Anjing-Anjing


Padahal aku sudah jauh-jauh menjemput ke sekolahnya. Aku datang untuk mengambil pesananku. Waktu aku sampai disana, dia bilang, “Tidak usah diganti uangnya. Biarlah.”. Tentu saja aku bersyukur sekaligus berterima kasih. Sepatu pesananku datang. Ia membelikannya sesuai pesanan. Katanya, ukuran dan warnanya persis seperti yang aku inginkan. Aku mengantarnya sampai rumah. Jauh. Rumahnya hampir mencapai kaki gunung. Jalanan berliku dan polisi tidur tersusun hampir di setiap tujuh meter. Untung tanki bensin mobilku masih penuh.

Di rumahnya aku berbincang. Bercakap-cakap sampai merasa rindu rumah. Segelas air putih dan sepiring kue bolu menemani aku. Kami menikmati udara sejuk khas pegunungan yang masuk melalui pintu ruang tamu yang terbuka. Menyenangkan ternyata berbicara dengannya. Sudah hampir satu tahun aku tak bertemu dengannya langsung.

Sampai akhirnya aku harus pamit. Agak ragu juga sebenarnya. Tentang uang pesanan sepatuku. Aku takut ia hanya basa-basi saat menawarkan uangnya tidak usah diganti. Sepatu buatan Singapura memang jarang terdapat di Indonesia. Model dan kualitasnya berbeda. Jadilah. Saat ia memutuskan untuk berlibur kesana, aku minta ia membelikan sepasang yang aku inginkan. Aku kini hidup sebagai mahasiswa semester pertama dan memiliki uang bulanan yang terbatas. Belum lagi kebiasaan merokokku yang tak bisa dihentikan. Membuat uangku cepat menipis. Dan aku butuh sepatu yang tahan lama. Aku akan lebih bersyukur jika itu gratis. Sepatuku yang sering kupakai sudah jebol. Meskipun dua kali dijahit sisi-sisinya.

Aku berpamitan. Dan pulang. Saat ia menutup gerbang, aku masih menatapnya dari jendela mobil. Wajahnya cantik. Sepertinya aku akan merindukannya.

Adikku menyambut saat aku memarkir mobil di halaman rumah. Wajahnya letih. Ia baru pulang sekolah. Rok sekolahnya masih dipakai. Aku keluar dari mobil dan tersenyum padanya. Tanganku yang memegang kantung plastik berisi sepatu dalam dus, aku lambaikan padanya. “Akhirnya diambil juga, kak, sepatunya?”. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

Saat aku menjebloskan kakiku ke dalam sepatu. Aku menggumam. Sial. Terlalu besar. Sekitar dua senti. Itu berlebihan. Kakiku tak mungkin tumbuh lagi mencapai dua senti. Aku membaca ukurannya di kotak. Persis seperti yang aku pesan. Tapi kenapa terlalu besar? Untung aku tak perlu membayar untuk sepatu itu.

Sepatunya terlalu besar. Ujarku lewat pesan pendek. Kukirim padanya. Kami pun saling mengirim pesan pendek. Kuduga ia merasa bersalah. Aku iba. Dan melupakan sepatu itu. Tapi tentu saja tidak dengan wajah cantik dan perangainya.

Aku sama sekali bodoh. Aku tidak pernah bilang aku jatuh cinta. Lagipula, mana aku tahu kalau kita akan lama tidak bertemu?

Sampai mantan pacarku menikah dua tahun kemudian. Aku sudah mempersiapkan diri dan tak menemukan satu pun sepatu yang masih bagus. Kotak yang menyembul dari rak sepatu mengingatkan aku. Mengingatkan aku akan sepatu dari Singapura yang dibeli dua tahun lalu. Aku memakainya. Tak sebesar saat aku pertama kali mencobanya. Mungkin itu  disebabkan oleh kaus kaki tebal yang kupakai. Aku bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dengan kencang. Pepohonan mulai menampakkan hijau daunnya lagi. Setelah berbulan-bulan kekeringan melanda, sekarang hujan mulai turun lagi. Meskipun tak deras. Tapi cukup untuk menghijaukan kota yang tadinya kerontang.

Tiba-tiba jalanan macet total. Mobil-mobil berhenti. Pejalan kaki yang terpaku di samping jendela mobilku berkata, “Ada kuda diserang kawanan anjing. Tepat di tepian jalan.” Aku terkejut. Gila. Aku keluar dari mobil sambil menutup telinga. Bunyi klakson membabi buta. Mataku langsung tertuju pada kerumunan anjing liar yang sedang menyerang seekor kuda. Anjing! Menyaksikan kuda terbunuh di film kolosal saja aku akan langsung menutup mataku. Apalagi ini. Aku terpaku. Kerumunan orang yang juga turun dari mobilnya tak berani mendekat. Tak ada yang berani menyelamatkan kuda itu. Anjing-anjing itu bagaikan serigala lapar. Menyeringai. Menampakkan taring tajamnya.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sudah terlambat. Aku kesal. Aku akan terlambat sampai di acara. Akhirnya aku memutuskan untuk…

Aku berlari kecil menuju kawanan anjing itu sambil melepas kedua sepatuku. Perhatian orang-orang mulai teralih padaku. Aku berhenti sambil terengah. Lelah. Aku mengambil ancang-ancang untuk melempar sepatu ke arah kawanan anjing itu. Sang kuda sudah pasrah. Memandang ke langit dan melenguh. Kakinya digerogoti. Darah. Aku melempar sepatuku. Satu. Tepat sasaran. Salah satu anjing terkena lemparanku. Tapi anjing itu tak peduli dan melanjutkan sarapannya. Saat itu aku mengumpulkan kekuatan dari seluruh tubuh di tanganku. Dua. Kena! Tapi kali ini bukan anjing. Wanita itu sedang berlari ke arah kuda dan anjing-anjing itu. Entah berniat berbuat apa. Sepatu keduaku mengenai kepalanya. Sangat keras kukira. Karena ia langsung jatuh tersungkur menghadap anjing-anjing itu. Anjing-anjing menoleh. Menatap sang wanita dan menggeram. Aku terdiam. Kaget. Anjing-anjing itu mencakar sang wanita. Orang-orang disekitarku histeris. Mereka berteriak. Mereka mulai mencoba caraku. Sepatu-sepatu berhamburan menjatuhi kepala-kepala anjing. Tapi itu tak membuat anjing-anjing berhenti. Sang wanita yang terkapar berteriak, mencoba kabur.

Emosiku memuncak saat melihat wajah sang wanita. Aku mengenalnya. Sepatu yang kulempar itu pemberiannya. Dua tahun lalu. Dan aku merindukannya. Dan aku marah besar. Anjing-anjing tak tahu diri!

Aku berlari kencang dan menjatuhkan diri di atas sang wanita. Mencoba melindunginya dari gigitan dan cakaran anjing-anjing. Aku memperhatikan sekeliling. Anjing-anjing saat itu hanya terdiam dengan tatapan heran padaku. Dan lalu pergi meninggalkan kami.

Apa yang kulakukan? Menyelamatkan nyawa sang wanita. Atau membuatnya malu di depan orang-orang yang menyaksikan?

Entahlah. Setelah itu aku membawanya ke dalam mobil. Menyelimutinya dengan jas. Membatalkan niatku datang ke acara pernikahan. Dan membawanya pulang ke rumah.

Setelah itu kami berbicara panjang lebar tentang kami.

Sekali dalam seumur hidupku, petualangan dengan anjing-anjing gila. Ada kelegaan. Karena melaluinya, aku menemukan wanita itu kembali.

Advertisements

3 thoughts on “Anjing-Anjing

  1. Pertama kali baca, saya ga ngerti ini cerita apa. Tapi setelah baca kedua kalinya, akhirnya saya sedikit ngerti. Ini adalah sebuah kisah pencarian akan yg dicintai dengan nuansa tragis yg kental. Logika pencerita agak sulit ditebak, membuat saya bertanya-tanya, apa peran dari sepatu tadi. Ketegangan ini bertahan sampai akhir, dengan suatu jawaban yg mengejutkan. Kayaknya saya ga bs omong yg laen lg deh, selain 2 jempol untuk penulisnya… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s