Kompetisi


Meskipun hanya bercanda, pembicaraan teman saya tentang kompetisi memanjangkan kumis, tetap saja membuat saya berfikir panjang. Tentang bagaimana sebuah kompetisi hadir di sela-sela riuh rendah pertemanan. Sekecil apapun itu. Kompetisi membuat semuanya menjadi jelas. Terlebih untuk orang-orang tertentu yang statusnya belum jelas di mata sekitar. Bagaimana seseorang memberikan alasan untuk menolak suatu kompetisi. Alasan itu akan mempengaruhi cara pandang sekitar. Menurut saya alasan adalah ide. Setiap orang pasti mengutarakan alasan yang berbeda meskipun berada dalam kondisi yang sama. Dan dari situlah kita dapat mengambil kesimpulan tentang bagaimana orang yang menolak sebuah kompetisi memandang kehidupan. Minimal sekitarnya.

Kompetisi juga membuat manusia terbiasa dengan persaingan. Sehat ataupun yang tidak sehat. Yang satu ini penting. Mayoritas orang dari kelas satu di sekolah dasar sudah dipacu untuk menjadi ranking pertama. Jelas itu suatu kompetisi. Kompetisi sehat yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Mungkin karena terlalu dipaksa atau ditekan. Tapi siapa yang akan menyangka bahwa kata-kata: “Maaf, bisa minta tolong potretin?” yang seringkali terdengar di konser, di tempat-tempat rekreasi atau mungkin saat bertemu dengan selebritis, juga adalah sebuah kompetisi? Merujuk pada mesin-mesin yang menggerakan otak saya, hal yang baru saja saya sebutkan itu adalah sebuah kompetisi. Dari awal, saat yang mengatakan kalimat tersebut mencari sesuatu untuk dipotret bersama, dia sudah melakukan sebuah kompetisi. Tentu saja, tanpa disadari. Kompetisi untuk menemukan sesuatu yang tidak bisa ditemukan oleh orang lain.

Kompetisi memang ada di setiap menit kehidupan. Darah pun berkompetisi untuk mencapai otak pertama kali. Berebut mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah yang luar biasa sempit. Luar biasa. Tapi sebenarnya, anda tidak perlu terlalu percaya akan tulisan tentang kompetisi ini. Hal itu disebabkan karena saya hanya sedang berkompetisi. Tepatnya bukan saya, tapi otak dan tangan saya. Mereka bertaruh. Berkompetisi untuk menentukan siapa yang paling sigap bekerja. Tapi dapat anda baca sendiri, otak dan tangan bekerja sama dengan baik. Mereka berkompetisi, tapi dapat menghasilkan suatu tulisan yang sedikit berisi. Itulah yang dinamakan kompetisi sehat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s