The Thirteenth Tale


Satu-satunya buku diantara banyak buku yang saya baca, yang mampu dilalap habis dalam waktu sehari semalam. Dan saya yakin, tidak hanya saya yang mampu melalapnya dalam sekejap.

Buku ini cukup tebal. Sampulnya berwarna hitam dan bergambar layaknya buku-buku pengantar tidur anak-anak. Menarik. Isinya juga dipastikan tidak kalah menarik dibandingkan dengan sampulnya. Bab demi bab punya ikatan yang menarik ke bab selanjutnya. Bikin jari-jemari bisa terus-menerus membalik halamannya…

“ Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”

Kalimat sederhana itu menggugah hati novelis ternama yang buku-bukunya telah lebih banyak terjual daripada alkitab, Vida Winter, untuk mengungkapkan kisah hidupnya sendiri. Kisah hidupnya sendiri yang selama enam puluh tahun tak pernah diungkapkannya kepada siapapun.

Karena ketertarikannya terhadap The Fraternal Muse, esai tentang kakak-beradik Landier, Jules, dan Edmond karya Margaret Lea, seorang penulis biografi muda, Vida Winter berniat menceritakan kisah hidupnya yang tak terduga kepada sang penulis biografi. Sang penulis biografi yang ternyata juga memiliki cerita kelam tentang kelahirannya, akhirnya membuka lembar demi lembar buku-buku karya Vida Winter yang tak pernah dia jamah sebelumnya. Berawal dari sebuah buku yang dipertanyakan banyak orang. Tiga Belas Dongeng Perubahan dan Keputusasaan. Sebuah buku yang juga karya Vida Winter, yang setelah diterbitkan, ditarik kembali dari pasaran karena terjadi masalah dengan sampulnya. Cerita di dalamnya hanya terdapat dua belas cerita, di luar dari asumsi penerbit, tapi sampulnya mengatakan hal lain.

Kedatangan Margaret Lea ke rumah besar Vida Winterpun membuat cerita rahasia itu mengalir. Di tengah masa-masa menjelang ajalnya, Vida mengungkapkan cerita hidupnya yang layaknya percampuran antara kisah detektif, thriller, dan horror itu.

Kisah tiga generasi tentang Keluarga Angelfield, keluarga bangsawan yang “aneh” di mata penduduk sekitar. Tentang George Angelfield, seorang suami yang ditinggalkan istri yang paling dicintainya, melebihi kuda-kuda, bahkan anjingnya, bahkan anak pertamanya, Charlie Angelfield. Mathilde Angelfield, sang istri meninggal saat kelahiran anak keduanya yang cantik jelita, Isabelle Angelfield. Beberapa hari setelah itu, George membuat anak pertamanya tetap menderita dan terlantar dengan terlalu memperhatikan anak perempuannya. Di lingkungan keluarga yang eksentrik, Charlie dan Isabelle tumbuh menjadi kakak-beradik yang “aneh” dan liar. Pemujaan George terhadap Isabelle saat itu membuat apa yang dilakukan para pelayan di rumah besar itu berjalan sesuai keinginan Isabelle yang saat itu masih berusia tiga tahun. Semuanya menjadi kacau balau. Satu demi satu pelayan mulai mengundurkan diri. Hanya Missus, pelayan setia keluarga itu yang bertahan. Keluarga itu semakin dikucilkan. Charlie yang saat itu mempunyai kebiasaan aneh menyakiti orang-orang yang ada di rumah, mulai kehabisan korban. Awalnya Charlie mengincar Isabelle, tapi ternyata Isabelle juga bisa jadi teman yang asik dalam melakukan kebiasaan aneh itu.

Hingga suatu saat, George Angelfieldpun mati. Mati di dalam perpustakaan.

Pernikahan Isabelle dengan Rolland March, anak dari keluarga yang juga kurang lebih aristokrat membuatnya melahirkan dua anak perempuan kembar. Keduanya di bawa Isabelle ke rumah dan menemui Charlie saat Rolland mati karena pneumonia.

Adeline dan Emmeline, kedua anak kembar itu juga tumbuh liar di keluarga itu. Saat-saat itulah, beragam orang-orang hadir. Orang-orang yang diinginkan, atau bahkan tidak diinginkan. Dokter Maudsley, dokter Keluarga Angelfield dan John Digence atau John-the-Dig, si pengurus kebun yang baik hati yang sudah berada lama di rumah besar Angelfield. Lalu datanglah Hester, sang guru privat, yang secara drastis mengubah rumah dan Emmeline (hanya Emmeline) menjadi lebih baik.

Ada kehadiran, ternyata ada lebih banyak kematian dan rasa kehilangan. Itu semua terjadi seiring dengan tumbuhnya kedua gadis kembar Angelfield.

Sementara itu, Margaret tenggelam dalam kisah Vida yang terpotong-potong. Perlahan-lahan cerita kelam itupun tersingkap. Hubungan-hubungan yang tak terduga antara masa kini dan masa-masa dalam cerita mulai bermunculan. Keduanya juga memulai keharusan menghadapi hantu-hantu aneh yang selama ini membayangi kehidupan keduanya. Sampai cerita selesai.

Cerita selesai, diakhiri dengan kematian. Dan Margaret bangun dari ketenggelamannya. Ia kembali hadir di permukaan hidupnya dan meluruskan segala hal dengan keluarganya. Tentang ia sendiri, ayahnya, ibunya, dan saudara kembarnya!

Semua itu diceritakan penulis dengan detail. Plotnya tidak biasa. Tapi penulis bisa menggambarkan semua itu dengan menyenangkan, terperinci, dan ada bagian-bagian yang berusaha dibuat mengejutkan, berhasil mengejutkan pembaca. Buku ini bisa bagiku seperti penggabungan antara cerita-cerita detektif, thriller, dan horror.

Sejauh ini, saya baru baca buku ini sekali, wajah-wajah Keluarga Angelfield yang aneh itu tersusun dan masih tersimpan rapih di benak sebagai imajinasi yang menurut saya paling keren dari buku ini. Karakteristik mereka yang saya bayangkan seperti keluarga-keluarga penyihir pengguna voodoo yang dibayangkan dengan pakaian khas abad pertengahan yang bergaya vintage, jadi idola baru buat saya. Sampai suatu saat saya berharap akan bertemu langsung dengan mereka. Dan imajinasi saya pun buyar…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s