Reinkarnasi


Eady tahu persis bahwa ada yang salah dengan dirinya selama lima belas tahun ia hidup di dunia ini, di London, bersama kedua orangtuanya. Tapi ia tidak pernah sengaja mencari tahu apa penyebabnya. Eady hanyalah seorang remaja perempuan. Wajahnya yang khas Irlandia tampak cantik, sesuai dengan rambut pirang panjangnya. Secara fisik, ia tidak berbeda dari remaja-remaja seusianya. Meskipun orang-orang disekitarnya, termasuk orang tuanya, menganggap ada yang berbeda dengan tingkah lakunya. Tapi yang penting, ia merasa nyaman dengan kehidupannya. Suatu malam, Eady tiba-tiba merasa haus. Maklum, beberapa menit sebelum terbangun, seperti biasa, Eady memimpikan tentang tempat yang paling dirindukannya. Tempat yang membuatnya ingin pulang. Cahaya bulan pun menemani langkah Eady menuruni tangga menuju dapur. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara percakapan kedua orang tuanya. Sesekali, Eady mendengar isakan ibunya. Tapi ia tetap melangkah menuju lemari, bersikap seakan tidak peduli. Ia ingin segera menenggak minuman, kembali ke kasur empuknya, dan melanjutkan kembali mimpinya. Tiga teguk air putih sudah cukup membuat tenggorokannya terhibur. Sesaat sebelum menaiki tangga, ia menghentikan langkahnya dan membuka telinganya lebar-lebar. Tidak salah lagi. Namanya disebut-sebut oleh orang tuanya. “Itulah yang harus kita banggakan dari Eady. Tidak ada yang salah dengannya. Memang, kecerdasannya lebih dibandingkan dengan anak-anak seumurnya, pengetahuan yang dimilikinya tidak seperti anak-anak lain. Tapi percayalah, itu hanya sebatas kelebihan, semua orang memiliki hal itu!” Suara ayahnya terdengar meyakinkan lawan bicaranya dengan suara berbisik “Dengar, kedua orang tua kau dan aku berasal dari Irlandia, sejak Eady kecil, ia tinggal di sini, di London. Tapi lebih dari seratus kali kita dengar dari mulutnya bahwa ia ingin kembali pulang ke tempat asalnya. Aku yakin ada yang salah…” Ibunya terdengar menjawab dengan suara yang juga berbisik. Lalu tak terdengar lagi jawaban dari ayahnya. Hening. Eady mulai merasa kakinya pegal berdiri di tepian tangga itu. Sambil tetap memasang telinga, ia melangkah menjauhi asal suara. “Dan apa kau juga akan mengatakan kelebihannya adalah hal yang wajar saat ia terus menerus berkisah tentang Mesir Kuno saat dinasti Firaun Seti I dan kehidupan di sekitar kuil Mesir Kuno lengkap dengan ukiran-ukiran di temboknya?! Itu seribuan tahun sebelum masehi. Aku bangga, tapi, yakinilah, itu bukan anak kita yang sesungguhnya…” Tapi Eady sekali lagi bersikap seolah tak peduli. Ia merebahkan dirinya di kasur, memejamkan matanya, dan kembali bermimpi tentang dirinya, dan tentang tempat tinggalnya… Keesokan harinya, saat aktifitas penduduk London mulai menjadi sibuk, Eady dan orang tuanya berjalan kaki menikmati Kota London dan hari liburnya. Suasana kota sangat berbeda dengan hari-hari saat Eady berangkat sekolah. Keingintahuannya yang besar akan literatur dan ilmu-ilmu Mesir Kuno membuatnya hanya duduk dan membaca di kamar. Keramaian yang berlebih membuatnya sedikit kaget. Trotoar semakin padat ketika alunan permainan gitar atau biola pengamen di sudut-sudut jalan membuat para pejalan kaki mengerubunginya. Di tengah-tengah kerumunan, Eady berlari-lari kecil. Ia melihat tempat tujuannya sudah di depan mata. Orang tuanya hanya saling berpandangan dan tersenyum melihat tingkah laku Eady. Bangunan besar itu menyambutnya. Tangga-tangganya membentang seolah menahan pilar-pilar raksasa yang ada di atasnya. Huruf-huruf yang membentuk kata terpampang jelas. The British Museum. Eady tahu, di dalam sana, ia akan seolah pulang ke tempat tinggalnya. Di ruang pameran Mesir Kuno, Eady mulai memperlihatkan tingkah lakunya yang aneh. Ia seolah-olah menemukan sesuatu yang sangat dirindukannya. Ia menciumi patung-patung Dewa Mesir, memeluk setiap peti-peti mummy, dan wajahnya memperlihatkan mimik yang sangat bahagia. Tingkah Eady pun menjadi bahan lirikan mata pengunjung museum yang melintas di dekatnya. Sampai akhirnya ia terdiam di tengah ruangan pameran dan berkata dengan suara berat yang aneh, “Ini semua adalah bagian dari keluarga dan rumahku…” Kata-kata itu membuat orang tuanya kembali saling berpandangan dan mengingat percakapan rahasia mereka di ruang keluarga tadi malam. Saat keluar dari pintu museum, Eady tampak lelah. Tapi hari itu ia masih memiliki satu tujuan lagi, yaitu kamar sewaannya. “Aku menyusul!” Kata Eady singkat kepada ayah dan ibunya. Mereka hanya mengangguk. Mereka tahu apa yang akan dilakukan Eady. Ayah dan ibu Eady masih tetap menebak-nebak beberapa kemungkinan alasan tingkah laku aneh anaknya. Sejak usia tiga tahun tingkah laku Eady dipertanyakan. Setelah sekian lama, mereka menyadari bahwa gumaman-gumaman saat ia balita, bukanlah asal kata-kata, tetapi bahasa Mesir Kuno yang berarti sesuatu. Sambil merogoh kunci kamar sewaannya dari dalam saku mantel, Eady terus membayangkan museum yang baru dikunjunginya. Di dalam kamar, bermodalkan setumpuk kertas daur ulang berwarna coklat dan sebatang pena dan tintanya, ia menuliskan pengalamannya hari itu di museum. Seperti biasa, caranya tidak biasa, ia menuliskannya dengan hiroglif Mesir Kuno. Kemampuan yang tidak pernah dipelajarinya sama sekali. Sambil menulis, Eady tanpa sadar sudah menampung air mata di pelupuknya. Yang kemudian menetes dan jatuh ke kertas yang ada di hadapannya. Eady rindu. Rindu pada bulan yang memantul pada pasir di belakang tempat tinggalnya, membuat malam terasa semakin terang di padang pasir tempat ia biasa menikmati udara malam. Rindu pada pekerjaannya sebagai biarawati di Kuil Osiris. Rindu pada Abydos yang telah membesarkannya. Air mata yang mengalir bagai dua sungai besar semakin membanjiri pipinya yang halus. Lalu sambil membacakannya keras-keras dengan suara aslinya yang berat dan aneh, juga masih dengan isakan, di akhir catatannya Eady menulis, “Sudah tahun ke lima belas sejak pintu dimensi dari masa lalu terbuka dan aku kembali hidup di raga yang berbeda, aku rindu. Kapan aku bisa kembali lagi? Aku yakin, tempat tinggalku sekarang hanyalah sepetak puing yang hanya bisa dikenang. 1320-1200 sebelum Masehi adalah masa-masa yang sudah berlalu dan tidak bisa kulewatkan lagi. Belum lagi aku harus mengatakan tentang hal ini kepada orang tuaku yang kupastikan akan putus asa mendengarnya. Menyenangkan rasanya bereinkarnasi sebagai bintang yang memantulkan sinar indah sepanjang malam. Dikelilingi sahabat-sahabat, dan tentunya aku tak akan pernah lagi turun ke bumi… ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s