Belatung-Belatung


Haro mengetuk-ngetukkan hard disk eksternalnya ke meja komputer. Sudah satu minggu hard disknya rusak. Isinya tidak bisa dihapus, tidak bisa dipindahkan. Padahal karya-karyanya tersimpan disana. Bagi seorang penting seperti Haro, yang bekerja pada label rekaman dan merancang sampul album band-band indie, hard disk rusak adalah malapetaka. Ia terpaksa mengulang kembali rancangan-rancangannya. Dan itu tidak mudah.  Haro sudah membawa benda itu kemana-mana. Keliling rental-rental komputer dan servis komputer, juga ke pusat perbelanjaan elektronik di kota. Tapi hasilnya nihil. Sebenarnya ia merasa marah dan kesal pada dirinya sendiri yang bersifat cuek dan terkesan tak peduli dengan barang-barang di sekelilingnya.

Kesabarannya mulai memuncak, Haro sudah berkali-kali mengalami hal yang sama. Barangnya selalu saja ada yang rusak. Flash disk. Hard disk. Keyboard komputer. Disc player. Speaker. Hampir semua benda yang ada di kamarnya pernah rusak. Padahal Haro tak pernah dengan sengaja merusaknya. Sekitar dua minggu setelah benda-benda tersebut rusak, benda-benda itu akan kembali baik dengan sendirinya. Di pojok kamarnya, Haro membuat sebuah kotak kardus yang menampung barang-barang elektronik yang masih rusak. Hampir penuh. Haro belum membawanya ke tempat servis. Ia menunggunya sampai baik dengan sendirinya.

Haro mencoba mencolokkan lagi kabel hard disk ke komputer. Apa daya. Komputer Haro kali itu malah tak dapat membacanya.

Kekesalannya memuncak. Haro mencabut hard disk itu dan melemparkannya ke kotak di sudut kamarnya. Haro bangkit dari kursinya. Ia mengangkat kotak yang terasa berat itu dan membantingnya penuh tenaga ke lantai. Tak hanya pecahan benda-benda itu yang berantakan, tapi juga puluhan, bahkan ratusan, atau mungkin ribuan belatung yang merayap kesakitan. Belatung-belatung itu merayap keluar dari setiap celah yang ada di benda-benda dalam kotak. Haro terkejut setengah mati. Ia tak pernah melihat belatung sebanyak itu. Ia tak tahu darimana datangnya makhluk-makhluk menjijikkan itu.

Haro berusaha menginjak-injak belatung-belatung itu penuh nafsu. Membuat hanya beberapa dari mereka jadi memiliki tubuh yang pecah dan mengeluarkan cairan kental. Keadaan kamar Haro jadi berantakan dan kotor.

Semakin banyak Haro menginjak belatung, semakin banyak pula belatung yang keluar dari setiap sudut kamarnya. Dari plafon. Dari kusen jendela dan pintu. Dari celah di langit-langit. Dari seprai. Dari segala penjuru!

Belatung-belatung itu mulai menggerogoti bagian-bagian kaki Haro yang kesakitan. Ia terjatuh. Lemas. Dan pasrah. Membiarkan belatung-belatung yang keluar dari semua penjuru kamar menggerogotinya. Sehari semalam. Meninggalkan darah dan bau amis yang menyengat. Baju Haro telah koyak. Tulang-tulang rusuknya mulai terlihat.

Tak ada lagi nyawa.

Advertisements

3 thoughts on “Belatung-Belatung

  1. pesan dari cerita ini apa? sangat ironis padahal benda2 yg digunakan haro adalah hardware yg notabene tidak akan pernah membusuk. mungkin kecoa sih pasti akan ada pada setiap tumpukan barang2 tersebut. jadi… apa maksud dari cerita ini?

    1. wah, kalo saya kasih tau ide yang sebetulnya dari cerita ini, orang-orang akan membaca si cerita hanya dari perspektif saya saja.
      terserah mau mengartikan cerita seperti apa, tapi kebusukan memang dapat datang di mana saja.
      cerita buat saya tidak harus ada pesan atau nilai moral seperti mayoritas cerita-cerita rakyat yang familiar di telinga anak-anak.

  2. Pertama kali baca, saya langsung tertarik dengan cerpen ini. Mungkin karena obyek atau benda yg dilibatkan dalam cerita adalah suatu benda yg jarang ditulis dalam cerpen, yaitu eksternal hardisk. Hanya saja menurut saya klimaks dari cerita ini agak terlalu cepat, sementara konflik belum terbangun dengan mantap. Apalagi ada pertanyaan-pertanyaan yg otomatis muncul dari logika, ketika saya membaca cerpen ini. Misalnya, kenapa seorang profesional seperti Haro tidak menyimpan data cadangan di dalam komputer atau menguploadnya di internet? Mengapa Haro berusaha mengharapkan barang-barangnya kembali baik, sementara sikapnya malah menunjukkan usaha yang sebaliknya?

    Terlepas dari semua komentar tadi, saya secara pribadi menemukan ada pesan yang ‘berbunyi’ dan bergema dalam cerita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s