Just Me at Drawing Paper


Aku terpekur. Melamun. Pandanganku buram. Tanganku memegang kuat sebuah hamburger dalam kantung kertas. Hamburger yang besar. Tiga lapis roti dan dua lapis daging, sisanya sayuran. Dadaku terasa amat sesak. Sudah hari ke enam puluh tujuh aku merasakan sesak di dada. Apalagi setelah dalam keadaan kenyang seperti ini. Tapi aku harus menghabiskan hamburger yang tinggal seperempat lagi ini. Demi maha karyaku.
Aku menegakkan dudukku. Membasuh peluh yang kian deras mengucur. Aku memandang berkeliling. Di angkutan umum ini hanya ada tiga orang. Ditambah sang supir yang dari tadi menggumam karena mobilnya sedikit penumpang. Seorang bapak berpakaian pegawai pemerintah nampak kusut. Sudah hampir adzan maghrib. Bapak itu pasti lelah. Matanya menyipit menandakan kantuk. Kasihan. Satu penumpang lagi anak sekolahan. Perempuan. Duduk di belakang supir memandang jijik padaku tanpa henti. Tapi aku tak peduli.
Sudah tiga bulan aku menggemukkan tubuhku. Awalnya berat tubuhku enam puluh lima kilo. Tapi aku berusaha membuatnya lebih dari seratus lima puluh kilo. Tadi pagi aku menimbang tubuhku. Baru mencapai seratus dua puluh kilo.
Hei. Jangan anggap aku gila. Aku punya proyek. Sebuah proyek yang akan menjadi sebuah kebanggaan tiada batas. Sebuah maha karya. Rahasia.
“Teeet… Teeet…” Mata dan telunjukku seakan bekerja sama saat angkutan kota yang kutumpangi sampai di sudut kota, tempat rumahku berdiri. Bel berhenti kutekan kuat-kuat. Mobil berhenti. Aku turun sambil masih memegang kantung kertas erat-erat. Aku memperhatikan anak yang sedari tadi memandangku jijik itu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kaca saat aku melintas di hadapannya. Aku tetap tak peduli. Sang supir pun memperhatikan aku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku selalu heran dengan ulah orang-orang seperti mereka. Ini adalah pilihan hidupku. Mereka sudah sepatutnya menghargaiku. Aku akui dengan tubuh yang sebegini besar, terkadang tubuhku menghasilkan sesuatu yang tak enak. Bau. Apalagi jika cuaca sudah mulai tidak bersahabat dan menguras peluh. Tapi tubuhku tidak berbau sebusuk bangkai kucing yang mati dari tiga minggu lalu.
Dua hari lagi aku akan melaksanakan rencanaku. Mengerjakan proyek luar biasa yang sangat tidak biasa.
Sebagai bocoran. Aku akan membuat instalasi. Sebuah instalasi seni yang sarat makna kehidupan.
Aku memang bukan seorang seniman. Aku tidak rajin melukis atau membuat instalasi-instalasi seni. Tapi, masa bodoh! Tidak hanya seniman yang bisa membuat karya seni.
Hari esok aku lalui seperti biasanya. Tak ada yang istimewa. Hanya saja isi perutku rasanya diaduk dan terus bergejolak. Tegang. Hari yang dinanti-nanti semakin dekat. Ingin rasanya aku menyentuh matahari, menggesernya dengan bulan, dan menggantinya lagi dengan matahari. Dengan itu hari semakin cepat berlalu. Tapi aku tidak akan menjadi Bruce. Yang dapat menarik bulan dan memperlihatkannya kepada istrinya. Dan menjadi bergairah. Dan akhirnya bercinta. Jandro Almighty. Tidak. Tidak cocok.
Aku membeli dua hamburger ukuran normal keesokan harinya. Membeli kertas berbagai ukuran di toko kertas di samping kafe burger. Itu akan menjadi bagian dari maha karyaku. Lagi-lagi sebuah kantung kertas membungkus kertas-kertas itu. Mayoritas orang-orang di kota ini anti sampah plastik, katanya. Global Warming is something dangerous to us. The end of the world will come more fast. Kata mereka melalui spanduk-spanduk di jembatan penyeberangan. “Lain kali jika anda berbelanja sesuatu yang banyak di sini, bawa tas yang dapat digunakan berulang.” Begitu kata si pemilik toko. Aku hanya mengangguk-angguk.
Kaos abu-abuku mulai basah di bagian ketiak, leher, dan punggung. Lipatan-lipatan daging di leherku basah. Disaat seperti ini, aku akan duduk jauh dari orang-orang di angkutan kota. Aku tahu diri. Badanku pasti mulai mengeluarkan bau tak sedap.
Saat sampai tepat di depan pintu rumah, aku memperhatikan pintu rumahku yang sudah lama koyak di bagian bawah karena ulah rayap. Aku melaluinya tanpa rasa peduli. Toh sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini.
Sambil mengatur nafas, aku duduk di tengah ruangan seperti gumpalan kotoran yang tidak dipedulikan. Mengelem kertas yang aku beli dengan penuh kehati-hatian. Menyambungnya menjadi satu. Membuatnya menjadi besar. Aku sengaja tak membeli kertas dengan ukuran yang besar. Agar ada sesuatu yang bisa aku kerjakan dengan serius. Menguji konsentrasiku yang sepertinya tidak pernah terasah lagi.
Tujuanku membuat semua ini? Apa? Aku ingin membuat hidupku bermakna. Jauh lebih bermakna dibandingkan para anjing di kampus yang mengata-ngatai karyaku dulu. “Untuk apa membuat lukisan seperti ini, hah? Tidak bagus. Tidak indah dipandang. Bukan surealis. Bukan abstrak. Bukan apa-apa. Tidak ada artinya. Bodoh. Coba lihat mural buatan kita. Lihat lukisan dan instalasi kita! Yang elo buat bukan karya seni. Tapi sampah!” Kata-kata itu menusuk kedua telingaku. Membuat gendang telingaku berteriak dan muak. Menguliti setiap inchi bagian tubuhku.
Setahun yang lalu aku masuk fakultas seni rupa di sebuah universitas. Aku membuat banyak hal. Lalu dikatai sampah. Mentalku lemah. Aku trauma. Dan kini aku di kota ini. Tak pernah kembali lagi ke sana. Muak.
Hari sudah berlalu ketika aku menyadari aku terlelap dalam posisi duduk. Di tengah ruangan. Leherku terasa pegal. Kutatap kalender di sudut ruangan lekat-lekat. Tuhan! Ini waktunya! Aku merasa bergairah. Menggebu-gebu. Aku bangkit dan menyobek sepotong kertas yang kudapat dari meja makan. Aku membingkainya dengan karton hitam. Cukup rapih. Dan lem melekatkannya pada sisi kertas besar yang telah kusambung tadi malam.
Aku mandi. Bergegas. Selain menghindari dingin. Juga merasa tak sabar.
Sambil bertelanjang, aku melahap habis ikan kakap merah bakar yang tinggal separuh. Sebenarnya ikan itu sudah bau. Tapi aku terlalu tak peduli. Aku tergesa-gesa.
Bersiap.
Aku duduk di tengah-tengah kertas besar di tengah ruangan. Ruang tampak muram. Cahaya matahri tertahan di gorden yang tidak pernah kubuka seumur hidup. Aku tanpa busana. Telanjang. Air dari rambutku terus menetes. Merembesi pori-pori kulit kepala yang dingin. Menuju lipatan-lipatan besar di leher dan perutku. Tak sempat aku membalutnya dengan handuk. Remote televisi kutekan. Terdengar siaran berita. Ya, hanya terdengar. Karena aku memang tak meliriknya sama sekali. Aku menekan tombol volume dengan jempolku. Suara dari televisi terus membesar dan membesar dan membesar dan membesar.
Kugapai lantai yang dingin, dan temukan pisau yang sudah kuasah tajam. Dia punya tugas besar pagi ini. Dengan menghela nafas panjang, aku memulai. Menguliti punggung telapak tanganku dengan pisau yang tajam. Tajamnya membuat aku hampir tak merasakan kehadirannya di setiap lapis kulitku. Darah semakin banyak mengalir. Rasa nikmat dan puas menjalari tubuhku. Aku menuliskan sesuatu di sepotong kertas yang telah kubingkai tadi.
SEONGGOK TUBUH DAN KERTAS. Jandro Salimun. Media: just me, a knife, and my blood on drawing paper. 2017.
Sial. Tubuhku pasti terlihat indah dan artistik dari atas sana. Sebenarnya mungkin hanya seperti onggokan tai berwarna coklat yang basah di tengah ruangan. Tapi merah darah menghiasinya. Membuatnya menjadi indah dan berwarna.
Kulumurkan lagi darah dari nadi di tanganku yang terus mengalir ke seluruh tubuh. Mungkin bukan mengalir, tapi memuncrat. Ya, itu lebih tepat. Darah menghiasi kertas. Tubuhku penuh darah. Aku masih menguliti kulit. Kali ini sudah hampir mencapai sikut.
Aku ragu darah di tubuhku tidak cukup untuk membuat kertas menjadi merah. Tapi kekhawatirkanku terlupa saat aku mulai tak sadarkan diri.
Dan sial. Aku akhirnya (mungkin) mati.
“Hei, anjing-anjing tanah. Lihat. Aku membuat sesuatu yang bukan sampah. Aku membuat hidupku berharga dalam karyaku sendiri! Puja dan kagumilah aku sekarang. Hahaha” Kata-kata itu sangat ingin kuteriakkan pada mereka yang nantinya akan menatap kagum pada tubuhku.
Luar biasa. SEONGGOK TUBUH DAN KERTAS. Kenikmatan membuat diriku sendiri menjadi mahakarya seni terindah dalam hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s