Pemerintah Filipina dan Terbunuhnya 78 Jurnalis


Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Southeast Asian Press Alliance atau SEAPA, aliansi jurnalis di Asia Tenggara, mendesak Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo untuk mengusut dan menghukum dalam pembunuhan 78 jurnalis di Filipina. SEAPA prihatin karena praktek intimidasi dan pembunuhan di kalangan pekerja media di Filipina terus berlangsung hingga ke taraf yang mengkhawatirkan.

Belakangan ini, jurnalis dari Malaysia, Indonesia, Kamboja, dan Thailand berkumpul di Manila untuk memperingati empat tahun terbunuhnya penyiar radio Marlene Esperat dan kolumnis Sultan Kudarat. Sekaligus memperingati berlanjutnya praktek pembunuhan terhadap pekerja media di Filipina dan tidak seriusnya pemerintah Filipina mengakhiri praktek pembunuhan terhadap jurnalis.

SEAPA mengusulkan agar pemerintah Filipina membentuk satuan tugas untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut. Mereka juga meminta semua pekerja media di Filipina dan di ASEAN memperhatikan kode etik dan standar profesional jurnalisme. Kepada masyarakat Filipina, SEAPA menyerukan agar secara aktif menggalang kampanye antiimpunitas dan membangun solidaritas dengan komunitas media.

Berdasarkan data Centre for Media Freedom and Responsibility yang dilansir SEAPA, rata-rata lima jurnalis Filipina terbunuh saat bertugas di negara itu sejak tahun 2001, yakni saat Arroyo menjabat presiden. Jika dihitung sejak Fidel Marcos berkuasa pada 1989 sampai akhir Februari 2009, jumlah jurnalis yang terbunuh mencapai 78 orang. (Koran Tempo Rabu, 25 Maret 2009 )

Peristiwa besar tersebut menurut saya harus diselidiki sebagai salahsatu peristiwa serius. Sudah seharusnya ada kerjasama antara SEAPA sebagai kelompok yang mengenal baik bagaimana bekerja sebagai jurnalis, masyarakat sebagai penerima informasi, kepolisian, dan juga pemerintah. Meskipun ternyata ada campur tangan pemerintah Filipina di balik langkah menghancurkan jurnalisme tersebut. Mereka harus memberitahu alasan kepada yang bersangkutan agar pemerintah dan pihak pekerja media saling mengenal seperti yang memang harusnya dilakukan. Pekerja media di seluruh Asia juga harus menjunjung tinggi kode etik dan standar profesional jurnalisme agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti peristiwa pembunuhan itu lagi.

Pembunuhan yang terjadi menunjukkan betapa status sebagai pekerja media masih dianggap, mungkin, sebagai sebuah pekerjaan yang mendobrak batas pribadi. Tetapi sesungguhnya, peran media sangat penting terhadap informasi yang hadir di kalangan masyarakat. Karena itu, saat jurnalis dibunuh, sangat jelas, berarti telah terjadi pengabaian terhadap hak publik untuk mendapatkan informasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s