Tergantung Hujan


Kami hanyalah dua anak manusia yang jarang bersama. Hanya atap dunia yang bisa kami tatap bersama. Juga apa yang terdapat disana. Atap dunia. Langit.
Kami menghitung bintang yang muncul disaat langit mendung. Mengira-ngira kapan bulan purnama akan sempurna. Menebak pukul berapa bulan akan muncul. Karena cuaca yang tak menentu, bulan terkadang muncul pada pukul lima sore. Ditemani cahaya matahari, temannya dan layang-layang yang terbang menikmati terpaan angin kencang di udara.
Lalu semakin malam. Kami akan saling memberi kabar tentang itu. Jumlah bintang dan sebagainya. Lewat pesan pendek.
Yang membuat kami tak lagi saling mengabari hanyalah hujan. Hujan membuat kami beranjak dari genting atau menutup pintu. Berhenti menatap langit.
Hujan. Ia menghentikan kami.
Tapi bukankah hujan tak akan turun berabad-abad?
Lalu saat hujan berhenti, kami akan memulai kembali cerita kami.
Semuanya tergantung hujan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s