Cerita Pantai


Pantai Timur Pangandaran ; 17.30am

Pegal yang sedari tadi menghantam tulang ekorku kini terbebas. Hilang dibawa ombak yang berlabuh di jemari kakiku. Pasir-pasir pun terkadang menyangkut diselanya. Tapi langsung pergi lagi dibawa ombak yang berikutnya.

Pantai ini sudah sepi. Hanya kami yang terlihat riang melepas kepenatan. Juga aku dan dia.

Lagi-lagi aku di pantai. Lagi-lagi aku merasakan bau khas itu.

Aku berjalan perlahan menysuri pantai itu. Menjejakkan kakiku ke pasir yang basah hingga membentuk telapak kakiku yang lalu dengan segera hilang.

Akupun duduk di pasir yang kering belum tersapu ombak yang lalu-lalang, membiarkan jemari kakiku menyusup ke dalam pasir.

Oranye sudah tampak di horison. Kamipun berlabuh pada gelas-gelas es kelapa muda. Dia basah. Dan lelah.

Kesempurnaan moment itupun diabadikan, dengan sedikit jepretan di geladak kapal kecil yang berlabuh yang entah milik siapa.

Dan kamipun beranjak. Pulang.

Penginapan ; 05.30

Rasa kantuk yang tak tersisa membatku mempertanyakannya. Aku terlelap pukul satu dinihari. Bau laut yang tercium mungkin jadi sebab. Aku duduk. Menunggu kebangkitan jiwa-jiwa yang belum mencium aroma laut dan membuka kelopaknya.

Pantai Timur, Cagar Alam, Pantai Pasir Putih ; 09.00

Pantai timur pagi ini tak seperti kemarin senja. Terang. Ramai. Berisik. Dan kami berjalan menelusurinya ke utara. Telapak kaki telanjang milik kami meninggalkan jejak-jejak yang hilang dengan cepat. Sesekali aku berjalan ke tengah dan meloncat kecil, memercikan air asin itu ke sekitarku.

Semakin ke utara, kerang-kerang berwarna itu semakin sering berlabuh di telapak kakiku. Kerang-kerang itu, kupikir sama banyaknya dengan para nelayan yang menawarkan jasa menyeberang ke Pantai Pasir Putih dengan perahu milik mereka. Tapi jawaban kami kepada nelayan-nelayan itu hanyalah gelengan kepala yang membuat mereka semakin memaksa.

Ini. Inilah pagar semen berbentuk bundar yang kira-kira berdiameter lima sentimeter yang sudah aku lihat dari jauh. Tugas kami kini, menerobosnya. Tanpa halangan. Genangan air laut cukup luas. Hanya genangan. Kuperhatikan kakiku sendiri melangkah selangkah demi selangkah. Menjejakkan kakiku ke pasir lembab dan terkadang berair itu menyebabkan lubang-lubang kecil milik binatang amat kecil mirip kepiting tertutup. Akupun menjadi merasa bersalah. Aku berhenti. Berjongkok. Dan menjejalkan ujung telunjukku masuk ke dalam pasir agar binatang mungil itu bisa merayap naik ke telunjukku. Salahsatu dari mereka akhirnya memanjat telunjukku. Terkadang tergelincir. Karena telunjukku yang berdiri tegak. Geli.

Bentuknya sangat mirip kepiting. Sedikit mirip laba-laba. Tanpa jaring. Mungkin memang jenis kepiting.

Jemari puas mempermainkannya. Aku meniupnya kencang. Ia pun lompat kembali ke pasir.

Aku kembali memakai sendalku. Tak ingin karang-karang dan bebatuan berlumut ini melukai kakiku. Puluhan monyet-monyet cagar alam menguntitku dengan pandangan “berharap membawa makanan”. Terkadang jeritan kecil dari mulut kami hadir tatkala salahsatu dari monyet-monyet itu menghadang di hadapan kami. Termasuk dia. Yang sesekali melompat karena monyet yang tampak mengejar dibelakangnya.

Sungguh rasa takutku hilang saat berada di puncak tebing itu. Juga menikmati indah pemandangan bersama dia. Lautan dengan warna hijau-birunya dan hiasan perahu-perahu nelayan yang tersebar di segala penjuru.

Kembali, aku melepas alas kaki saat pasir putih nan lembut itu menyentuh kakiku. Aku menjejalkan kedua kaki dan berjalan menyeretnya perlahan, meninggalkan dua jejak garis panjang yang membuntutiku.

Mentari mulai terasa menyentuh kulit. Rasanya nikmat menikmati tubuh yang mengambang di atas permukaan air asin itu, menyaksikan dunia bawah laut yang masih tenang. Akupun menyusulnya. Dia. Yang mengambang tenang, memutar kedua bola mata dan menyaksikan ikan-ikan yang hilir mudik itu.

Saat itulah. Aku menyadari jiwa yang tak lagi sendiri. Aku yang juga mengambang di air asin itu, merasakannya. Air yang membasahi tubuh kami ini, telah menyatukan kita. Aku dan dia. Aku merasa lautan semakin hangat dan bersahabat. Ikan-ikan dan terumbu karang yang sesekali menggesek dan membuat perih kakiku, semakin indah. Genggaman tangan kita menjadi hiasan laut dan hatiku.

Laut telah menyatukan kita. Aku dan Dia.

Matahari yang tadinya hanya menyentuh, kini malah semakin meresap bebas ke dalam kulitku. Akupun bangkit dari hingar kecipuk kakiku, hembusan nafas dari pipa, dan lautan yang airnya mulai mengeruh itu. Kerang-kerang kembali kurasakan dibalik telapak kakiku.

Pepohonan rindang tepi pantai itu kusandari punggung berlapis pakaian basah kuyupku. Juga menaungi dengan bayangan-bayangan yang bergerak ditiup angin sepoi.

Dia kembali disampingku. Membuat aku merasa tak hanya laut yang menyatukan kita, tapi juga pasir putih itu. Rasa sesak mengalir turun ke telapak kaki, lalu diserap oleh putihnya pasir, dan terbawa oleh ombak ke lautan lepas. Lalu hilang.

Akupun menapaki pantai dan memandang gulung ombak. Semakin ke utara, semakin hijau. Papan-papan berlomba saat ombak mengejar. Tubuh-tubuh berlapis tikar yang mulai kecoklatan telungkup tenang.

Tiba-tiba tangan-tangan ombak menggapai, mengejar aku yang sesaat berdiri terpekur. Dan ditelannya. Aku hilang.

Lagi-lagi hanya mimpi. Aku tak pernah mencicipi kebahagiaan. Bersama dia. Hanya aku dan dia. Yang ada hanya mimpi.

Torehan relief mimpi itu tak pernah habis…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s