumah Tahanan Kelas I Kebon Waru, Bandung. Sebelumnya saya sudah sering mendengar tentang Kebon Waru. Tapi saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa di sana tinggal juga anak-anak. Di Kebon Waru, saya, teman-teman dan guru Mutiara Bunda bertemu dengan anak-anak yang tinggal di rumah tahanan itu.

Perjalanan ke Kebon Waru dipastikan penuh ketegangan, terlihat dari wajah sebagian dari kami yang memasang wajah tegang. Kami sama sekali belum tahu bagaimana kondisi di dalam sana. Dari beberapa cerita teman-teman, saya tahu bahwa pikiran buruk tentang para tahanan membuat beberapa teman saya takut. Momen itu yang pertama kali buat kami. Sesampainya di sana, kami masuk melalui pintu besi yang biasa saya lihat saat saya melalui jalan raya di depan rumah tahanan. Tidak dapat saya sangka, saya bisa mencoba memasukinya. Beberapa petugas menyambut dan segera menjalankan beberapa prosedur. Yang laki-laki diberi cap di tangan. Akhirnya kami bertatap muka di sana. Di dalam sebuah ruangan yang berukuran sekitar 7×7 meter. Ruangan yang besar memang, tapi hampir setiap harinya, ruangan tersebut dipakai untuk belajar oleh kurang lebih sembilan puluh empat anak.

Menurut hukum, anak-anak adalah orang yang usianya di bawah delapan belas tahun. Itu adalah waktunya proses pembentukan karakter seseorang. Tapi puluhan anak laki-laki berada di sana, jauh dari kebebasan yang bisa mereka dapatkan jika berada di luar rumah tahanan. Dan secara otomatis, karakter mereka terbentuk di dalam rumah tahanan yang tidak menjamin terbentuknya karakter mereka dengan baik. Di tempat itu mereka jauh dari orang tua, orang yang sangat berpengaruh besar pada kehidupan seorang anak. Ditambah lagi, kehidupan mereka di dalam rumah tahanan jauh dari layak. Makanan yang mereka terima sehari-hari hanya berupa nasi kurang matang dan berkualitas rendah. Juga ada sayur sop dengan sangat sedikit sayuran di dalamnya, dan daging keras yang sulit untuk dikunyah. Mereka menyebutnya “sop lincah” dan “daging jepret”. Pendidikan pun mereka dapatkan dengan fasilitas yang tidak memadai. Pendidikan yang mereka dapatkan bukan dari pihak rumah tahanan, melainkan dari sebuah lembaga yang berinisiatif untuk membangun pendidikan di dalam rumah tahanan. Tanpa lembaga tersebut, bagaimana jadinya?

Lalu tentu saja, yang paling penting, mereka tidak bisa mendapatkan kasih sayang seperti yang seharusnya anak-anak seusia mereka dapatkan.

Saya sempat mendengar sekilas dari pihak-pihak yang dapat dipercaya bahwa kekerasan adalah hal yang dekat dengan kehidupan di dalam rumah tahanan. Dalam hal ini berbagai jenis kekerasan, dari diskriminasi yang disebabkan oleh rasisme sampai pelecehan seksual. Kekerasan-kekerasan itu pasti bisa jadi salah satu hambatan psikologis buat mereka.

Kekagetan saya kembali muncul waktu saya melihat bakat dan kemampuan mereka. Mereka hidup di dalam rumah tahanan saja, itu adalah suatu kemampuan. Kemampuan untuk sabar menerima kenyataan bahwa mereka memang harus menjalani hukuman atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Mereka juga pandai bermusik, bermain sulap, belum lagi kemampuan mereka menggubah lagu beserta syairnya yang luar biasa indah dan membuat mata saya sempat berkaca-kaca. Bahkan beberapa dari kami menangis terharu. Lalu yang paling jadi perhatian saya adalah cara berbicara salah satu dari mereka di depan umum yang menurut saya sistematis. Beberapa kalimat pengandaian dan analogi yang tidak biasa meluncur dari mulutnya, membuat saya kagum. Cerdas.

“Dulu saya sempat berpikir tinggal di penjara itu enak. Makan dikasih, tidur ada tempatnya. Tapi ternyata semua itu bohong. Kita di sini sedih. Perut kita memang terasa kenyang oleh makanan, tapi hati kita lapar…” Saya terhenyak. Gila nih orang. Pikir saya. Tenggorokan saya tercekat menahan tangis waktu kalimat itu dikatakan oleh Egi, seorang tahanan yang mau bercerita pada kami. Betapa mereka haus akan kasih sayang. Dan betapa bahagianya saya ketika dia mengungkapkan bahwa kedatangan kami membuat mereka senang. Saya merasa yakin bahwa kesenangan mereka lebih dari sekedar kesenangan menerima sejumlah makanan dan bingkisan dari kami. Saya merasa yakin mereka senang dan bangga atas perhatian kami.

Anak-anak yang berada di sana mayoritas adalah pelaku pencurian dan penganiayaan. Sebagian besar anak-anak yang melakukan penganiayaan adalah anggota geng motor. Saya kembali mengingatkan diri saya bahwa mereka adalah anak-anak yang seharusnya mendapat kasih sayang orang tua. Saya mendengar cerita tentang orang tua salah seorang anak yang tidak pernah menjenguk anaknya sekalipun. Dari situ dapat terlihat kesalahan anak telah menjadi aib yang berusaha ditutupi keluarga. Apa yang anak-anak itu lakukan adalah kejahatan yang seharusnya dibenahi. Bahkan mungkin kejahatan-kejahatan itu adalah buah dari kesalahan orang tua. Tidak seharusnya orang tua malah meninggalkan anaknya tanpa sedikit pun kasih sayang.

Saya membayangkan hal apa yang mereka akan lakukan sekeluarnya mereka dari rumah tahanan. Ada anggapan yang sudah tertanam di benak mayoritas orang tentang betapa memalukannya penjara. Anggapan itu pasti akan membuat para anak-anak mantan tahanan itu dijauhi di lingkungannya. Dengan dijauhi, anak mungkin saja akan merasa hidupnya tidak berguna lalu putus asa. Saya pernah diceritakan cerita tentang seorang anak yang saat keluar dari penjara lebih memilih untuk hidup di jalanan. Dia pun sangat bangga akan dirinya yang adalah seorang mantan tahanan. Ironis.

Saya dan mungkin juga teman-teman Mutiara Bunda yang lain dihibur di sana, di sebuah rumah tahanan. Pelajaran yang dapat diambil dari para tahanan pun berlimpah. Saya pribadi lebih bersyukur atas apa yang sudah saya raih sekarang. Mudah-mudahan keputusasaan juga tidak lagi menghadang jalan saya menuju cita-cita, karena teman-teman yang mendekam di rumah tahanan pun hingga kini masih punya dan berusaha mewujudkan cita-citanya yang luar biasa tinggi.

Pertemuan kami diakhiri dengan doa dan nyanyian yang hadir dengan reflek kami nyanyikan. Juga dengan usapan tangan beberapa tahanan yang mencoba menghapus genangan air di pelupuk mata saat Pak Ridwan, guru pendidikan agama, membacakan doa dengan khidmat diiringi petikan gitar syahdu seorang tahanan.

“Segala yang ada dalam hidupku, kusadari semua milikMu, ku hanya hambaMu yang berlumur dosa // Tunjukkan aku jalan lurusMu, untuk menggapai surgaMu, terangiku dalam setiap langkah hidupku…” Itu nyanyian kami. Para tahanan dan murid Mutiara Bunda.

Saya adalah anak-anak biasa, yang juga cinta kebebasan. Dulu saya sering mengeluh saat kebebasan saya dihentikan oleh orang-orang di sekitar saya, sampai akhirnya saya menyadari bahwa setiap orang memiliki hal-hal yang tidak seharusnya dijadikan prioritas. Lalu saya bertemu dengan teman-teman di Kebon Waru. Momen itu semakin menyadarkan saya bahwa hidup akan sia-sia jika saya tak berusaha memahami diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

Teman-teman di Kebon Waru juga hanya anak biasa, yang terlihat dari fisiknya, tidak berbeda dengan kami, para murid Mutiara Bunda. Puisi yang saya lampirkan adalah sebuah puisi dari seorang penyair yang luar biasa saya idolakan. Elegy ini saya persembahkan untuk teman-teman di rumah tahanan. Saya terus berharap agar orang-orang seperti mereka tidak kehilangan semangat. Semangat untuk hidup membenahi diri agar lebih baik dan semangat tanpa keputusasaan. Karena kehidupan hanya putus oleh kematian, bukan penjara atau rumah tahanan.

I am not too proud to cry that He and he

Will never never go out of my mind.

All his bones crying, and poor in all but pain,

Being innocent, he dreaded that he died

Hating his God, but what he was was plain :

An old kind man brave in his burning pride.

_Dylan Thomas_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s