Sir Johnny: Suatu Pagi


Pagi itu Sir Johnny duduk santai di teras rumahnya, di atas kursi yang tampak susah payah menahan beban dari berat badannya. Sir Johnny menunggu gerobak nasi kuning murah yang biasa melintas. Dia lapar. Koran pagi sudah selesai dibacanya sedari tadi. Dua jam Sir Johnny sudah duduk disitu, ditemani tiga koran pagi dan kue bolu dengan resep rahasia, kegemarannya.

Sebenarnya Sir Johnny tak mau lagi mengunyah bolu itu. Takut kenyang. Dia tak mau melewatkan sarapan nasi kuning. Tapi dia ingin melakukan sesuatu, seperti mengunyah, misalnya. Makanya, dia mengiris sepotong bolu dengan pisau yang tergeletak di sampingnya. Lalu saat pisau itu tersangkut sesuatu di dalam bolu, Sir Johnny menghela nafas. Dibelahnya bolu itu dan ditatapnya lekat-lekat potongan kunyit, eh… atau… sepertinya itu potongan jari manusia yang warnanya pucat dan sudah mengkerut.

“Gogo!” Sir Johnny berteriak memanggil nama pembantunya. Lama Gogo tak juga muncul. Sir Johnny memanggilnya lagi. Dan lagi. Barulah Gogo datang tergopoh-gopoh datang.

“Iya, Sir?” Gogo bertanya terengah-engah dan pelan sekali. Dia membungkuk. Sir Johnny tak menjawab, dia hanya menjambak Gogo, menarik kepalanya mendekat dan berbisik,

“Sudah saya bilang berkali-kali, jari jemarinya kau peras dengan teliti. Dan yang kau ambil darahnya saja. Biarlah jari-jarinya kau jadikan semur untuk makan malam saya! Jangan ceroboh, goblok!”

Gogo mengangguk lemah. Itu kali kedua dia melakukan kesalahan. Tapi seperti biasa, Sir Johnny cepat melupakannya saat gerobak tukang nasi kuning melintas di depan rumahnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s