Tentang Mbak


Teman saya yang satu ini namanya Masita. Tubuhnya tinggi besar. Wajahnya terlihat sangat padat. Apalagi ketika ia sedang memakai kerudung karena ia memakainya hampir sampai ke bagian tengah pipinya.

Saya memanggilnya Mbak Sita. Dia tidak pernah mau dipanggil “Ade Sita” atau “Tante Sita”. Ia akan berteriak sambil berkata,

“Maunya Kakak Sita!” atau

“Kak Auranya kenapa ya? Kak Auranya kenapa?” ketika saya memanggilnya dengan nama itu. Atau

Dadadadadadadah… Dadah ya…” Yang satu ini mungkin maksudnya mengusir. Ia mau menunjukkan bahwa ia marah.

Waktu ia lagi sedih, matanya dengan sendirinya akan mengeluarkan air mata. Begitu juga saat ia sedang bahagia, ia akan tertawa terbahak-bahak dan terkadang memukul-mukul pahanya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya setiap hari. Orang-orang di sekolah hanya tahu bahwa ia mengidolakan Pasha “Ungu”, Ricky Joe, Ada Band, Red Hot Chili Papers (RHCP), dan Andika. Semuanya adalah orang-orang atau band yang malang melintang di layar televisi. Mungkin itu yang membuatnya hafal nama-nama itu. Ada kalanya ia bergumam atau bahkan berteriak menyanyikan lagu RHCP,

She’s my aeroplane… She’s my aeroplane… She’s my aeroplane…”

Begitu seterusnya. Diulang-ulang. Atau terkadang,

Ku ingin kau tahu… Diriku disini menanti dirimuuu…”

Bukan hanya bernyanyi, Mbak Sita juga suka menggumamkan hal-hal yang menurutnya lucu sehingga ia akhirnya akan tertawa terbahak-bahak,

Pasha ungu pakai anting…”

Kak Aura pake lipstik. Kayak ibu-ibu mau ke kantor…”

Saat mengucapkan itu, terkadang ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan memejamkan mata. Lalu tertawa terbahak. Atau terkadang tampak serius berpikir. Tapi kita, yang berada disekitarnya, tidak pernah tahu apa yang ia pikirkan. Mbak Sita seolah memiliki dunia sendiri. Terkadang ia bahkan terlihat sulit membedakan dunia nyata dengan dunianya.

Saat saya menyanyikan sepenggal lagu yang ia tidak suka, seperti,

Kebelet pipis. Kebelet pipis. Kebelet pipis, papa.” Mbak akan marah dan berusaha menjelaskan bahwa ia tidak suka dengan kata kata:

Kak Aura… Jangan nyanyi lagu itu. Masita tidak suka.”

Entahlah. Apa yang harus saya rasakan terhadap Mbak Sita.

Sedih? Tapi ia terlihat bahagia dengan dunianya.

Prihatin? Tapi ia memiliki hak yang sama seperti yang lain. Dan sepertinya dunia memenuhi itu. Ia belajar di sekolah seperti anak-anak lain.

Lucu? Tapi ia tidak selucu yang selama ini terlihat. Mbak memiliki banyak hal yang orang-orang miliki, meskipun ia terlihat bahagia.

Dan Mbak tidak dapat menikmati dunia ini. Ia bahkan sulit mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Kata-katanya terbatas. Apa saya pantas menyebut bahwa Mbak Sita tidak seberuntung saya?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s