Untitled


Sudah hampir jam satu dini hari. Ini malam kedua angkot saya sepi. Padahal sebelum waktu tarawih saya menemui jalanan ramai. Beberapa pasar lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena bulan puasa, orang-orang berduyun-duyun pergi belanja ke pasar. Tapi setelah selesai waktu tarawih, angkot saya sepi penumpang. Seperti sekarang, penumpang hanya satu. Seorang bapak-bapak berperawakan gendut yang duduk di pojok sebelah kanan. Saat saya meliriknya lewat spion, dia tertidur. Suasana sepi. Jadilah penghasilan saya sebagai supir angkot berkurang, hanya lebih sedikit dari uang setoran yang harus disetorkan. Tak apalah. Yang penting masih cukup untuk uang jajan anak saya, Tiara. Saya mengencangkan musik yang berkumandang dari radio. Lalu tanpa sadar mengenang istri saya yang menceraikan saya. Waktu itu saya berhenti kerja jadi pegawai pabrik. Pabrik saya bangkrut beberapa hari setelah kami, para pegawai, berdemo karena dihutangi gaji selama tiga bulan. Saya merasa hancur waktu itu…

“Kiri… Kiri…” Dengan reflek, kaki saya menekan pedal rem dan memutar setir ke kiri. Lamunan saya buyar. Bapak-bapak itu turun dengan wajah masih letih meskipun sudah sempat tertidur pulas. Dia menyerahkan tiga lembar uang seribuan lecek.

Angkot saya kosong lagi. Perjalanan ke rumah masih jauh. Meski selarut ini, saya masih berharap ada penumpang yang mau naik.

Saya memicingkan kedua mata saya saat melihat dua orang perempuan muda melambaikan tangannya, menghentikan angkot saya. Saya menepi. Dari sebuah jalan kecil di samping kiri pasar, terlihat beberapa gerombolan orang yang baru saja bubar dari suatu tempat. Setahu saya, itu gedung pertunjukkan. Terlihat beberapa umbul-umbul dan spanduk rokok di sekitar gedung. Kedua anak muda itu memilih duduk tepat di belakang saya. Keduanya berbincang saat saya memulai kembali perjalanan. Pikiran saya hampir kosong. Lalu percakapan kedua anak itu masuk ke telinga saya diantar oleh angin yang datang dari pintu belakang angkot. Cukup lama keduanya berbincang. Lalu salah satu anak membuat kaki saya reflek menekan pedal rem. Lalu menepi. Hanya satu yang turun. Anak yang satu lagi sepertinya merasa sepi tanpa temannya. Saya melirik padanya melalui kaca spion. Ukuran tubuhnya sama seperti Tiara. Mungkin juga usianya. Hanya saja rambutnya lebih pendek dan acakadut. Ia termenung sesaat, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kanan jaketnya. Ia mengeluarkan sebatang, lalu memasukkan lagi bungkusnya ke saku. Saya mengawasinya lewat kaca spion. Lalu ia tampak kebingungan.

“Pak, punya korek?” Katanya. Saya kaget dan berpura-pura tidak memperhatikannya.

“Kenapa, neng?”

“Bapak punya korek?”

“Oh ya, punya, neng.” Saya meraih pemantik murahan yang berada di dashboard dan memberikannya. Anak itu meraihnya, lalu berusaha menyalakan rokoknya. Tapi angin datang begitu kencang dari pintu yang tepat berada di depannya. Saya melambatkan laju angkot. Tapi ujung rokoknya tak juga terbakar.

“Bisa, neng?”

“Aduh, pak, anginnya kencang.” Katanya malu. Lalu saya benar-benar memberhentikan angkot saya.

“Kenapa berhenti, pak?”

“Biar anginnya nggak kenceng.” Anak itu mengangguk, mencoba menyalakan rokoknya lagi, dan berhasil. Angkot saya pun kembali melaju.

“Makasih, pak.” Anak itu mengembalikan pemantik kepada saya. Saya hanya mengangguk. Saya tak tahu apakah anggukan saya dilihatnya. Lalu sekeliling jadi sepi kembali. Saya melirik anak itu. Ia terlihat menghisap rokoknya dalam-dalam, menahannya sekejap, lalu asap keluar dari mulut dan sedikit dari hidungnya.

“Dari mana, neng, malem-malem begini?” Saya mengawali pembicaraan sambil berharap itu akan jadi obrolan panjang dan mengusik sepi.

“Nonton konser musik, pak.” Asap rokok keluar dari mulutnya saat ia berkata-kata. Asapnya membumbung di bawah sinar bohlam yang redup.

“Oooh… Nggak dijemput, neng?” Karena andai saya bapaknya, saya akan menjemputnya maksimal jam sembilan malam. Tentu saja tanpa rokok.

“Ah, pak, kan saya bisa pulang sendiri.” Saya dan anak itu terdiam lagi. Sepi lagi. Saya meliriknya saat tangan anak itu terlihat mengodok-ngodok isi saku jaketnya. Kali ini sebelah kiri. Ia mengeluarkan sebungkus rokok yang terlihat masih utuh. Pundak saya disentuhnya.

“Nih, pak, ada sebungkus lagi.” Katanya sambil menyodorkan bungkusan rokok itu.

“Loh, neng, banyak amat rokoknya.”

“Sponsor acara tadi, pak. Teman saya yang tadi nggak ngerokok, jadi buat saya katanya.” Saya meraih bungkus rokok itu sambil berteriak girang di dalam hati.

“Makasih, loh, neng.” Anggukan jawabannya. Saya menatap bungkusnya.

“Saya jarang ngeroko menthol. Mahal.” Kata saya, mencoba memancingnya dalam perbincangan lagi. Ia hanya tersenyum. Di kejauhan, lima anak muda menyetop angkot saya. Saya berhenti. Mereka duduk di pojok. Dua perempuan dan tiga laki-laki. Masing-masing membawa tas ransel. Entah kenapa ingatan saya melambung kepada Tiara di rumah. Saya memikirkan aktivitasnya di rumah selarut ini. Mungkin sudah tidur, mungkin belajar, mungkin juga nonton TV. Saya berharap ia tidak sedang keluyuran.

“Jam segini pasti sepi ya, pak?”

“Iya, neng. Jam segini mah udah pada di rumah masing-masing atuh. Tapi biasanya jam setengah dua pabrik tekstil yang seberang pasar itu bubaran. Ganti sift.”

“Bapak dari jam berapa narik?”

“Cuma dari jam sembilan. Sampe ngangkut yang dari pabrik itu. Udah gitu pulang.”

“Oooh…” Terdengar bisik-bisik lima anak muda yang duduk di pojokan.

“Kalo acara musik itu emang dari jam berapa, neng?”

“Tadi mulai jam setengah delapan.”

“Suka nonton acara musik ya, neng?”

“Tergantung kalo itu, pak. Tergantung siapa yang isi acaranya.”

“Emang tadi yang maen siapa?” Anak itu menyebutkan beberapa nama yang saya tak kenali. Nama band sepertinya. Setelah itu saya hanya ber-oh panjang.

“Biasanya perempuan sebesar neng nggak ngerokok…” Anak itu hanya menatap saya lewat spion dan nyengir.

“Masih sekolah kan?”

“Masih dong, pak. Kelas tiga SMA.”

“Sebentar lagi lulus ya. Kayak anak saya.”

Saya sudah mulai mengantuk. Kelima anak muda sudah turun. Anak perempuan itu juga. Saya berbincang cukup lama dengannya. Anak itu baik. Tiara juga. Umur mereka sama-sama enam belas tahun. Hanya saja, tidak mungkin saya mengizinkan Tiara merokok dan pulang dini hari. Dulu saya berpikir, nama Tiara adalah do’a baginya. Agar hatinya sebersih mutiara.

Sebelas orang dari pabrik sudah saya antarkan ke tempat tujuan mereka. Waktunya pulang. Saya sudah membayangkan dapat rebahan di kasur palembang di depan TV. Lalu tidur sampai waktu sahur.

Saya memutar-mutar pergelangan kedua tangan saya yang luar biasa pegal begitu selesai memarkir mobil di tempat biasa. Setiap malam saya selalu begini. Tapi Tiara biasanya terbangun sebentar dan mau memijit tangan atau kaki saya sebentar sebelum tertidur kembali. Gang menuju ke rumah terang benderang. Lampu-lampunya baru diganti. Pak RT yang memerintahkan saya menggantinya. Dengan imbalan cukup. Saya selalu senang membantunya.

Saya tertegun dan langkah saya hampir terhenti ketika melihat gorden depan rumah saya terbuka separuh. Tiara pasti lupa menutupnya. Saya bergegas melangkah ke pintu rumah yang, memang seperti biasanya, tak terkunci. Saya menaruh sandal jepit kuning di atas kursi plastik hijau di teras. Saya menutup pintu dan menguncinya. TV menyala. Bau alkohol menyeruak ke dalam hidung saya. Bergegas saya menuju kamar Tiara. Ia berbaring di lantai dengan daster tidur putihnya yang semakin kusam. Terpejam. Di sekelilingnya bergeletakan kertas-kertas dan banyak botol. Saya tebak, dari situlah bau alkohol yang menyengat berasal, selain dari mulut Tiara yang menganga.

Saya menghampiri tubuh itu. Berharap ada dengus nafas yang terdengar. Tapi nihil. Tangan saya meraih beberapa lembar kertas yang tergeletak sekaligus. Barisan angka-angka berjejal di penglihatan saya. Kertas-kertas itu adalah surat-surat tagihan bayaran uang sekolahnya yang sudah berbulan-bulan ia berikan pada saya. Dan saya abaikan.

Lalu saya terlalu lemah untuk menanggung debaran keras jantung saya. Saya memandang Tiara lagi. Anak yang terpejam itu bukan Tiara. Anak itu berminuman keras dan lusuh. Apapun yang terjadi, Tiara seharusnya bersih seperti mutiara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s