Indonesia Terbuka


Keterbukaan suatu negara sudah pasti akan menyebabkan negara tersebut akan mudah menerima suapan budaya atau hal lain dari luar. Itu memang menyebabkan budaya asli sulit dilestarikan karena masuknya budaya lain. Tapi tanpa disadari, keterbukaan suatu negara juga merupakan suatu kelebihan. Masyarakat di negara tersebut bisa menjadi masyarakat yang plural atau sering disebut dengan masyarakat multikultural. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya penyatuan beberapa budaya yang melahirkan satu atau lebih kebudayaan baru. Disebut juga akulturasi budaya.

Nah, sekarang coba kita bahas tentang negeri kita, Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia sangat mudah menerima budaya-budaya yang masuk. Buktinya, teknologi informasi seperti internet dan medianya (komputer, notebook, netbook, dan handphone pintar) yang berasal dari luar Indonesia, sudah sangat banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Karena teknologi informasi, bangsa Indonesia mulai tertarik untuk memproduksi barang-barang elektronik. Meski tentu saja, tidak secanggih buatan luar negeri. Tapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspor-impor barang-barang elektronik. Yang sangat mudah dilihat adalah, hasil dari kebudayaan yang masuk melalui media-media informasi tersebut. Misalnya budaya anak muda Jepang yang berisi anime atau kartun jepang, dan cara berpakaian yang biasanya dikenal dengan sebutan harajuku. Budaya-budaya tersebut dengan mudahnya merasuki kebiasaan anak-anak muda Indonesia.

Anime dan cara berpakaian orang Jepang tersebut di beberapa kesempatan seringkali disatukan dan membuat satu kata baru, yaitu cosplay. Cosplay merupakan budaya meniru kostum tokoh-tokoh anime atau kartun jepang. Terkadang, di dalamnya diselipi gaya-gaya berpakaian harajuku yang sangat khas anak-anak muda Jepang.

Bila dilihat secara cermat, bangsa Indonesia seringkali diajarkan banyak hal mengenai kompetisi oleh kedua kebudayaan dari Jepang tersebut. Sejak cosplay melejit, terutama di kalangan anak muda Indonesia, kompetisinya semakin banyak ditemukan. Peminatnya pun tidak pernah sedikit. Bahkan, banyak kelompok-kelompok penggemar cosplay yang bermunculan di berbagai kota. Kompetisi-kompetisi yang hadir tersebut membuat mayoritas warga Indonesia berusaha mengembangkan lagi kemampuannya dan mungkin juga dapat melejit ke kancah internasional.

Bukan hanya cosplay, di bidang fotografi pun begitu. Adanya penghargaan-penghargaan bergengsi dunia seperti Pulitzer dan National Geographic Photo Contest juga membuat para fotografer-fotografer Indonesia semakin mengembangkan diri dan saling menopang untuk membawa Indonesia, sesegera mungkin, mendobrak penghargaan-penghargaan internasional tersebut.

Hal-hal seperti itu terjadi karena Indonesia termasuk negara berkembang yang ramah terhadap budaya lain yang masuk. Meski begitu, kebudayaan asli Indonesia tidak tersisih karena budaya lain. Batik asli Indonesia masih sangat dibanggakan dan diperjuangkan kiprahnya oleh seluruh masyarakatnya hingga mendapat pengakuan internasional. Dalam cosplay, batik sudah berhasil dipadu-padankan pada pakaian tokoh-tokoh anime. Di bidang fotografi pun, fotografer Indonesia maupun mancanegara sangat gemar mengangkat eksotisme budaya dan sumber daya Indonesia yang merupakan objek menarik bagi sebuah foto. Lalu membawanya ke kancah internasional.

Indonesia sebagai negara berkembang juga patut dihargai. Karena keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya yang masuk dan tentunya terhadap media informasi, bangsa Indonesia jadi semakin terpacu untuk mengembangkan ide. Jika terus didukung, masyarakat Indonesia bahkan dapat mengenalkan negara kepulauannya ke seluruh masyarakat di dunia.

Seperti seorang manusia, Indonesia pun memang harus selalu merasa tidak nyaman dengan dirinya dan kemajuan negara lain. “Rumput tetangga memang jauh lebih hijau”. Pepatah itu kadang harus diingat masyarakat Indonesia. Saya yakin, dengan ketidaknyamanan akan itu, Indonesia akan dapat terus berusaha membenahi dirinya!

Terima kasih kepada Kompas MuDA – KFC yang sudah membuat saya berpikir dan menulis tentang ini…

(Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC)

Advertisements

11 thoughts on “Indonesia Terbuka

  1. sarahasyazzahra

    wow!

  2. Salam,
    Tulisan yang sangat cerdas, menilik besarnya “rasa malu” anak muda Indonesia terhadap budayanya sendiri, tulisan ini bisa untuk sekedar mengingatkan mereka, betapa budayanya perlu juga untuk diglobalkan, bukannya malah malu dan membanggakan kebudayaan orang lain.

  3. ya emang seharusnya begitu,rela berkorban dan selalu menghargai sejarah masa lalu

  4. wah anakku cerdas sekali nih. nilai bahasa Indonesia 90. nilai gagasan 80; nilai pemaparan 75.

  5. baru tau kalo ada kompetisi cosplay yang menyusupkan batik. menarik…

    semoga suatu hari, tiba giliran budaya indonesia yang masuk ke dalam negara lain. (seperti yang diharapkan penulisnya, heuheu..) karena, sepembacanku, kalo dari tulisan ini kan sepertinya ide-ide, yang dikatakan kreatif ini, lahir bukan sebagai budaya utama, tapi masih menjadi sisipan budaya luar..

  6. spectacular,,excellent ra!! ide-nya keren..ada manfaatnya jg ya pelajaran sejarah akulturasi bo.. xixi,, tp diluar itu tulisan kmu oke bgt ra,,”masyarakat adalah bagian yang tak terpisahkan dari satu negara. Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat harus menyadari keterlibatan kita dalam kehidupan bernegara, termasuk dalam hal membangun citra dan mempertahankan budaya Indonesia.” two thumbs up

  7. bagus,ra
    menarik buat di baca
    kenapa g suku Aphace aja yang dibahas itu lebih keren.
    hahaha

  8. wow ra. kenapa ga nulis tentang susi dan tejo? dia kan masyarakat indonesia asli tanpa asimilasi

  9. ibu selalu bisa mengandalkanmu say…. pertajam fokusnya…adakan penelitian kecil, tambahkan ide2 gemilang dari sumber bacaan yang pernah kamu baca… I proud of you ra…. ganbate kudasai 🙂

  10. siap, bu.
    tunggu aja tulisan berikutnya. tapi nanti soalnya saya lagi suka nulis cerpen nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s