Biarlah Dia Dibakar…


“Sekali lagi kalian semua membahas tentang Tuhan, aku akan lebih cepat mati.” Seringkali dia berujar. Tapi setelah tujuh kali pergi ke gereja untuk misa bersama keluarganya, dia tak kunjung mati. Padahal, yang dia kunjungi adalah tempat ibadah. Tempatnya berinteraksi dengan Tuhan.

Saya selalu berharap dia mati secepatnya. Menghilang dari dunia dan tak lagi berbicara seolah-olah dia adalah manusia paling kontroversial di dunia. Manusia paling berontak. Manusia paling benci kehidupan. Tapi toh hal-hal sederhana seperti pergi ke gereja dan membawa alkitab tidak pernah dihindari. Lagipula Pak Pendeta berkata terakhir kali dia datang ke gereja dan melakukan pengakuan dosa itu dua hari yang lalu.

Dia bilang dia benci Tuhan. Tidak percaya, bahkan. Tapi toh sebenarnya dia takut kepada keluarganya. Keluarga yang taat beribadah dan rajin mengingatkannya agar selalu ingat kepada Tuhan. Lalu sesungguhnya apa yang membuat dia bertahan hidup? Saya tidak berkata bahwa saya ingin Tuhan segera menjemput nyawanya, tapi kenapa dia tak mengakhiri hidupnya sendiri saja? Karena dia sering berkata,

“Aku malas menjalaninya.” Saat ditanya tentang kehidupannya.

“Aku membenci mereka.” Saat ditanya tentang keluarga dan orang-orang terdekatnya.

“Dan aku tak tahu benda apa yang membuatku hidup di dunia.” Katanya. Dan setelah mengatakannya dia akan terus mengumpat, mengucapkan sumpah serapah.

Tapi betapa gobloknya dia ketika dia tak juga mengakhiri hidupnya

Dan saya selalu merasa malu menjadi salah satu tetangganya.

Toh dia akhirnya mati. Dibakar hidup-hidup oleh sekumpulan orang yang mengaku merasa Tuhannya dilecehkan. Sekumpulan orang itu tampak seperti para penganut ajaran Kristen yang kontra terhadap para penganut aliran yang diduga penyihir di abad pertengahan. Saya tidak pernah tahu mengapa mereka memilih membakar hidup-hidup dibanding menembak atau membacok.

Dan pada akhirnya, akupun benar-benar percaya, yang dia ucapkan hanyalah kata-kata yang invalid. Bukan yang sebenarnya. Bukan seperti yang dia rasakan sesungguhnya. Tapi untuk apa dia membuat untaian kata tanpa syukur itu keluar dari mulutnya? Di mana untungnya? Bodoh. Dia tampak seperti anak yang terlahir tanpa bisa memikirkan ucap dan perilaku yang akan dilakukannya. Biarlah dia dibakar. Itu akan dapat membuatnya tahu ada atau tidaknya Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s