Ingatan Yang Mengiris


Hari menjelang siang. Kiri-kanan jalan tak ada pepohonan. Kesejukan lenyap. Gersang menyerang. Matahari menusukkan jarum-jarum panas ke kulit kepala. Debu-debu pun kehilangan tempat hinggap. Mereka seakan hanya melayang-layang di udara.

Saya juga harus hati-hati saat menapaki trotoar. Para pedagang kaki lima dan dagangannya berhimpitan menyesakinya. Paving block-nya sebagian copot karena pemasangannya tampak sembarang, sebagian amblas karena tanah alasnya kurang padat, sebagian lagi disulap jadi tempat berbagai sampah seperti kantung plastik (kresek), sedotan plastik, kertas bungkus nasi dan sebagainya. Belum lagi angkutan-angkutan kota yang (tiba-tiba) berhenti untuk mengangkut dan menurunkan penumpang di tepi trotoar.

Jalanan jadi terasa sempit dan mengancam. Semakin terasa menyesakkan lagi ketika terlihat menara lonceng dan jembatan kereta api “Si Gombor”, saya mengenalnya sebagai Jembatan Cincin. Seketika membayang hamparan hijau perkebunan teh milik W.A Baron Baud, saksi para “koeli priboemi” saat bekerja menyempurnakan Jalan Raya Pos (Grote Postweg).

Para “koeli priboemi” Jalan Raya Pos dipaksa melebarkan, meninggikan dan mengeraskan jalan tanah Jatinangor yang tadinya hanya bisa dilewati delman dan gerobak. Jatinangor sebagai daerah penghubung Bandung-Sumedang merupakan salah satu rute proyek Mr. Herman Willem Daendels. Rute itu sendiri tidak mudah. Daendels kesulitan saat berhadapan dengan penguasa pribumi, Bupati Wedana Pangeran Kusumadinata IX (Pangeran Kornel) di Sumedang. Dia juga kesulitan karena harus melewati bukit penuh batuan cadas yang kini dikenal sebagai Cadas Pangeran. Tapi proyek raksasa 1.000 kilometer ini harus selesai dalam waktu satu tahun. Para “koeli priboemi” dipaksa terus bekerja tanpa bantuan alat berat yang meringankannya. Mereka seakan diperlakukan layaknya kuda sehingga hampir 5.000 dari sekitar 30.000 orang menjadi korban. Mereka tewas karena kelaparan, sakit malaria, atau kelelahan dan siksaan. Angka itu pun sampai kini belum bisa dipastikan. Hanya perkiraan. Mereka tanpa nama, tanpa alamat.

Tapi memang banyak hal di luar sangka. Penyempurnaan Daendels yang dimaksudkan memperkuat pertahanan Belanda untuk mematahkan serangan balatentara Inggris ternyata sebaliknya. Tahun 1811, balatentara Inggris malah menggunakan Jalan Raya Pos bagian Semarang untuk menyerang Belanda. Meski demikian, jalan yang bagaikan pemakaman massal terbesar di Pulau Jawa itu tetap melancarkan pengerukan dan pengangkutan hasil bumi bagi keuntungan Belanda. Dari hasil tanam paksa itu, Belanda mendapat keuntungan sebesar 823 juta gulden. Jadi jalanan pada masa itu hanyalah tempat untuk memperlancar kepentingan kolonial.

Jatinangor sekarang tidaklah sama dengan Jatinangor dulu. Perkebunan teh dan karet hilang dalam ingatan sebagian orang. Gudang bahan bakar Jepang yang strategis pun tidak bersisa. Rimbunan pohonan seperti di pusat kota Bandung jaman dulu dan kesuburan tanah layaknya perkebunan di Sumedang sudah tidak ada lagi. Tidak lagi tampak apa yang dikatakan Major William Thorn, militer Inggris, dalam catatannya tahun 1815, “Keindahan tanah-tanah pertanian dan perkebunannya membentengi bukit-bukit dan lembahnya yang subur, sambung-menyambung dalam suatu keanekaan yang jelita dan menambat hati, membentuk pemandangan yang sangat memuaskan”. Bahkan pohon Kamboja tua di Cibeusi yang tadinya menjadi satu-satunya peneduh berarti di sepanjang jalan itu terpaksa mengalah oleh pelebaran jalan.

Sebagai Kawasan Pendidikan, Jatinangor tidaklah berbeda dengan kawasan-kawasan di kota lain. Tak hanya ada perguruan tinggi (Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Institut Manajemen Koperasi Indonesia, Universitas Winaya Mukti, dan Universitas Padjadjaran). Ada juga pusat pertokoan, salon, fitness centre, jembatan penyeberangan yang berhias billboard iklan, rumah makan waralaba, distro, dan pangkalan bus kota. Semua seperti bersaing menonjolkan kehadirannya masing-masing. Tata ruang Jatinangor terkesan semrawut.

Orang-orang yang datang untuk kuliah dan membuka usaha sepertinya tidak memedulikan itu semua. Mereka memenuhi Jatinangor, menjadikannya hanya tempat singgah selama mereka mengejar kepentingannya masing-masing. Jalanan hanya mengantarkan mereka dari satu tempat ke tempat lain yang mereka kejar. Hal ini jadi kian parah saat pengguna kendaraan bermotor yang tampak hanya peduli pada dirinya semakin banyak, dan angkutan umum yang belum juga bisa memberikan kenyamanan. Jalan pun jadi hanya milik masyarakat yang mampu duduk di dalam kendaraan pribadi. Para pejalan kaki menjadi tidak penting lagi. Mereka tidak punya hak atas jalan sama halnya dengan trotoar yang seperti sudah disebutkan di muka. Maka jalan seperti milik pribadi-pribadi yang mengancam orang banyak. Resiko terjadinya kecelakaan pun membesar. Kota seperti itu bukan ruang milik bersama.

Oleh karena itulah, mungkin, perjalanan saya ke Jatinangor jadi mengingatkan pada Daendels saat mempekerjakan “koeli priboemi” ketika membangun Jalan Raya Pos yang melintasinya. Ingatan ini rasanya sebuah ingatan yang mengiris.**

Advertisements

4 thoughts on “Ingatan Yang Mengiris

  1. Ralat sedikit. Bukan Universitas Indonesia yang ada di Jatinangor, tapi Universitas Padjajaran. 😉

  2. Aura Asmaradana

    Oya. Baru nyadar saya. Terima kasih yaaa. Aku edit deh.

  3. waduh-waduh..ko ga diceritain jatos-nya hahaha… padahal khan Jatinangor Square (singkat=Jatos) sudah cukup menjadi icon jatinangor hehehe…

  4. Info yang menarik Bro, Semakin lengkap infonya maka akan semakin baik pula situs ini. Salam kenal dari 212. Ditunggu kunjungan balasannya ke situsku : http:// naga212geni.blogspot.com Terimakasih. Melanjutkan Blogwalking dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s