Cicak dan Sang Rockstar


Saat berada di ujung tangga, aku tahu akan melewati banyak undakan tangga. Aku tegang. Beberapa undakan dariku ada seekor cicak besar yang menempel lantai. Melompat-lompat dan menggelengkan kepalanya penuh semangat seakan baru saja meminum sebotol multivitamin dosis tinggi. Aku takut cicak. Aku tetap berdiri selama beberapa saat dan membiarkan kakiku terasa pegal. Otakku berputar. Memikirkan bagaimana caranya menghindar dari cicak ini. Tapi tangga di tempat kursusku hanya satu. Dan di satu-satunya tangga yang ada, terdapat seekor cicak yang melompat-lompat dan siap menempel di salah satu bagian tubuhku kapan saja.

Tapi aku tak bisa terus menerus diam di ujung tangga. Ada banyak hal yang harus aku lakukan di rumah. Pelajaran kimia terus mengganggu otakku, meskipun belum tentu aku akan dapat mengingatnya esok, saat ujian. Aku harus segera pulang.

Langkahku sedikit kutahan agar tak terdengar oleh cicak itu. Sikap yang bodoh sebenarnya. Dan dahiku berkerut karena sikap cicak itu. Entah kenapa cicak itu tak peduli akan aku yang melintas tepat disampingnya. Dia terus melompat-lompat, menggelengkan kepalanya sambil sesekali terlihat memejamkan matanya. Seperti menikmati irama musik yang menghentak. Aneh. Memang radio resepsionis sedang memutar lagu The Ramones. Itu aneh. Kucing itu sepertinya suka musik. Tapi, setinggi apapun selera musiknya, aku tak akan pernah berteman dengan seekor cicak. Sekalipun cicak tersebut adalah rock star. Aku tak akan pernah mau. Sampai posisiku sejajar dengan cicak itu, aku masih tetap tegang dan cicak itu masih tetap bergoyang.

Aku akhirnya lega. Mungkin cicak itu terlalu asik dan tak peduli denganku. Tapi langkahku terhenti saat di belakangku ada suara yang kedengarannya memanggil namaku. Aku menoleh dan tak melihat satupun orang di belakangku. Hanya ada si cicak yang kali ini berhenti bergoyang. Oh, tidak, cicak itu menatap ke arahku. Aku buru-buru melanjutkan langkah. Tapi suara itu terdengar lagi. Kali ini aku tak berani menoleh. Aku hanya diam tak melanjutkan langkahku. Suara itu sebenarnya indah. Suara laki-laki, serak-serak basah dan aku rasa akan cukup pantas jika menjadi vokalis band. Tapi khayalanku itu buyar saat suara yang memanggilku terdengar lagi. Sial. Bulu kudukku berdiri. Aku memutar leherku dan dengan otomatis mataku tertuju pada si cicak. Tidak, perkiraanku mungkin benar. Tapi itu diluar akal sehat. Ada seekor cicak besar yang memanggilku!

Cicak itu menyergapku dan menempel tepat di dadaku. Aku mengibas-ngibaskan tanganku, berusaha membuang cicak itu jauh-jauh. Aku berteriak. Tapi tak ada yang datang. Aku mengacak-acak sweater yang kupakai, tapi cicak itu tak juga terlepas dari tubuhku. Aku menghentak-hentakkan kakiku dan kehilangan keseimbangan lalu terpeleset jatuh dan segera tak sadarkan diri setelah kepalaku terbentur lantai.

***

Aku terbangun dari tidurku. Berkeringat. Saat itu aku sangat tampak seperti tipikal orang-orang dalam sinetron yang terbangun dari mimpi buruknya. Seluruh dinding dan langit-langit kamar aku telusuri. Aku akan merasa jijik dan merinding jika saat itu juga ada cicak yang menempel di dinding kamar dan menatap ke arahku. Persis seperti cicak di dalam mimpiku.

Sial sekali aku. Ingatanku tentang pertemuanku dengan ‘orang itu’ berubah menjadi mimpi yang menggerogoti nikmatnya tidurku. Begitulah, percakapan dengan ‘orang itu’ memang aku nanti-nantikan. Kejadian dalam mimpi itu persis sekali dengan yang kualami. Di tangga. The Ramones. Rock star. Ya, ‘orang itu’ rock star. Dan aku menyukainya, sangat tidak sama seperti aku membenci cicak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s