Ketakutan


Setelah sekian lama, akhirnya saya merasakan hal yang sama seperti dulu. Saya jatuh cinta.  Jujur, dulu saya memang seringkali merasakan hal ini. Kata banyak orang, perasaan itu menyenangkan. Dan lalu seringkali diakhiri dengan patah hati. Katanya. Itu semua kata orang-orang. Tapi saya juga sering merasakan hal itu. Dulu. Dulu saya juga menganggapnya indah. Dan saya sadar, dibalik itu semua banyak hal yang akan menjadi menyakitkan di akhir cerita. Saya takut. Saya takut akan mengalami hal buruk. Penyesalan. Putus asa. Benci. Marah. Hampir selalu perasaan-perasaan itu yang hadir. Sekali lagi, perasaan-perasaan itu hadir di akhir.

Dan kini saya mempercayai sesuatu. Saya percaya bahwa saya sedang merasakan hal yang sama seperti dulu. Saya kembali merasa takut. Tidak ada satu pun alasan yang bisa mengusir atau mengubur perasaan ini dalam-dalam. Mereka berkelebat merasuki semua panca indera saya. Menutup pori-pori di seluruh tubuh saya. Sial. Sepertinya saya kembali terperangkap dalam ketakutan.

Dia. Saya tidak pernah mengenal dia sedalam ini sebelumnya. Hanya, kini dia datang. Memasuki kehidupan saya. Usaha saya untuk menghindar dari orang-orang yang diperkirakan akan membuat saya terperangkap, gagal. Dan saya mulai kesal. Saya ragu akan berhasil kali ini. Seperti cerita-cerita sebelum ini.

Dalam hal ini sebenarnya tidak ada yang patut dipersalahkan. Semuanya berjalan lancar. Saya jatuh cinta, itu hal yang baik. Menandakan bahwa saya normal. Hanya saja elemen-elemen negatif yang dikirim Tuhan mulai berdatangan. Menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Takut kehilangan. Takut putus asa. Takut gagal. Takut!

Ingin rasanya aku mengurung diri dalam loker yang sempit dan tak bernafas sesaat. Seperti panci-panci dalam lemari dapur. Saya akan meringkuk dan menghindar dari perasaan ini dan dari dia. Tapi Tuhan memutuskan saya untuk tetap disini. Memandang ke layar laptop, menulis, dan mengenang tentang kedatangan dia tadi sore.

Saya tak akan bisa menghindar. Saya harus menerima segalanya, termasuk setiap titik rasa yang diberikan Tuhan kepada saya.

Harapan saya sedikit tentang ini semua. Saya tak ingin lagi merasa takut. Saya ingin bisa menikmati cinta. Sepedih apapun akhirnya.

Advertisements

3 thoughts on “Ketakutan

  1. kak, kalo prinsip gw kak
    “jangan pernah lari dari ketakutan”
    ketakutan harus dilawan untuk mendapatkan keberanian!!!!

  2. Aura Asmaradana

    Anjrit! Gue suka gaya lu, fik! Haha.
    Thanks yaa…

  3. ahahahahaha
    ia dong
    terinspirasi dari film yg gw tonton( tp lupaaaa)
    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s