Jet Lag


Sudah pukul delapan lewat lima belas malam. Tapi panggilan lewat speaker yang kami tunggu belum juga terdengar. Sebenarnya aku sangat ingin mencegah kantuk dari mataku. Tujuannya, agar di pesawat nanti, aku bisa menikmati penerbangan tanpa tidur. Maklum, ini penerbangan pertamaku setelah tiga tahun terakhir ini. Aku memandang berkeliling. Orang-orang dengan berbagai macam penampilan dengan berbagai macam posisi berada di tempat-tempat sekitarku di ruangan boarding ini. Sedikit membosankan. Akhirnya dengan kaki di atas travelling bag, aku memejamkan mata. Belum lima detik, aku pun terbangun kembali. Suara dari speaker yang sedari tadi dinanti akhirnya terdengar juga. Ibuku yang dari tadi terpejam di kursi seberang lalu bangun dan menghampiri,

Kita seat 10 A-B ya.” Katanya sambil memberikan selembar tiket. Aku hanya mengangguk. Hampir semua orang dalam ruangan bangkit dan membuat barisan di pintu. Petugas berseragam dengan wajah letih berdiri di ambang pintu. Kami harus memperlihatkan tiket yang kami punya. Aku berdiri di depan ibuku. Laju barisan agar tersendat. Beberapa orang di depanku di tegur saat ketahuan membawa air mineral botol yang jelas-jelas tidak boleh dibawa. Dengan segera, aku dan ibuku terbebas dari laju barisan yang padat merayap dan langsung masuk pesawat.

Saat menaiki tangga, kami sudah melihat seorang pramugari berwajah melayu tersenyum pada kami. Mungkin berusaha ramah. Tapi aku dan mungkin ibuku hanya melewatinya tanpa peduli. Kami sudah lelah dan ingin segera duduk. Lorong pesawat masih terlihat ramai. Orang-orang masih disibukkan oleh tas dan kopor mereka yang diatur sedemikian rupa. Aku menoleh dan berbisik pada ibuku,

Aku deket jendela ya, Bu.” Kataku pelan

Iya.” Ibu menjawab singkat sambil menatap kesal pada orang di depanku yang tak juga selesai menata barang bawaannya. Antrian di lorong pesawat jadi macet.

Merebahkan diri di jok yang empuk akhirnya bisa aku lakukan. Ibuku juga menghela nafas lega. Aku mengambil posisi tepat di samping jendela. Bersiap menyaksikan lampu-lampu kota yang terlihat indah jika dilihat dari atas. Aku memasang sabuk pengaman dan membuatnya pas di perutku. Pesawat pun bergerak. Maju. Dan akhirnya pada bagian yang aku suka, saat roda-rodanya mulai sudah tak lagi menyentuh landasan.

Tapi sekitar lima menit setelah lepas landas. Kepalaku mulai tak lagi kuat untuk memandang lampu-lampu yang saat itu hanya terlihat seperti titik-titik kecil. Saat aku mengalihkan pandangan dari jendela, aku mulai sadar. Perutku mual. Kepalaku juga ternyata bersokongkol dengan perut dan membuat tubuhku semakin tidak enak. Aku pun menghindari pandangan ke jendela dan memejamkan mataku. Beruntung, tidurku lelap.

Pertama kali kendaraan yang membawaku menyentuh permukaan tanah, aku berpaling ke jendela lonjong di samping wajahku yang sedari tadi dihindari. Aku menarik kepalaku dari bahu ibu. Rasa mual yang masih bersisa dan perasaan lega bercampur jadi satu. Dalam hati, aku menertawakan diri sendiri yang tidak tahu diri. Keinginan duduk dekat dengan jendela dan usaha bodohku untuk tidak tidur malah membuat aku akhirnya tumbang di bahu ibuku. Aku jet lag. Juga saat aku dan ibuku berjalan menyusuri trotoar airport, aku masih merasa jet lag. Saat kami naik bus menuju kota pun, aku masih jet lag. Lalu saat aku sudah merasakan dinginnya AC dalam bus, aku masih merasa sedikit mual dan aku tahu itu adalah jet lag. Bahkan sampai aku meneteskan keringat pertamaku di Kota Kuala Lumpur yang berudara panas meskipun dini hari. Tetap saja, aku masih jet lag.***

Bandung, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s