Di Bangku Taman


Di bangku taman ini aku biasa menulis buku harianku. Di bangku taman berumput gajah ini aku juga biasa menunggu Mama sepulang sekolah. Kadang hari sudah senja saat Mama tidak juga muncul. Aku hanya duduk sambil mengetuk-ngetukkan kakiku dengan irama yang tak beraturan. Di bangku taman berair mancur kecil ini aku dan keluargaku menunggu berakhirnya hari. Di bangku taman ini aku dan teman-temanku biasa berkumpul, menyelesaikan PR dan makan Bakso Mas Parno yang mangkal di seberang jalan sana. Di bangku taman ini juga aku kehilangan dia, cinta dalam hidupku yang membuat aku bahagia.

Tirta orangnya. Orang yang pertama kali mengajariku bersyukur atas segalanya. Saat semua masalah hanya bisa kuselesaikan dengan tangisan. Tirta buat aku tegar. Tirta beri aku bagian kehidupannya. Hingga aku kehilangan dirinya dan aku tak banyak merasa sedih.

Liza berdiri di depan pintu rumah sakit. Liza sudah terlihat tak asing lagi dengan keadaan rumah sakit. Kakinya melangkah mantap di setiap ubin yang ia injak. Seringkali Liza harus bolak-balik ke rumah sakit. Tirta juga. Seperti kali ini. Saat Tirta diopname. Jantungnya terganggu lagi.

Akhirnya kamu dateng!” Sambut Tirta saat Liza memasuki kamar. Dua meja, sebuah kursi roda, empat kursi yang tergeletak acak, dan sebuah kulkas mini membuat ruangan semakin terasa sempit. Ditambah karangan bunga dan buah-buahan dari kerabat Tirta yang tak sedikit jumlahnya.

Liza menjawab dengan senyuman. Didudukinya sebuah kursi, tepat disamping tempat tidur. Diraihnya tangan kanan Tirta dan diciumnya hangat.

Gimana kabarnya?”

Udah lebih baik kok…”

Liza mengangguk-angguk puas.

Mama dimana?”

Ke kantor sebentar buat ambil kerjaan. Mama izin dua hari, mau nginep disini.”

Oh…Nggak bisa tidur ya tanpa mama?” Canda Liza

Tirta cuma tersenyum.

Pulang sekolah?” Tanya Tirta

Liza mengangguk.

Za… Kalo aku pergi nanti. Jangan disesali ya.”

Kalo ngomong jangan asal! Aku nggak mau ditinggalin. Gimana dengan semua yang pernah kita alamin bareng?”

Simpen semua itu di sini.” Kata Tirta lembut sambil menaruh tangannya di dada Liza

Tapi janji, jangan tinggalin aku…”

Mau nggak mau, terpaksa nggak bisa janji. Tolong, sekarang antar ke bangku taman tempat kita piknik dulu ya. Deket sini kan?”

Gelengan kepala Liza menjawab. Liza sedikit panik. Matanya mulai berair.

Liza sayang… Tolong, sekali ini aja!”

Liza menatap lekat mata Tirta. Selama ini, tatapan Tirta adalah hal baru. Sungguh-sungguh. Wajah tampan yang semakin menua itu memelas. Liza tak bisa menolak. Mata Tirta berbinar. Tirta meraih kursi roda. Liza mendorongnya dan membawanya ke sana, ke bangku taman itu.

Liza dan Tirta duduk bersama di bangku taman itu. Membicarakan semua kejadian yang pernah mereka lalui bersama. Terkadang mereka tertawa bersama mengingat sesuatu.

Tapi tiba-tiba tawa Tirta tertahan, mulutnya berhenti berkata-kata.

Kenapa?!”

Nggak apa-apa kok. Cuma sedikit pusing dan sesak.” Kata Tirta sembari memegangi dadanya.

Kita pulang ke rumah sakit!”

Tirta menggeleng. Liza khawatir.

Nanti kalo makin parah gimana?!”

Tirta lagi-lagi menggeleng dengan wajah lemas,

Liza tak bisa berkata lagi. Tirta mengancingkan jaket tebalnya dan mengencangkan syal merah marun buatan mama Liza di lehernya. Obrolan berlanjut.

Inget nggak, waktu itu disini kita makan es krim. Sekeluarga besar. Terus taunya kita lupa bayar sampe kita mau pulang, yang jualan es krimnya marah-marah. Hayoo… Inget nggak?”

Tak ada jawaban dari Tirta.

Jangan tidur dong…”

Masih tak ada jawaban.

Liza bangkit dari duduknya dan berjongkok di hadapan Tirta. Liza menatap wajah Tirta. Matanya terpejam. Kantung matanya biru keungu-unguan seperti buah terung yang masih setengah matang. Warna bibirnya putih pucat layaknya cat putih pada tembok yang pudar. Sungguh, wajah Tirta yang penuh kerutan saat itu menjadi sangat pucat pasi. Liza menaruh jari telunjuknya di atas bibir Tirta untuk mengecek nafasnya. Tapi terlambat. Liza menyadarinya. Dia membiarkan dirinya jatuh terduduk di depan bangku taman itu, mengotori rok abu-abunya dan menangis.

Tirta, papa tirinya itu meninggal dihadapannya.

***

Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku tahu bahwa papa mendonorkan ginjalnya untukku. Gagal ginjalku sembuh, berkat papa. Tapi kini, senja ini, hanya aku yang duduk di bangku taman ini. Tanpa papa, kadang hanya mama. Sepi. Untuk kedua kalinya aku kehilangan sosok papa, tapi aku yakin papa bisa melihatku di sana. Karena di dalam tubuhku ada papa. Ginjalku adalah ginjal papa. Aku akan tetap menyimpan kenangan indah saat bersama papa di sini, di hatiku. Dan di bangku taman ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s